Aku Melihat Keberuntungan

Aku Melihat Keberuntungan
Nadi Batu


__ADS_3

'Nadi batu? Apa yang dikatakan oleh anak muda itu? Aku sama sekali tidak mengerti apapun mengenai nadi batu, tapi jika aku menyangkal perkataannya..., Apa aku masih punya muka untuk membelah batuku lagi?’


‘Nadi batu dapat dijadikan alasan agar aku bisa membelah batunya kembali, aku hanya perlu mengatakannya agar tidak jatuh malu,’ timbang Mo Chu dalam pikirnya.


Mo Chu meminta maaf pada Tukang Pemotong Batu, dia meredakan amarahnya.


“Maaf menyalahkanmu, sepertinya aku memang lalai karena tidak memberitahukan letak nadi batunya sebelum dipotong, aku akan melihatnya kembali sebelum memintamu memotongnya lagi.”


Mo Chu menghampiri batunya yang sudah terbelah menjadi dua, meraba-raba benda itu dan berpura-pura mencari nadi batu yang dikatakan oleh Chao Fengyin.


Namun...,


‘Bagaimana cara orang menemukan sesuatu sedangkan dia tidak tau apa yang dia cari,’ dalam benak Fengyin.


“Nadi Batunya disebelah sini!” kata Mo Chu, dia mengetuk batunya menunjukkan titik tempat nadi batu itu berada, menurutnya.


Melihat hal itu Fengyin tersenyum, sekarang Mo Chu jatuh sepenuhnya ke dalam permainan yang tidak akan mungkin dia menangkan.


“Dengar, kau harus membelahnya lurus pada titik ini. Jangan sampai kau salah lagi,” dengan tidak tau malunya Mo Chu masih mau menyalahkan orang lain atas ketidaktahuannya.


Tukang Pembelah Batu itu menjadi agak kesal karena perlakuan Mo Chu, dalam hati dia berharap kalau batunya tetap kosong saja.


Treenngghh!! Batu kembali dipotong, sama halnya dengan saat yang pertama..., Batu itu terbelah begitu saja tanpa mengalami kesulitan apapun.


Lagi-lagi Mo Chu gagal membuktikan adanya Mineral Mulia dalam batu yang ia pilih, hal itu cukup menampar harga dirinya sebagai seorang ahli yang telah diakui.


“Tuan Mo..., Saya sudah mengikuti arahan anda dengan tepat, apa anda masih ingin menyalahkan saya karena hasilnya,” ujar ketus Tukang Belah Batu.


Mo Chu terhenyak sambil mengeratkan giginya.


“Nadi Batunya..., Apakah Tuan Mo salah menunjukkan nadi batunya?”


“Seorang ahli sekelas Tuan Mo tidak mungkin salah kan?”

__ADS_1


“Tapi tidak ada apapun di dalam batu itu selain kapur, bagaimana beliau menjelaskan hal itu?”


Pandangan orang-orang yang menghormati Mo Chu mulai berubah, tekuk alis mereka menyiratkan kecurigaan, saat mereka mulai berbisik..., Mo Chu menganggap apa yang mungkin dibicarakan oleh orang-orang itu adalah kegagalannya.


Tak tahan dengan adanya gosip yang akan mencoreng nama baiknya, Mo Chu membutuhkan orang lain untuk disalahkan. Pria tua itu segera menghampiri Fengyin lalu menarik kerah bajunya.


“Bajingan tua itu! Apa yang akan kau lakukan pada Sodaraku?!” seru Bowen.


Dua pengawal Mo Chu menghadang pemuda yang tengah emosi itu, namun Bowen bukanlah satu-satunya yang emosi atas tindakan Pak Tua Mo.


“Pergi saja Bos! Biar kami yang menahan para preman ini!” ucap Ge Hong.


Diikuti oleh Su Mu dan juga Xi Qin, Ge Hong menahan kedua orang pengawal Mo Chu.


Perseteruan diantara Mo Chu dan juga Fengyin kian memanas, semua tidak akan berakhir hanya dengan sebatas pertaruhan jika salah satu pihak dari keduanya mulai bermain tangan.


“Tenanglah Bowen, Tuan Mo hanya memegang kerahku saja. Orang terhormat seperti Tuan Mo tidak mungkin ringan tangan,” ucap Fengyin tenang.


Mo Chu menjadi satu-satunya orang yang meluapkan emosi terhadap lawannya, membuat pria tua itu terlihat seperti penjahat sekarang.


