
Hampir satu jam berlalu dan sudah ada sepuluh pembeli batu yang berani membongkar batu mereka di depan semua orang, tapi..., Masih belum ada seorangpun yang beruntung mendapatkan mineral mulia.
“Yang benar saja! Ini sudah ada sepuluh orang yang mencoba menemukan giok dalam batu-batu itu, tapi tidak ada satupun dari mereka yang berhasil menemukannya. Tidakkah kalian pikir perjudian batu kali ini adalah penipuan.”
“Aisshh..., Dimana para penyelenggara mendapatkan batu-batu itu? Apa mereka memungutnya dengan sembarangan dari halaman belakang rumah mereka?”
“Haa..., Konyol sekali.”
“Pulang aja lah, percuma juga menghabiskan uang kita disini.”
Banyak orang yang mulai mengeluh karena tidak ada satupun pembeli yang berhasil menemukan apa yang mereka cari, Mayleen pun juga sudah terlihat ragu, padahal sebelumnya dia sudah sangat antusias.
“Semuanya, jangan terlalu skeptis tentang hal ini, kami selaku penyelenggara tidak mencurangi batunya sama sekali, dan semua batu yang kami jual diambil dari tambang. Mengapa masih belum ada orang yang menemukan mineral mulianya, kemungkinan hanya karena mereka kurang beruntung saja.”
“Jangan karena ketidakberuntungan orang lain kalian harus melewatkan kesempatan kalian sendiri,” kata sang Penyelenggara acara. Dia mengatakan hal itu karena dalam benaknya sang Penyelenggara tidak mau pada pelanggannya kabur.
“Nona Liu..., Apa kau ingin melewatkan keberuntunganmu begitu saja?” tanya Fengyin melirik ke arah Nona Muda yang nampak ragu itu.
“Setelah melihat itu apa kau tidak ragu?”
“Entahlah..., Aku merasa seperti akan menyia-nyiakan kesempatan jika melewatkan yang satu ini,” Fengyin melewati tali pembatas yang memisahkan para penonton dengan tempat perjudian batu.
“Hei..., Sebelumnya kau bilang aku akan beruntung malam ini, kan? Apa kau masih yakin tentang hal itu?” tanya Mayleen.
Fengyin langsung membalas pertanyaannya saraya tersenyum, “Tentu saja sangat yakin, kau hanya perlu melewati garis pembatasnya.”
“Baiklah, kalau begitu aku ikut!”
Keduanya masuk ke dalam tempat perjudian batu, tak lama setelah mereka masuk ada sekelompok pria yang juga datang menyertai mereka. Semua orang tampak memberikan jalan dan menatap kagum pada sosok yang baru saja masuk.
“Bukankah itu Tuan Mo Chu? Dia adalah pakar mineral mulia yang terkenal kan? Apa orang sehebat dia juga pergi ke Bazar Judi kecil di kota ini?”
“Ya ampun..., Lihat para pengawalnya, mereka terlihat sangar dan juga kuat. Sepertinya tidak ada yang berani memprovokasi orang-orang ini.”
__ADS_1
Mendengar namanya dikenal oleh banyak orang membuat dada pria paruh baya bernama Mo Chu itu semakin busung. Dia tersenyum sungging meremehkan semua orang, menunjukkan kelasnya yang benar-benar berbeda dengan para penonton yang tidak mengerti apapun soal batu.
“Ku dengar, kemanapun Tuan Mo Chu pergi, dia akan selalu dapat menemukan sebuah Mineral Mulia. Terakhir kali dia beraksi, dia mendapatkan Giok Biru Es yang bernilai 50.000 Yuan.”
“Ah... Berita itu aku juga mendengarnya, kabarnya seorang konglomerat kaya menawar batu itu dengan harga 100.000 Yuan.”
“Giok Biru Es adalah harta termahal yang pernah Tuan Mo Chu temukan dalam perjudian batu. Aku penasaran apakah kali ini dia juga akan menemukan harta semacam itu di tempat ini.”
Penyelenggara tempat perjudian batu segera mendatangi Tuan Mo Chu, dia mendekatinya dengan sopan dan penuh hormat.
“Selamat malam Tuan Mo, nama saya Ling Zhi selaku penyelenggara tempat perjudian batu,” sapa sang Penyelenggara sambil memperkenalkan dirinya.
“Kalau saya tau sosok hebat seperti Tuan Mo akan datang ke tempat perjudian batu saya, saya harusnya menyediakan teh untuk anda. Apakah anda tidak keberatan duduk di kursi itu dan mengobrol bersama saya, Tuan Mo?” tambah Ling Zhi sembari menunjuk ke arah kursi yang dia sediakan kalau-kalau orang terhormat datang ke tempatnya.
“Tidak perlu teh dan juga mengobrol, aku datang kemari tidak untuk melakukan hal-hal semacam itu. Aku hanya mendengar ada tempat perjudian batu yang sedang di buka di Bazar Judi ini, jadi aku datang untuk melihat,” kata Mo Chu.
