Aku Melihat Keberuntungan

Aku Melihat Keberuntungan
Keberuntungan


__ADS_3

Tabir kewaspadaan seorang Liu Mayleen menjadi lebih tebal dua kali lipat, itu semua karena seorang pria tenang yang sedang berjalan beriringan dengannya. Obrolan santai tanpa sepatah kata omong kosong membuat Mayleen begitu nyaman.


Dia selalu menginginkan seorang teman pria, tapi begitu ada pria yang mendekatinya, ucapan pertama yang diucapkan adalah sanjungan, kemudian rayuan, lalu..., Maksud terselubungnya pun terlihat.


Karena itu Mayleen sangat membenci pria yang menyanjungnya.


Sorot mata Fengyin teralihkan ke arah lain, padahal seorang wanita cantik sedang berjalan jelas di sebelahnya. Tidak sekalipun dia mencoba mencuri pandang, meskipun banyak kesempatan bagi pria itu untuk melakukannya.


Liu Mayleen pun tersenyum dengan amat manis, dan pria itu menjadi alasan dia melakukannya.


‘Haa..., Aku pasti sudah gila. Bagaimana bisa aku membiarkan seorang pria berhasil membuatku tersenyum?’


“Baiklah.”


“Apanya yang baiklah?” sahut Fengyin karena Mayleen yang tiba-tiba bicara setelah beberapa waktu memilih untuk berdiam.


“Maksudku aku akan mengatakan padamu alasan mengapa aku mendatangi Bazar Judi. Jadi..., Aku sangat tertarik dengan yang namanya keberuntungan. Bazar Judi adalah tempat bagi orang-orang untuk mencari keberuntungan.”


“Bagaimana dengan kuil tempat peribadatan? Aku jadi merasa bersalah pada biksu kalau kau mengatakannya seperti itu,” sahut Fengyin.


“Isshh!! Aku serius kok malah dibecandain sih?!”


“Apa aku bercanda?”


Wajah Mayleen bersemu menahan tawa, tapi Fengyin juga mengatakannya dengan serius, wajahnya terlihat datar tanpa memperlihatkan maksud bercanda sedikitpun, dan itu malah menambah kelucuan dari ucapannya.


‘Pria ini benar-benar deh, dia bisa membuatku dengan tersenyum dan tertawa dengan mudahnya. Haa..., Aku memang harus berhati-hati.’


Tanpa sadar Mayleen sudah menghela nafas beberapa kali semenjak dia mengobrol dengan Fengyin.


“Nona Liu..., Keberuntungan macam apa yang kau cari di Bazar Judi?”


“Apapun, aku tidak peduli pada hadiahnya. Asalkan aku menang..., Itu sudah cukup.”

__ADS_1


Mayleen menceritakan masa kecilnya, jadi dia selalu merasa iri pada orang-orang yang mendapatkan keberuntungan melalui undian, tawa dan kebahagiaan mereka saat mendapatkannya membuat Mayleen ingin merasakan hal itu juga.


Euforia yang asing, bagaimana jika aku berada dalam posisi orang beruntung itu?


Padahal selama ini dia sudah beruntung karena terlahir dari Keluarga Orang Kaya, hadiah apapun yang orang lain menangkan melalui undian bisa didapatkannya dengan mudah hanya dengan meminta pada kedua orangtuanya.


Tapi entah kenapa perasaan bahagia yang dia dapatkan amat berbeda.


Karena itulah Liu Mayleen sangat terobsesi terhadap undian, sayangnya..., Dia tidak memiliki cukup Keberuntungan untuk menang sampai hari ini.


“Aku pernah membeli kotak mainan yang di dalamnya berisi sebuah karakter langka, enam dari tujuh kotak yang aku ambil, semua berisi karakter biasa yang memiliki bentuk serupa.”


“Sedangkan satu kotak tersisa yang diambil orang lain mendapatkan karakter langkanya, pilihanku selalu meleset dari keberuntungan. Dan hal itu tidak terjadi hanya sekali.”


“Hebat juga kau tidak putus asa sampai sekarang,” puji Fengyin.


“Tentu saja! Aku tidak akan putus asa sebelum berhasil memenangkan salah satu undian.”


“Aku merasa kau akan beruntung hari ini,” kata Fengyin.