“Tuan Mo..., Jika anda terus memegang kerah baju saya seperti ini, orang-orang mungkin akan merasakan kekhawatiran yang dirasakan oleh sodara saya,” kata Fengyin.


Pak Tua Mo akhirnya melepaskan kerah Fengyin.


“Bajingan kecil, kau mengatakan omong kosong tentang nadi batu. Jelas-jelas kau menjebakku agar bisa mempermalukan diriku di hadapan banyak orang. Ya, kan?”


Fengyin menanggapi pria tua yang mengeratkan giginya itu dengan tenang. “Saya sama sekali tidak menjebak anda, Tuan Mo. Kalau anda menganggap ucapan saya sebagai jebakan..., Bukankah itu kesalahan anda sendiri karena terbuai oleh perkataan saya?”


“Apakah anda orang yang sebodoh itu? Untuk berpikir percaya pada ucapan seorang bajingan kecil...., Kekeke..., Menyedihkan.”


Fengyin meletakkan batunya yang sebesar kepalan tangan itu di samping mesin pembelah batu, kemudian dengan tegas anal muda itu berkata...,


“Sesuatu yang disebut sebagai Nadi Batu bukanlah omong kosong! Seseorang yang paham mengenai hal ini akan mengerti langsung!”

__ADS_1


Lalu dengan lirihnya Fengyin menyindir, “Tidak seperti orang yang mengaku ahli tapi tidak mengerti apapun.”


Anak muda itu benar-benar membalas sakit hatinya dengan memicingkan mata begitu tajam terhadap Mo Chu.


“Bajingan kecil!” umpat Mo Chu.


“Malam ini saya akan menunjukkan pada kalian, seperti apa rupa nadi batu yang mengandung mineral langka!”


Menggunakan matanya yang dapat melihat semua informasi suatu benda secara akurat, Fengyin mulai menunjukkan apa yang dia saksikan.


“Pertama..., Nadi batu memiliki warna yang lebih gelap dibanding dengan warna yang ditunjukkan oleh permukaan batu, bentuknya cenderung menyerupai akar pohon. Karena ukurannya yang kecil... Sangat sulit melihatnya menggunakan mata telanjang, karena itulah kebanyakan orang bahkan tidak menyadarinya.”


“Tapi jika orang itu jeli dan sudah terbiasa melihat hal itu, maka hanya dengan sekilas Nadi batunya dapat disadari.”


“Batu yang memiliki nadi memiliki kekuatan yang cenderung gila, alat pembelah biasanya tidak bisa langsung membelahnya dengan mudah.”


Fengyin meminta pada Tukang Belah Batu untuk membelah batu miliknya, orang-orang yang mendengarkan penjelasan Fengyin masih heran dan tidak percaya pada apa yang dikatakan oleh anak muda itu. Sampai akhirnya..., Kalimat yang Fengyin katakan benar-benar terbukti.


Tranggghh!!!


“Percikan api?! Sial, apa yang sebenarnya terjadi?”


Alat pembelah yang baru saja menyentuh permukaan batu milik Fengyin langsung berhenti setelah berputar begitu cepat, seakan roda giginya yang tajam tidak mampu membelah batu kecil itu sama sekali.


“Tidak mungkin, alat ini dapat membelah baja dengan mudah, mengapa satu batu saja tidak bisa dia kikis permukaannya?” sembari menggaruk rambutnya, Tukang Belah Batu menatap heran pada Batu Kecil milik Chao Fengyin.


“Tuan Ling..., Apakah anda memiliki kaca pembesar?” tanya Fengyin menghampiri Penyelenggara tempat Judi Batu, Ling Zhi.


“Ah!! I-iya, ada! Aku memiliki benda itu dalam laciku, biar aku ambil sebentar, Nak.”


Ling Zhi gugup, dia merasa kejadian malam ini akan mengejutkan seluruh Bazar.


‘Perkataan anak muda itu terbukti, dia terdengar seperti lebih memiliki pengetahuan tentang batu daripada Tuan Mo. Kalau batu anak muda itu benar-benar mengandung Mineral Langka di dalamnya..., Ini akan menjadi kerugian untukku karena menjual batu miliknya dengan harga murah.’

__ADS_1


‘Saat hasilnya keluar..., Aku harus membelinya kembali. Walaupun aku harus mengeluarkan uang sepuluh kali lipat untuk memilikinya!’ dalam hati Ling Zhi.


__ADS_2