
“Pengamatan yang luar biasa, Anak Muda. Orangtua ini amat mengagumi kejelianmu,” Nalan Zhongde tersenyum kepada Fengyin.
“Sekarang bisakah Anak Muda mengatakan sesuatu tentang Jamrud ini?” imbuh Nalan Zhongde.
Pria tua itu merasakan aliran aneh pada tangannya, seperti ada serumpun benang halus yang dingin menyapu pergelangan tangan Nalan Zhongde. Seumur hidupnya berurusan dengan permata mulia semacam Jamrud, baru pertama kali dia merasakan aliran energi yang asing itu.
“Tuan Nalan agaknya meragukan batu itu sebagai Jamrud, apakah saya salah?” tanya Fengyin.
Nalan Zhongde terdiam sejenak sembari menyeka dagu, Pak Tua yang terhormat itu kemudian tersenyum. “Pengamatan jeli anak muda ini memang tidak bisa dibohongi.”
“Sejujurnya Orang Tua ini memang meragukan batu milik anak muda sebagai Jamrud.”
Mendengar pendapat Tuan Nalan..., Mo Chu mendengus, menunjukkan kernyih remeh melalui bibirnya.
“Jadi batu tersebut bukan Jamrud? Tapi mengapa batu tersebut berkilau dengan sangat indah?”
“Jamrud ataupun bukan, siapa yang perduli. Apakah kalian masih mengingat taruhan yang dilakukan oleh Tuan Mo dan Anak Muda itu? Pada akhirnya, meskipun bukan Jamrud, anak muda itulah yang menemukan sesuatu dalam batunya.”
“Haha! Kau benar, rasanya tidak sabar melihat Tuan Mo merangkak dan menggonggong mengelilingi Bazar Judi. Ini akan menjadi berita besar.”
‘Orang-orang sialan! Kalian pikir aku benar-benar akan melakukan hal itu?!’ umpat Mo Chu dalam hatinya.
“Secara karakteristik, batu tersebut adalah Jamrud. Warnanya lebih hijau, dan kekerasannya lebih baik dibandingkan dengan Giok. Namun..., Batu tersebut adalah Jadeit yang merupakan Giok.”
“Dua batu yang harusnya berbeda bercampur menjadi satu, tentu orang yang sudah terbiasa mengoleksi Jamrud ataupun Giok akan kebingungan begitu membedakannya.”
“Terdapat Kromium dan Vanadium yang menjadi unsur dari Jamrud, walaupun demikian terdapat Kalsium, Potasium, dan juga Magnesium yang menjadi unsur Giok. Unsur yang sangat bagus untuk dijadikan media terapi, sehingga begitu seseorang memegangnya, ada perasaan aneh yang mengalir dalam genggaman.”
“Apa yang anda rasakan Tuan Nalan?”
Walaupun tanpa menggenggamnya dengan erat sekalipun, perasaan aneh yang Fengyin singgung itu benar-benar terasa. “Menyengat, seperti menyentuh listrik bertegangan kecil. Ada perasaan dingin juga, ini tidak ubahnya memegang es batu, bisa dikatakan..., Rasanya nyaman dan sejuk.”
“Perasaan yang tak pernah Orang Tua ini rasakan selama bertahun-tahun mengoleksi Jamrud.”
“Itu adalah efek terapis yang bisa diberikan oleh Batu tersebut,” ucap Fengyin.
__ADS_1
“Apakah ada yang membawa minuman beralkohol?” tanya anak muda itu kemudian.
“Anak Muda..., Rasanya terlalu awal untuk minum sesuatu seperti itu di usiamu yang sekarang.”
“Maaf Tuan Nalan..., Saya bukannya ingin meminum alkohol itu.”
“Saya hanya ingin menunjukkan sesuatu yang akan membuat semua orang takjub,” imbuh Fengyin.
Seseorang dari balik tali menyuguhkan gelas berisi alkohol seperti yang Fengyin minta, Zhao Bowen mengambilkan benda itu. Entah apa yang akan Fengyin lakukan, yang jelas saat ini semuanya menatap Fengyin dengan wajah penasaran.
“Jika anda tidak keberatan..., Bisakah anda ceburkan batu itu ke dalam gelas, Tuan Nalan?”
‘Apa yang ingin dibuktikan oleh anak ini?’ dalam hati pria tua yang nampak heran itu.
Keheranan dalam diri Tuan Nalan langsung terkuak begitu Batu yang dipegangnya dijatuhkan ke dalam gelas.
“Woaaaahh..!!”
Betapa takjubnya semua orang ketika menyaksikan perubahan warna dalam gelas, keruhnya alkohol yang berwarna kuning kecoklatan seketika berubah menjadi bening, seolah warna yang sebelumnya larut entah kemana.
