
Saat perjalanannya ke luar, Fengyin tidak sengaja melewati lapangan sepak bola. Disana dia melihat sekumpulan gadis sedang mengobrol, tapi bukan hal itu yang membuatnya tertarik untuk melihat kesana.
Warna merah.
Selama ini Fengyin selalu melihat warna hijau yang muncul hanya di depan matanya, warna hijau menandakan suatu keberuntungan, jika itu merah..., Maka sudah pasti hal itu menandakan hal yang sebaliknya.
Fengyin segera menghampiri sekumpulan gadis yang ia lihat sedang duduk di tepi lapangan, tepatnya salah satu gadis dengan warna merah di bawah telapak kakinya.
“Hei, kurasa tidak sebaiknya kau berdiri disana,” kata Fengyin.
Para Siswi itu melihat ke arahnya dengan serempak, Fengyin bahkan tidak sadar kalau ada Liu Mayleen diantara Siswi-siswi itu.
“Chao Fengyin? Kenapa dia kemari? Apa dia mengawasi kita?”
“Ya ampun, serem juga kalo pas dibicarain tiba-tiba orangnya muncul.”
Lirih pada gadis itu.
Liu Mayleen mengarahkan tatapan tajamnya pada Fengyin, namun pemuda itu terlihat tidak memperhatikannya.
‘Apa yang ingin kau lakukan dengan terang-terangan seperti ini, Chao Fengyin?’ tanya Liu Mayleen dalam benaknya.
Fengyin, melangkah semakin dekat karena siswi yang dilihatnya tidak mau beranjak dari tempat ia berdiri.
“Kenapa aku tidak boleh berdiri disini?”
Brakkkk!!! Fengyin menahan sebuah bola yang terbang hendak mengenai kepala siswi itu, wajahnya dan wajah siswi di depannya saling berhadap-hadapan, begitu dekat hingga sejengkal bisa membuat keduanya saling bersentuhan.
“Inilah mengapa aku tidak mau kau berdiri disini.”
Dari lapangan seseorang berseru. “Kawan!! Maafkan kami! Apa kalian baik-baik saja?”
Fengyin melewati gadis di depannya sambil melemparkan bolanya kembali ke lapangan. “Aman! Semuanya baik-baik saja.”
__ADS_1
Setelah melihat tanda merah itu menghilang Fengyin segera beranjak pergi begitu saja, padahal para gadis disana berpikir kalau Fengyin sebenarnya hendak menggoda mereka, tapi jelas dari apa yang mereka lihat kalau semuanya hanya sebuah kesalah pahaman.
“Sodara Feng! Kau disana, ya ampun kami semua mencarimu. Ada kabar baik yang ingin kami bagikan!”
“Bowen? Haa..., Sudah kubilang padanya untuk tidak memanggilku sodara di depan umum, rasanya masih terdengar aneh di telinga,” gumam Fengyin.
Dia segera menghampiri Zhao Bowen dan kawan-kawannya yang tampak mencari Fengyin, meninggalkan para Siswi yang berkumpul dengan ratusan tanda tanya.
“Jantungku rasanya mau copot, aku tidak sengaja menatap langsung ke arah matanya. Dan dia, dia..., Dia benar-benar tampak keren di mataku. Ahh... Ini kacau!” ujar seorang siswi yang kepalanya nyaris tertabrak bola nyasar.
“Dia berlari dengan cepat dan mencegah bola tadi mengenaimu, bagaimana caranya menyadari benda itu akan datang? Dia punya intuisi yang baik, dan yang aku lihat..., Fengyin sama sekali tidak terlihat seperti seorang pria mesum.”
“Apa kita semua sebenarnya sudah salah paham pada pria itu selama ini? Bahkan saat ada Mayleen duduk disini, dia sama sekali tidak memperhatikannya.”
“Ya ampun..., Padahal ada seorang Dewi Kecantikan di tempat ini, tapi dia sama sekali tidak menaruhnya di matanya. Mayleen.., apa pesonamu tidak berhasil pada orang itu?”
“Hehe..., Ternyata ada juga orang yang bisa mengabaikan kecantikan Mayleen, kurasa Chao Fengyin mulai terlihat menarik.”
Entah kenapa Liu Mayleen merasa sebal karena ucapan teman-temannya.
