
Masih ada beberapa menit sebelum Perjudian Batu dimulai, Mayleen ingin menyembuhkan matanya yang sembab karena sempat menangis, dia pun mengajak Fengyin untuk pergi ke kamar mandi.
“Kenapa aku?” tanya Fengyin heran, dia tau kalau Mayleen selalu merasa tidak nyaman dengan rumor yang menyertai mereka, karena itulah Fengyin bertanya.
“Teman-temanmu terlihat lebih berbahaya, jadi aku tidak punya pilihan selain mengajakmu.”
“Lagipula kau yang menyarankanku untuk tidak berkeliaran di tempat ini sendirian kan?” imbuh Mayleen sambil memalingkan pandangannya ke samping.
Fengyin akhirnya tidak punya alasan untuk menolak ajakan sang Dewi Kecantikan dari sekolahnya. Lagipula dengan adanya kesempatan seperti itu akan bagus untuk Fengyin, dia bisa meluruskan rumor yang tersebar, dan meluruskan kesalahpahaman Mayleen terhadapnya.
“Kawan-kawan..., Aku akan mengantar Nona Liu ke kamar mandi, bisakah kalian pergi ke tempat Perjudian Batunya lebih dulu?”
Bowen dan yang lain mengangguk seraya menunjukkan senyuman mereka, keempat orang itu meminta Fengyin untuk segera mengantar Nona Liu.
Setelah keduanya terlihat agak jauh, pembicaraan para pria pun dimulai.
“Menurut kalian..., Apakah alasan Nona Liu lebih memilih Sodara Feng untuk mengantarkannya itu benar?”
“Tidak, aku merasakan keganjilan dari alasannya, Bos!” sahut Xi Qin, kedua kawannya yang lain mengangguk dengan serempak.
“Kenapa Nona Liu lebih memilih Stalker yang dirumorkan untuk mengintilinya ke kamar mandi? Bukankah itu jauh lebih berbahaya? Meskipun Fengyin tidak terlihat seperti orang yang akan melakukan hal aneh sih.”
“Tapi siapa yang tau? Jika itu aku yang diminta. Pasti akan terselip niat untuk mengintipnya. Kau tau kan..., Nona Liu itu sangat cantik dan memiliki lekuk tubuh yang luar biasa, siapa yang bisa tahan jika berdua dengannya untuk waktu yang lama?”
“Su Mu..., Sebenarnya yang mesum itu kau,” kata Xi Qin menanggapi Su Mu.
Sementara itu Ge Hong memikirkan hal yang lebih masuk akal. “Diantara kita berlima sebagai pria disini, siapa yang memegang uang paling banyak?”
Bowen dan yang lain menjawab Fengyin secara bersamaan, itu karena dia baru saja berhasil mendapatkan lotre.
“Nah! Sekarang kalian sudah tau kan alasan Nona Liu lebih memilih Fengyin. Bagaimanapun Nona Liu adalah makhluk yang kita sebut perempuan.”
“Masuk akal,” jawab Bowen dan yang lain, mereka menganggukkan kepala dengan sangat kompak.
***
“Fengyin..., mengenai rumor yang tersebar diantara para siswa tentang dirimu, itu tidak benar kan?”
“Tentu saja itu tidak benar. Nona Liu.., kalau rumor itu benar, saat ini kau sungguh dalam masalah,” jawab Fengyin.
“Jadi kamu tidak pernah menguntitku?”
__ADS_1
“Sama sekali tidak pernah.”
“Lalu kenapa kamu selalu menatap lekat ke arahku?” tatap Mayleen dengan curiga.
“Karena kau mengenakan seragam yang berbeda dengan para siswa lainnya.”
“Haa?”
“Bahan, yang aku bicarakan adalah bahannya,” sambung Fengyin setelah melihat Mayleen bingung dengan apa yang dia bicarakan.
“Bahan yang kain seragammu gunakan sangat berbeda dengan kain milik siswa lainnya, padahal..., Seragam yang kita pakai sama-sama disediakan oleh sekolah. Jadi bagaimana bisa ada perbedaan?”
“Jawabannya adalah karena kau memesannya sendiri dan meminta orang lain untuk meniru seragam sekolah kita, benar?” kata Fengyin.
Jika hanya sebuah tebakan tidak akan muncul pernyataan yang begitu akurat, Fengyin menjelaskannya dengan tepat. Seragam sekolah yang Mayleen kenakan memang hasil pesanan pribadi.
“Itu sangat mirip sampai tidak ada orang yang bisa membedakannya, lho. Kenapa kau jeli sekali sih?”
“Mungkin itu sedikit kelebihanku,” sahut Fengyin dengan PD-nya.
“Jadi katakan apa yang kau lihat.”