“Ada sebuah catatan yang ditinggalkan oleh Kakek saya, catatan yang saya baca beberapa kali. Dalam tulisannya..., Kakek bilang, jika ada batu yang memancarkan aura sejuk, coba rendam batu tersebut ke dalam racun.”
“Jika batu tersebut menunjukkan reaksi, maka batu tersebut adalah harta.”
“Alkohol yang berlebihan juga merupakan racun bagi tubuh, saya tidak mengira kalau batu tersebut ternyata mampu memurnikannya.”
Nalan Zhongde meminum alkohol yang telah dimurnikan itu tanpa ragu, Pengawalnya Le Man sempat khawatir dan mencoba menghalanginya, namun air yang telah diteguk tidak mungkin dimuntahkan lagi, karena itulah Le Man hanya bisa memegangi Tuannya dengan cemas.
“Patriak..., Kenapa anda meminumnya? Anda tidak diperbolehkan mengkonsumsi alkohol lagi oleh Dokter, jika Nyonya Besar tau saya membiarkan anda minum Alkohol, saya akan dimarahi besar-besaran olehnya.”
Nalan Zhongde mengangkat tangannya di hadapan Le Man, meminta pria tegap itu tenang dan tidak terlalu khawatir.
“Aku sama sekali tidak merasakan adanya Alkohol dalam gelas ini, bahkan air yang ada pada gelas ini lebih murni dibandingkan air yang diambil dari sumbernya. Sejuk, manis dan sangat menyegarkan, mungkin ini adalah air paling sedap yang pernah aku minum selama ini.”
Siapa yang akan menganggap perkataan seorang Nalan Zhongde sebagai kebohongan? Jika orang tua itu sudah berkata demikian, maka demikianlah kenyataannya.
__ADS_1
“Rasa penatku hilang, Le Man..., Aku mengatakan yang sebenarnya.”
“Permisi Patriak...,” Le Man mengambil gelas yang digenggam oleh Tuannya.
Sisa Alkohol dalam gelas yang hanya tinggal setengah teguk itu melintasi kerongkongannya dengan cepat, dan terbeliaklah mata Le Man.
Udara sejuk menyeruak melalui hidungnya, tercium aroma tanah yang dibasahi oleh hujan. Kesejukan yang menerpa tubuhnya itu bagaikan angin yang melintas di bawah air terjun. Nyaman..., Sekaligus menenangkan pikiran.
Efek besar yang luar biasa di hasilkan oleh batu kecil sepanjang jempol orang dewasa, bagaimana cara Le Man dapat menyembunyikan keterkejutannya? Hanya satu kalimat yang bisa menyampaikan kejujurannya...,
“Ini sungguh harta,” kata Le Man dengan takjub.
Tanpa berpikir panjang Nalan Zhongde langsung mendekati Fengyin, memegang tangan pemuda itu seraya menatap matanya penuh binar. “Anak Muda..., Tolong sebutkan harganya!”
Para penonton sontak terkejut, ketertarikan yang ditunjukkan oleh Tuan Nalan Zhongde begitu kentara, jelas ini adalah hal baik. Berapa orang yang selama ini berusaha menggerakkan hati Pak Tua itu namun gagal? Setiap tingkah baik yang mereka tunjukkan hanya tatap ketus dari Nalan Zhongde sebagai balasannya.
Kali ini Tuan Nalan sendiri yang bertindak secara langsung, dengan senyum dan pandangan yang menunjukkan minat kuat. Jika keinginannya itu terpenuhi, bukan hal sulit untuk menaikkan derajat anak muda yang dipandangnya.
“Anak Muda! Sebutkan saja harganya kepada Tuan Nalan.”
“Itu adalah berkah bagi dirimu dan keluargamu, jadi sebisa mungkin jangan membuat Tuan Nalan menunggu, ayo sebutkan!”
Satu persatu tanggapan pun terlontar, suara yang mulanya hanya terdengar di barisan terdepan mulai bergerak ke belakang bagaikan rentetan domino.
“Sebutkan! Sebutkan! Sebutkan!” sorak serempak para penonton.
Dengan desakan semacam itu, Fengyin sangat cemas bila harus menghindarinya.
“Anak Muda..., Apa kau enggan menjualnya pada Orang Tua ini? Sebutkan saja nominal berapapun, Orang Tua ini bukanlah orang yang akan mengeluhkan hal itu,” ujar Nalan Zhongde setulus hatinya.
Tuan Nalan sampai meyakinkan Fengyin sedemikian rupa, demi bisa menghapus perasaan ragu yang menahan pemuda itu untuk menyerahkan batunya.
Tapi? Apa Fengyin benar-benar harus mengatakan nominal harga batunya sesuai dengan apa yang ia lihat melalui matanya?
‘Kughh..., Apakah tidak terlalu lancang kalau aku menyebutkannya dengan jelas?’
__ADS_1
Angka yang ditunjukkan, adalah angka yang akan membuat orang lain melongo.