
Beberapa hari kemudian.
Saat jam istirahat sekolah, Liu Mayleen dan para gadis duduk di tepi lapangan sepak bola, menonton sambil bercerita. Setelah beberapa Senda gurau diobrolkan, topik tiba-tiba beralih pada pembahasan tentang Fengyin yang sampai saat ini masih hangat untuk diperbincangkan.
“Apa kalian tau? Sejak Zhao Bowen mengakui Chao Fengyin sebagai teman terbaiknya, pandangan siswa lain terhadap Chao Fengyin jadi berubah seratus delapan puluh derajat.”
“Benar, anak kelas sepuluh dan sebelas memanggil Chao Fengyin dengan sebutan senior, mereka bahkan membungkuk memberi hormat pada Chao Fengyin begitu pria itu lewat.”
“Cara anak-anak memperlakukannya sama seperti mereka memperlakukan Zhao Bowen.”
“Yah..., Itu sih wajar. Zhao Bowen kan preman nomor satu di sekolah ini. Memangnya siapa yang berani macam-macam pada pria itu?”
Liu Mayleen hanya mendengarkan teman-temannya bercerita tanpa terlihat antusias seperti yang lain. Dalam hati dirinya masih meras tidak nyaman karena tumor tentang Chao Fengyin yang melibatkan dirinya.
“Hei..., Kalian sadar gak sih? Kantung mata hitam Chao Fengyin yang terlihat seperti mata panda itu sudah sembuh. Tatapannya terasa lebih hangat dari sebelumnya.”
“Eh? Kamu ngerasa gitu juga ya? Kukira hanya perasaanku saja. Aku merasa ada yang berbeda dari Chao Fengyin yang biasanya terlihat suram itu. Ah... Jadi itu karena tatapannya.”
“Kupikir Chao Fengyin lumayan keren, dia tidak terlalu banyak bicara. Namun saat ada waktu ucapannya dibutuhkan, dia bisa dengan mudah meyakinkan orang lain dengan omongannya.”
“Ya ampun, Xiao Rou..., Apa kau baru saja memuji Fengyin? Jangan-jangan kau mulai suka padanya.”
“Ishh... Rumor yang mengatakan bahwa dirinya adalah Stalker cabul masih beredar loh.”
“Ngomong-ngomong..., Kemana Chao Fengyin pergi begitu bel istirahat berbunyi? Adakah dari kalian yang penasaran?”
Yang jelas Chao Fengyin tidak sedang menguntit orang lain saat ini, pemuda itu sedang duduk di depan meja wali kelasnya setelah mengisi Borang Rencana Masa Depannya. Dengan wajah tegas yang memantapkan keyakinan, Fengyin menyodorkan secarik kertas kosong yang sebelumnya dia bingung ingin mengisinya dengan apa.
“Saya sudah menentukan rencana saya setelah lulus dari sekolah ini, Wali Kelas Wang.”
__ADS_1
“Oh! Sebelumnya kau terlihat tidak tau arah dan sangat tidak antusias. Tapi lega melihat matamu yang berapi-api sambil menyerahkan kertas yang sudah kau isi. Jadi..., Rencana yang akan kau lakukan untuk masa depanmu adalah...,”
Wang Fuhai melihat ke arah Borang yang diserahkan Fengyin sembari memicingkan mata, tepat begitu Wang Fuhai membacanya dalam hati, suara Fengyin berbarengan mengirinya.
“Saya ingin menjadi seorang kolektor barang antik!”
Wang Fuhai terkejut, dia sudah membaca semua Borang yang dikumpulkan murid-murid di kelasnya. Kebanyakan dari mereka memilih untuk melanjutkan sekolah mereka ke perguruan tinggi sebagai karir masa depannya, atau bekerja meneruskan usaha orangtua mereka.
Tapi..., Seorang Kolektor Barang Antik? Wang Fuhai baru mendengarnya.
“Kenapa harus seorang Kolektor Barang Antik?”
“Hehe..., Saya merasa pekerjaan itu tidak memerlukan ijazah yang tinggi. Saya juga bisa melakukan pekerjaan itu kapanpun tanpa kekangan orang lain,” sahut Fengyin, dengan polosnya dia tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.
“Maafkan aku Feng, apa keputusan ini kau ambil karena keadaan dalam rumahmu?”
Wang Fuhai menatap anak itu dengan mata yang memperlihatkan keprihatinan, orangtua Chao Fengyin meninggal saat dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar karena sebuah kebakaran.