‘Tunggu? Bukankah bagus kalau dia sudah tidak tertarik lagi ya? Pria stalker itu. Tapi..., Kenapa rasanya menyebalkan sih?’
***
Zhao Bowen, Su Mu, Xi Qin, dan Ge Hong. Mereka berempat akhir-akhir ini terlihat sering bersama dengan Fengyin saat di sekolah, grup preman SMA itu sudah terlihat seperti kedatangan member baru dengan bertambahnya Fengyin di dalamnya.
Seluruh siswa di kantin tidak bisa melepas pandangan mereka pada kelimanya.
“Sodara Feng! Berkat saranmu aku berhasil mendapatkan kembali uangku, aku juga memeras... Ah! Maksudku meminta kompensasi karena sudah ditipu olehnya,” kata Bowen.
Fengyin tersenyum getir, dia tidak mau mengetahui lebih detail karena mendengar Bowen baru saja keceplosan, dia pasti menagih uangnya dengan cara yang tidak sederhana.
“Hiyaa..., Baru kali ini aku tidak merasa buruk karena telah ditipu, aku malah ditimpa keberuntungan haha!”
__ADS_1
“Fengyin, makanlah yang banyak. Kau bisa pesan lagi jika mau, Bos Bowen benar-benar mendapatkan banyak uang karena saran darimu,” kata Xi Qin yang kebetulan duduk di sebelah Fengyin.
‘Ughh..., Terdengar seperti aku telah memberikan saran yang buruk,’ dalam hati Fengyin.
“Bicara mengenai keberuntungan..., Nanti malam akan diadakan bazar judi,”
“Bazar Judi?” tanggap Fengyin, tentunya dia bingung kenapa sebuah Bazar Judi bisa diselenggarakan, apalagi tercantum nama yang ilegal pada namanya.
“Ini tidak seperti yang kau pikirkan Sodara Feng, Bazar Judi yang diadakan itu hanya menjual batu-batu saja. Siapa yang beruntung membeli batu yang dikumpulkan disana, katanya mereka akan mendapatkan giok atau Jamrud. Tapi peluangnya kecil sekali, karena itulah orang-orang menyebutnya sebagai kegiatan berjudi.”
“Tentu saja ini sudah di legalkan,” imbuh Bowen yang kemudian mengunyah makanan yang dipegangnya.
“Kita bisa mendapatkan lebih banyak uang kalau berhasil menemukan logam mulia di dalam batu yang kita beli.”
Setelah mendengarnya Fengyin jadi terlihat begitu antusias, jika dia bisa mengandalkan keajaiban yang ditunjukkan oleh matanya, maka bukanlah hal yang mustahil baginya untuk dapat menemukan logam mulia yang tersembunyi di dalam batu.
“Sodara Feng..., Apa kau tertarik? Kau terlihat bersemangat untuk ini, benarkan?”
“Ya, sejujurnya itu terdengar menarik. Pasti menyenangkan jika kita bisa menjadi salah satu orang yang beruntung menemukan logam mulianya,” jawab Fengyin.
“Sudah diputuskan! Kalau begitu nanti malam kita berlima akan pergi ke Bazar Judi!” ujar Bowen sambil menggebrak meja.
Su Mu, Xi Qin dan Ge Hong juga langsung mengangguk dengan setuju, mereka tak kalah antusiasnya dengan Zhao Bowen.
‘Berlima ya? Apakah itu artinya mereka juga mengajakku?’ dalam benak Fengyin ragu.
“Fengyin, kenapa kau diam saja? Ku pikir kau tertarik,” kata Su Mu.
“Apa kau tidak akan ikut? Padahal aku sempat berpikir kalau kita akan mendapatkan keberuntungan bila mengajakmu kesana, kau kan memiliki intuisi yang baik dalam mengenali suatu benda. Yah..., Meskipun aku tidak tau apakah intuisimu akan bekerja pada sebongkah batu sih,” tambah Ge Hong.
Kawan-kawan Fengyin yang lain melihat ke arahnya penuh harap, mereka semua ingin Fengyin mau pergi bersama ke Bazar itu.
“Jika kalian tidak keberatan aku ikut kesana, maka mari kita pergi bersama ke Bazar Judi.”
__ADS_1
“Yeay!!!” sorak Bowen dan yang lain menanggapi apa yang dikatakan oleh Fengyin.
‘Bazar Judi kah? Semoga aku menemukan sesuatu yang sangat hijau di tempat itu.’