Aku Melihat Keberuntungan

Aku Melihat Keberuntungan
Iri


__ADS_3

Ling Zhi menyerahkan kaca pembesar yang telah ia ambil dari laci pada Fengyin.


“Di sebelah sini, apakah anda bisa melihatnya?” kata Fengyin menunjukkan salah satu sisi batunya pada Ling Zhi.


Ling Zhi mengambil kaca pembesar tadi untuk melihatnya.


“Apa yang Tuan Ling lihat adalah nadi batu yang saya bicarakan.”


“Nadi Batu yang kau bicarakan benar-benar berbentuk menyerupai akar pohon, dan itu sangat tipis sekali. Bagaimana bisa kau menemukan hal ini dengan mata telanjang, Anak Muda?”


Fengyin tersenyum kemudian menjawab apa yang ditanyakan oleh sang Penyelenggara dengan sangat percaya diri. “Saya memiliki mata yang lebih jeli dibandingkan kebanyakan orang.”


“Minggir! Biar aku melihatnya!”


Tiba-tiba Mo Chu menyela kedua orang yang tengah berbicara itu, dia mengambil Kaca Pembesar di tangan Ling Zhi bahkan sampai mendorong sang Penyelenggara dari tempat ia berdiri.


Mo Chu mengamatinya dengan baik, dan dia benar-benar menemukan apa yang dibicarakan oleh Fengyin.


“Tidak, tidak mungkin. Nadi Batu yang dibicarakan oleh anak ini hanya sebuah omong kosong, sesuatu seperti itu tidak mungkin ada.”


Melihat reaksi cemas Mo Chu membuat semua orang semakin yakin, kalau apa yang dikatakan oleh Chao Fengyin adalah sesuatu yang benar.


“Jadi Nadi Batu itu memang ada. Kenapa tidak ada yang menyadari tentang itu?”


“Bahkan Tuan Mo Chu yang katanya ahli saja tidak tau.”


“Bukan tidak ada yang menyadarinya,” sela Fengyin.


“Hanya saja semua orang kebanyakan tidak tau garis apa itu ketika melihatnya. Kalian pasti berpikir saat melihat Nadi Batu..., Kalian menganggap garis-garis itu sebagai goresan kecil yang terbentuk karena batunya mengalami gesekan saat diangkut ataupun diambil.”


“Karena itu kalian menganggap hal itu biasa. Padahal ada cara membedakan garis goresan dan garis dari Nadi Batu. Garis goresan itu cekung, sedangkan nadi batu itu cembung. Kalau kalian melihatnya sekilas, tentu sulit untuk membedakannya.”


Semua orang yang mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Fengyin pun menganggukkan kepalanya.


“Jadi begitu, pantas saja. Selama ini aku melihat garis goresan yang ada di batu itu sebagai sesuatu yang biasa.”


“Kalau nadi batunya bersembunyi diantara banyaknya goresan..., Mencarinya saja sudah seperti mencari jarum di tumpukan jerami, kan?”


“Itu benar! Bukankah menemukan Harta Karun sudah sepatutnya sulit? Kalau hal itu dapat ditemukan dengan mudah, maka bukan harta lagi namanya, melainkan barang grosiran,” kata Chao Fengyin.

__ADS_1


Tukang Pembelah Batu mendekati Chao Fengyin, “Tuan..., Terimakasih karena anda mau membagikan pengetahuan anda terhadap kami, sekarang kami semua dapat belajar. Suatu kehormatan untuk bertemu dengan anda,” sang Tukang mengulurkan tangannya.


Fengyin menjabat tangan Tukang Pembelah Batu dengan ramah, “Ilmu itu memang sepatutnya untuk dibagikan, tidak seperti uang..., Ilmu adalah sesuatu yang bisa bertahan selamanya.”


“Terkadang kebijaksanaan memang tidak memandang usia,” ucap Tukang Belah Batu, dia tersenyum sambil melirik Mo Chu seolah dirinya menyindir Pria tua itu dengan sengaja.


Mo Chu hanya bisa menatap kecut setelah tak ada seorang pun yang akan berpihak untuk mendukungnya.


Melihat bagaimana Fengyin diperlakukan begitu hormat sudah cukup untuk menandakan kalau Mo Chu sudah tersisihkan.


“Tuan Chao..., Kalau boleh saya bertanya, bagaimanakah anda akan membelah batu milik anda? Saya penasaran karena alat milik saya saja tidak mampu menggoresnya.”


“Caranya cukup mudah, ini akan terlihat seperti memecahkan sebutir telur,” jawab Fengyin.


Siapapun pasti tercengang mendengar jawaban itu, tidak seorangpun menyangka benda yang tidak tergores oleh gergaji pembelah bisa dipecahkan dengan mudah seperti halnya sebutir telur.