“Kalau kau butuh Beasiswa, bapak bisa mengusahakannya untukmu. Lagipula kau siswa yang cukup berprestasi, kan? Meskipun terlihat agak suram.”
“Apa yang Wali Kelas Wang maksud dengan terlihat agak suram? Ya ampun..., Wali Kelas Wang ada-ada saja.”
“Tapi..., Terimakasih karena Wali Kelas Wang sudah peduli pada saya. Saya benar-benar bersyukur mempunyai guru seperti Wali Kelas Wang,” imbuh Fengyin.
Ucapan anak muda itu membangkitkan kenangan masa lalu, saat itu adalah tahun pertama Fengyin menginjakkan kakinya di sekolah itu. Wang Fuhai yang baru menjabat sebagai seorang guru masih memiliki tugas yang sepele seperti menjaga gerbang sekolah di pagi hari untuk melihat kerapian para siswa.
Fengyin yang saat itu tidak mengenakan sabuk pernah diomeli habis-habisan oleh Wang Fuhai, tapi kemudian Wang Fuhai membelikan sabuk yang murah pada murid itu keesokan harinya.
Saat Wang Fuhai melihat sabuk itu masih melekat pada pinggang muridnya, sesuatu menyentuh hati Wang Fuhai.
__ADS_1
‘Benda itu..., Kenapa masih terlihat sangat bagus meskipun sudah barang lama? Apa anak ini merawatnya selama ini?’ ucap Wang Fuhai dalam benaknya.
“Sial, sudah tiga tahun ya. Waktu berlalu dengan cepat, tidak terasa akan tiba waktunya untukku melepaskan para murid-murid lagi. Haaa...,”
“Fengyin..., Apapun yang akan kau lakukan kedepannya, percayalah Bapak akan selalu mendoakanmu. Lakukan yang terbaik..., Dan ingat, apapun yang kau lakukan..., Selalu berjalanlah di jalan yang baik, jangan putus asa walaupun jalan itu tidak mudah.”
Fengyin menganggukkan kepalanya, dia segera beranjak dari kursi kemudian membungkukkan badannya di depan Wang Fuhai.
Tindakan yang tiba-tiba itu membuat Wang Fuhai terkejut sehingga dia hanya bisa melihat untuk memperhatikannya saja.
“Wali Kelas Wang, atas jasa anda dan kasih sayang anda selama ini. Murid Chao Fengyin! Kelas XII - 3! Mengucapkan terimakasih yang sangat besar dengan setulus hati.”
“Terimakasih! Terimakasih! Terimakasih!!” seru Fengyin, anak itu membungkuk sebanyak dirinya berterimakasih.
Semua guru yang menyaksikan hal itu memegangi dada mereka, apa yang Fengyin lakukan adalah upacara yang biasanya dilakukan para murid untuk mengenang jasa guru saat acara lepas pisah.
Semua murid diwajibkan membungkukkan badan mereka dengan hormat karena keharusan, tapi hari ini..., Para guru melihat ada seorang murid yang benar-benar tulus melakukan hal tersebut.
Jelas mereka semua tersentuh melihatnya.
Wang Fuhai tak dapat menahan perasaannya, seketika bibirnya gemetar. Dalam situasi ini dia ingin mengucapkan sesuatu, tapi rasanya mulutnya sangat susah untuk digerakkan. Wang Fuhai tertunduk menyembunyikan bibirnya baru dia bisa mengatakan sesuatu.
“Sudah, kan? Kau bisa keluar Fengyin,” kata Wang Fuhai, sambil mencampurkan Borang milik Fengyin dengan Borang teman-teman sekelasnya.
Wang Fuhai membelakangi anak muda itu sambil merapikan kertas, sang Wali Kelas mencoba untuk menyembunyikan linang air yang berada di sudut matanya.
Saat Fengyin keluar dari ruangan itu, seluruh rekan sesama guru Wang Fuhai pun bertepuk tangan dengan meriah. Bahkan para guru perempuan menitihkan air mata melihat pemandangan tadi.
“Bapak benar-benar melakukan tugas anda sebagai seorang guru dengan luar biasa. Selamat yang Guru Wang!”
__ADS_1
Wang Fuhai tersenyum, air mata yang sempat ia tahan pun akhirnya jatuh juga.
“Terimakasih, terimakasih.”