Bahasa Informal yang ia gunakan pada Ling Zhi sang Penyelenggara menunjukkan kelasnya yang lebih tinggi, meskipun kedua orang itu tampak seperti seumuran.
“Anda bisa melihat batu manapun yang menarik minat anda, Tuan Mo. Saya pasti akan memberikan anda potongan harga untuk tiap pembelian batu.”
Liu Mayleen melirik pria paruh baya yang meletakkan kedua tangannya di belakang punggung, cara dia bicara dan membusungkan dada benar-benar arogan.
“Orang yang benar-benar kaya tidak akan sesombong itu,” umpatnya lirih.
Ling Zhi dapat tersenyum puas setelah datangnya Tuan Mo Chu ke tempat perjudian batunya, bukan karena pria terhormat itu menolak potongan harga darinya. Tapi lebih kepada pada pengaruhnya pada pembeli lain.
‘Kalau Tuan Mo Chu ada disini dan dapat membuktikan adanya mineral mulia pada batu yang aku jual, maka para pelanggan akan kembali dan mencoba membeli batu-batu itu kembali. Keuntungan kembali ke arahku sekali lagi, haha!’ Tawa Ling Zhi dengan licik dalam hatinya.
Mo Chu mulai melihat-lihat tumpukan batu yang dijual oleh Ling Zhi, setelah beberapa saat pria paruh baya itu akhirnya menyadari kalau ada orang lain di panggung yang sama dengannya, dan orang itu adalah Fengyin dan juga Mayleen.
“Aku tidak sadar ternyata ada orang lain yang juga melihat-lihat batu, apa kalian tidak tau ada Tuan Mo yang terkenal di sekitar sini?” kata Mo Chu dengan congkaknya sambil menatap ke arah Mayleen dan juga Fengyin.
“Memangnya kenapa kalau anda terkenal? kami bahkan tidak mengenal anda,” sahut Mayleen dengan kesal.
__ADS_1
“Anak muda..., Saat Mo Chu berada di atas panggung, orang lain akan mengalah dan membiarkannya memilih terlebih dulu. Itu adalah bentuk penghormatan mereka pada orang yang mereka anggap sebagai ahli.”
“Kau masih muda dan tidak mengerti, itulah mengapa aku memberitahumu,” imbuh Mo Chu.
Semua penonton bersorak setuju, mereka memberikan pendapat yang sama dengan Tuan Mo.
“Anak Muda..., Turunlah dari panggung dan biarkan Tuan Mo sebagai ahli memilih lebih dulu. Dia adalah orang yang lebih tau tentang batu, kami tidak ingin melihat lagi orang yang membuka batu kosong pilihan mereka. Biarkan kami melihat harta karun!”
“Ya! Biarkan kami melihat harta Karun!”
“Turun saja! Anak bau kencur tidak harus mendahului orang yang lebih tua!”
“Turun! Turun! Turun!!”
Mo Chu tersenyum meremehkan Fengyin dan juga Mayleen, dengan dukungan penonton yang bersorak untuknya, Mo Chu mencoba menekan orang lain dan menunjukkan seberapa superior dirinya.
Suara Bowen dan kawan-kawannya yang tidak terima karena Fengyin harus disingkirkan dari panggung tidak dapat didengar, suara keempat orang itu diredam oleh suara ratusan orang yang berdiri di sekeliling panggung.
“Apa yang membuat kalian begitu yakin kami tidak akan menemukan harta?” ujar Fengyin.
Keangkuhan yang ditunjukkan oleh Mo Chu membuat Fengyin tersinggung, dengan mudahnya pria paruh baya itu meremehkan orang lain seolah dirinya sudah duduk di atas langit.
Tatapan tajam Fengyin membuat Mo Chu juga tersinggung, selama ini tidak ada orang yang berani membalas tatapannya, tapi hari ini Mo Chu melihat sesuatu yang lain.
Dia mengangkat tangan kanannya setinggi bahu dan orang-orang yang bersorak seketika terdiam.
“Sepertinya aku tadi melihat anak muda ini mengatakan sesuatu, suara sorakan tadi membuat telinga orang tua ini tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Anak muda..., Bisakah kau ulangi apa yang kau katakan?”
“Saya bilang..., Apa yang membuat semua orang disini yakin kalau kami tidak akan menemukan harta?”
Perkataan Fengyin membuat Mo Chu tersenyum, dia ingin menertawai pemuda itu. Fengyin seolah ingin mengatakan kalau dirinya tau mengenai batu dan yakin dia dapat menemukan harta yang terkandung di dalamnya.
Melihat sosok anak muda yang ingin mengaku sebagai seorang ahli, tentunya membuat ahli yang asli merasa tersinggung.
__ADS_1
“Anak muda..., Dengan berdiri di tempat yang sama denganku, itu artinya kau ingin bersaing denganku. Apakah kau memiliki kualifikasi untuk melakukan itu?”
Mo Chu berdiri tepat di depan Chao Fengyin, pemuda yang berani membalas pandangan merendahkannya.