“Telur sebenarnya benda yang cukup keras, seberapa kuat pun kalian meremasnya, benda itu masih cukup sulit untuk dipecahkan. Kecuali, kalian membuat retakan kecil pada permukaan kulitnya, maka hanya butuh sedikit tenaga untuk meremas telur tersebut sampai pecah.”


“Prinsip yang digunakan untuk memecahkan batu ini juga sama, kita cukup membuat sedikit retakan pada Nadi Batunya, maka berikutnya batu ini akan menjadi serapuh kulit telur.”


“Paman, apa anda mempunyai mesin las dan juga paku?” tanya Chao Fengyin.


Sang Tukang Pembelah Batu langsung memeriksa tas tempat dia menyimpan peralatannya, setelah mendapatkan benda yang Fengyin minta, pria itu segera menyerahkannya.


Fengyin memegang pangkal paku menggunakan tang, lalu dia memanaskan ujungnya menggunakan mesin las.


“Tidak perlu membakarnya terlalu lama agar ujung lancipnya tidak meleleh saat dipukul.”


“Paman, sekarang letakkan kembali batu saya pada penyangga, saya akan segera memecahkannya.”


“Tentu, ini adalah metode yang belum pernah saya ketahui sebelumnya, saya jadi belajar banyak dari anda, Tuan.”


Bowen dan Mayleen mendekat, mereka tampak begitu penasaran pada prosesnya.


“Sodara Feng..., Dimana letak nadi batu yang kau katakan?” tanya Bowen sembari memicingkan matanya.


Bahkan Mayleen yang menelisik dengan teliti pun tidak dapat melihatnya secara langsung.


“Titik yang akan aku pukul adalah tempat nadi batu itu berada, saat salah satu nadi batu hancur, maka kesatuannya akan melemah. Hal itu membuat batu yang sangat padat ini jadi mudah untuk dihancurkan.”

__ADS_1


Bowen hanya bisa mengumpat takjub dalam hatinya, dia berpikir bagaimana bisa Sodara Feng nya itu melihat tanpa memicingkan mata dan memastikan titik pukulnya dengan yakin.


Seberapa tajam mata yang dimilikinya sampai mampu melirik sesuatu yang lebih tipis dari helaian rambut?


Takk!!! Krtteekk..., Batu yang tak dapat digores dengan gergaji pembelah retak begitu titik lemahnya dipaku.


“Ya ampun!! Cara itu benar-benar berhasil. Ini luar biasa!” ucap takjub Tukang Belah Batu yang menyaksikan hal itu dari dekat.


Semua orang mendekat penasaran begitu mendengar suara retakan tadi.


“Apa benar ada harta di dalamnya?!”


“Minggir! Minggir! Biar aku melihatnya juga!”


Sebelum Fengyin menyaksikan para penonton yang penasaran membuat keributan, dia segera mengangkat batunya tinggi-tinggi untuk memperlihatkan hasil belahnya.


Fengyin tersenyum dengan begitu yakin, retakan pada batu semakin besar begitu dia meremasnya, lalu cahaya kehijauan yang sebelumnya ia lihat pun terpancar dari batu tersebut. Semua orang bisa melihat kemilau hijau yang begitu indah dari Mineral Langka yang terpendam di dalamnya.


“Muncul! Akhirnya sebuah harta benar-benar muncul malam ini!”


“Anak muda itu berhasil menemukan sesuatu yang indah di dalamnya.”


“Sekarang semua terbukti, anak muda itu mengatakan yang sebenarnya.”


“Kalau begitu..., Bukankah dia bisa dibilang lebih ahli dari Tuan Mo?”


“Tidak, kalian salah. Tuan Mo yang tidak lebih ahli daripada anak muda itu. Hahaha..., Lucu saja melihatnya berlagak angkuh di tempat ini, ternyata yang ia sebarkan lewat mulutnya hanya omong kosong.”


Mo Chu sepenuhnya kehilangan harga diri, orang-orang yang harusnya bersorak untuk dirinya kini berpaling, dan tak ada sedikitpun penghormatan yang dia terima, melainkan tawa yang meledek dan juga cemoohan.


‘Sial! Benar-benar sial! Ini semua ulah bocah itu. Jika bukan karena dia, mana mungkin aku akan dipermalukan seperti ini?!’


‘Ini tidak boleh terjadi, aku akan menghancurkan batu itu dan memperlihatkan pada semuanya, sesuatu yang mereka lihat sebagai Mineral Langka sebenarnya adalah keramik yang begitu rapuh!’


Mo Chu berlari, pria tua itu merebut batu di tangan Fengyin dengan paksa.


“Pak Tua ini!!” tanggap Bowen melihat batu milik sodaranya direbut.


Saat Bowen berusaha merampasnya kembali dari tangan Mo Chu..., Batu tersebut sudah jatuh terbanting.

__ADS_1


__ADS_2