“Hmmm..., Itu adalah seragam yang menggunakan kain Tencel Mudal sebagai bahan utamanya.”
“Ya, dan Perusahaan Lenzing adalah satu-satunya perusahaan yang menyediakan kain Tencel Mudal, kau membelinya dari sana, kan?”
“Fengyin! Pengetahuanmu luas sekali. Aku tidak tau kalau kamu bahkan mengenal pabrik yang memproduksi kainnya. Haha, itu keren.”
“Karena kain Tencel Mudal termasuk serat Rayon..., Kain tersebut memiliki karakteristik yang halus dan lembut, permukaannya mengkilap, memiliki daya serap yang baik. Dan yang terpenting...”
“Bahannya tidak menyerap panas!!” kata Fengyin dan Mayleen bersamaan.
Karena pembicaraan mereka yang dapat sinkron dengan baik, tak terasa Mayleen dan Fengyin menjadi kenalan dekat yang mampu bertukar canda tawa. Mayleen tidak menyangka akan sangat menyenangkan berbagi cerita dengan pria itu, padahal selama ini Mayleen terus berusaha waspada dengannya.
“Sekarang aku merasa rumor yang siswa lainnya sebarkan di sekolah itu tidak benar.”
“Kalau begitu kau bisa pergi ke kamar mandi dengan tenang tanpa khawatir dikuntit oleh seseorang,” ujar Fengyin.
“Tapi sebelumnya serahkan HPmu, untuk jaga-jaga.”
“Baiklah, jadi kau masih belum sepenuhnya percaya. Kalau begitu kau bisa memegang HPku,” Fengyin menyerahkan ponsel yang ia letakkan di saku belakang celananya.
__ADS_1
Mayleen begitu terkejut melihat HP yang digunakan oleh Fengyin, HP itu sangat jadul, masih menggunakan tombol ketik, dan layarnya juga masih retro, jangankan kamera..., Warna yang tersedia di layarnya saja hitam dan putih.
“Kau yakin ini HPmu?”
“Ya, tidak ada yang lagi.”
“Bagaimana kau mendapatkan kabar tentang kelas dari Grup Chat?”
“Wali Kelas Wang akan menelpon ku untuk memberikan informasi apapun mengenai sekolah, HPku tidak punya kamera, fitur merekam suara pun belum tersedia. Apa masih berpikir kalau aku seorang Stalker?”
“Maafkan aku, apa tindakanku membuatmu tidak nyaman?” sesal Mayleen, dia benar-benar merasa tidak enak hati karena sudah berprasangka pada Fengyin yang selalu bersikap lurus.
Gadis itu mengembalikan HPnya sembari membungkuk meminta maaf pada Fengyin, dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi sambil mengerutkan alisnya tak enak hati. ‘Ahh..., Aku benar-benar buruk.’
Tak lama kemudian.
“Sudah?”
“Ya, apa aku agak lama?”
“Tidak kok.”
Fengyin dan Mayleen berjalan berdua seperti tidak terjadi apa-apa, melihat wajah Fengyin yang tetap tenang seolah tidak memikirkan kejadian tadi membuat Mayleen makin kepikiran. Bagaimana kalau dia sebenarnya tersinggung? Bagaimana kalau Fengyin menganggapnya menyebalkan? Hal seperti itu membuat Mayleen cemas.
“Nona Liu..., Saat semua gadis sepantaran denganmu tertarik untuk pergi ke Mall dan tempat-tempat bagus lainnya, kenapa kau malah memilih pergi ke Bazar Judi?”
Chao Fengyin memulai kembali obrolan diantara keduanya, Mayleen terkesiap, dia tidak menyangka kalau pria itu masih ingin mengajak orang yang menyebalkan sepertinya untuk mengobrol.
“Kamu pasti tidak berpikir aku akan melakukan ini, kan? Haa..., Hal ini memang sama sekali tidak cocok dengan Imejku sebagai seorang Dewi Kecantikan yang disanjung semua orang.”
“Haha! Tolong kecualikan aku.”
“Apa? Apa kau tidak pernah menyanjungku?”
“Tidak, tidak pernah bahkan walau sekedar menggumamkannya.”
“Jahat sekali,” kata Mayleen sambil tertawa, dia memukul pundak Fengyin seperti seorang teman dekat.
Semua itu Mayleen lakukan tanpa sadar, suasananya lah yang menggiring tindakan sok akrab itu. Seketika Mayleen tersadar, mengapa dia melakukannya? Itu aneh karena dia tidak pernah melakukan tindakan itu sekalipun pada seseorang.
Pembawaan Fengyin yang begitu tenang membuat kewaspadaan Mayleen menjadi nol.
__ADS_1
‘Ya ampun..., Apa ini yang selalu orang bilang dengan diam-diam menghanyutkan?’