“Hanya sekedar intuisi, tapi kau tau aku memiliki intuisi yang tajam kalau menyangkut keberuntungan, kan?”


“Haha! Ku harap begitu, terimakasih Fengyin..., Perkataanmu membuatku semakin optimis. Malam ini aku pasti akan memilih suatu keberuntungan!” Liu Mayleen mengepalkan tangannya dengan semangat.


***


Judi batunya sudah dimulai, disana Zhao Bowen dan yang lain telah menunggu dan menyisikan tempat yang nyaman untuk menyaksikan acara itu berlangsung.


“Sodara Feng! Nona Liu! Disini!” Bowen melambaikan tangannya memanggil Fengyin dan Mayleen dari kejauhan.


Keduanya segera menghampiri Bowen, melewati keramaian itu sampai ke baris depan. Setelah begitu dekat, Bowen dan yang lain merasakan hal yang berbeda pada dua orang yang baru saja pergi bersama.


Keduanya terlihat semakin akrab jika melihat Mayleen yang tidak lagi menjaga jarak dari Chao Fengyin seperti sebelumnya.

__ADS_1


‘Apa yang terjadi?’ pikir keempat pemuda itu.


‘Wanita yang dikenal tidak bisa dirayu dan di dekati oleh para pria, malah terlihat nyaman bersama Chao Fengyin? Rayuan macam apa yang berhasil membuat Nona Liu berubah?’


“Apa sudah ada yang membuka batunya?” tanya Mayleen antusias.


Keempat orang itu tersadar. “Oh! Kalau itu baru ada satu orang yang sudah memilih batu, dia akan segera membukanya.”


Harga Batu yang dijual di Bazar itu berkisar antara 100 sampai 500 Yuan, tergantung pada volume besar kecilnya Batu. Biaya untuk membongkar isinya tidak termasuk, untuk membuka apakah batu itu berisi giok atau tidak diperlukan 50 Yuan tambahan.


“Batu yang di pilih oleh Paman itu cukup besar,” kata Fengyin, dia tidak merasakan ada tanda hijau yang terpancar dari batu yang ia lihat.


“Paman itu membelinya dengan harga 200 Yuan, aku penasaran apakah benar-benar ada mineral mulia yang terkandung di dalamnya,” kata Bowen.


“Buka! Ayo dibuka! Aku bisa merasakan aura giok di dalam batu itu, tanganku gemetar saat aku memilihnya! Aku yakin kali ini pasti giok!!” seru Paman di depan dengan penuh percaya diri.


Semua orang melihat dan bersorak ke arahnya.


Batu yang Paman itu pilih mulai diletakkan di bawah alat pemotong batu, wajah penasaran orang-orang makin terlihat. Semua maju berdesakan untuk melihat apa yang akan terjadi, dan saat batunya mulai terbelah...,


“Tidak ada apapun di dalamnya, sepertinya anda kurang beruntung, Tuan,” kata orang yang bertanggung jawab memotong batu.


Semua orang tertawa, padahal pria yang membeli batu itu begitu percaya diri memamerkan batu besar yang ia beli, tapi itu hanyalah bongkahan batu.


“Tidak mungkin! Tanganku gemetar saat memilihnya, aku merasa seperti ada aliran listrik yang menyengat ujung jariku. Pasti ada sesuatu di dalamnya. Coba kau belah sisi yang lain juga.”


“Itu mungkin akan mengambil beberapa biaya tambahan, apa tidak masalah?”


“Ya! Ya! Lakukan, aku mampu membayarmu berpapun biayanya,” kata Paman itu keras kepala.


Batu yang semula seukuran bola sepak terus dibelah sampai sekecil potongan tahu, tapi tidak terlihat adanya mineral mulia yang terkandung di dalamnya. Akhirnya pria paruh baya itu pun menyerah, dia pulang sambil menangis kesal.


“Ahh..., Tadi saja berlagak sombong, membuang uang seolah itu bukan masalah. Tapi lihat sikapnya setelah batu itu tidak terbukti menghasilkan giok, dia menyesal kan? Hemm..., Makanya jangan terlalu sombong kalau tidak mengetahui apapun.”

__ADS_1


“Dia rugi banyak karena terlalu banyak membelah batunya, Haha. Sekali lagi penyelenggara perjudian batu adalah orang yang paling untung dalam hal ini.”


__ADS_2