
Namaku Lollyta Jallyanna Brahmanna, sekarang aku sudah masuk ke usia' dua puluh dua tahun, walaupun cuma tampangku saja yang bisa di bilang cantiknya luar biasa' tapi tetap saja bagiku kecantik di otaku sangatlah rendah.
Status hidupku sekarang adalah pengangguran tentunya, pernah sih kerja di rumah makan waktu di kampung' tapi sayangnya keuntungan beralih ketanganku, aku mendapat kabar baik... kata para pelayan yang lain disana bilang? kalau ternyata aku sudah di pecat secara tiba-tiba.
Dua minggu kerja disana udah di pecat gitu aja, ya... Tentu saja aku tau jawabanya kenapa bossku memecatku' karna aku kurang pandai dalam segi yang menyangkut tentang hal perkasiran, bahkan aku juga pemalu, suka salah meluluh mengingatin pesanan orang lain(intinya terlalu kurang percaya diri dan pelupa).
Aku gak menyangkah bisa lulus dari sekolah, padahal otaku pas-pasan rendahan kayak gini' lagian untung aja udah keluar dari sekolah! jika tidak, mungkin udah lama pecah isi kepalaku karna terlalu banyak mikirin pelajaran.
Apes amet dah hidupku, kenapa juga aku terlalu banyak merasa gengsi dan gak pede kayak gini?? huuh... bagiku wajah gak ada artinya dari pada otak' aku mengerti kenapa papa dan mama sangat menyayangiku karna emang aku terlahir sebagai (bayi inkubator).
Kutepuk-tepuk beberapa kali kedua pipiku dan menggelengkan kepalaku juga tentunya, yang membuatku kesal angan-anganku udah pergi kemana-mana' ha... ?? (menghembuskan nafas beratku).
Dengar Anna' kau harus mesti menerima dirimu sendiri' manusia itu berbeda-beda? Jadi bersyukurlah, yang terpenting kau sehat dan fisik tubuhmu bagus, ayo tetap semangat' jangan terlalu kalah dengan kesedihan, dikarnakan banyak ngelamun jadi pikiranku kembali sadar.
Apa yang harus aku lakukan, dari tadi banyak orang yang berlalu lalang kesana-kemari bisik-bisik gak jelas di belakangku.
Ya... Aku juga sih yang salah, kenapa aku harus berdiri di depan teras tempat cafee ternama di kota jakarta ini.
Papa mala memilih mau tinggal di kampung' dari pada balik lagi ke kota, aku tau papa orangnya selalu mengkhawatirkanku dan menuruti kemauanku.
Apa yang aku mau' papa selalu menurut dan mengalah, tapi gak begini juga caranya... Aku mengingikanya tinggal disini tapi dia menyuruhku pergi sendiri dan menitipkan diriku di rumah temanya.
Dasar papa kurang asem hemm... Beginilah kalau aku dan papa, suka bertengkar walaupun terkadang bercanda.
Temanya papa bernama iran, dia menerima permainan papa' karna kejadian cerita di masalalunya papa waktu dulu, kata om iran dia masih berperan menjadi seseorang yang penting bagi orang itu.
Ada yang bertanya-tanya, siapa orang itu? Nanti juga bakal ketemu kok.
Kulihat pria parubaya sekitar umur tigapuluan itu, berjalan santai sambil membuka pintu cafee ini menuju mau keluar dari dalam sana, sedangkan aku berusaha mau masuk' bukanya mengucapkan permisi... tapi malahan tubuhku langsung menabraknya sampai secangkir kopi yang di genggamanya tadi tumpah mengenai baju dasar kaospolos yang kupakai, untung saja kopinya gak panas.
"Astaga..."
"A... aku minta maaf..."
"Ea' gak apa-apa kok..."
Aku menjauh dari pintu dan dirinya, sedangkan dia membuntutiku dari belakang' kedua tanganku sibuk meremas baju yang bernoda kopi tadi, kulihat air kopinya jatuh berlahan kebawah lantai sewaktu selesai kuperas.
"Aku sungguh menyesal' aku minta maaf, ea... bagaimana kalau aku mengajakmu untuk pergi kerumahku sebentar' bukan berarti aku bermaksud kurang sopan tapi aku akan mengganti bajumu yang baru..."
Bukankah ini tawaran yang bagus, dia mengizinkanku untuk mengunjungi rumahnya' dikarnakan aku gak mau menolak jadi kuanggukan kepala tanda mengiakan.
Senyuman ramah dan wajah gantengnya sudah lama aku mengenalinya, pria yang berdiri di depanku ini bersikap hangat memberikan perhatianya padaku.
Kenapa aku mengenalnya' karna om iran memberikan potoh orang ini padaku, dikarnakan kami sudah berada di dalam mobilnya' jadi aku menikmati rasa nyaman di bokongku karna jok kursinya yang empuk bikin pikiranku melayang, tapi sayangnya kenyamananku terbuang karna pengharum ruangan diatas dashboard mobil ini merusak suasanaku' yang lebih parahnya lagi bukanya membuat suasana menjadi wangi ataukah bikin nyaman, tapi mala membuatku merasa gugup dan gak tenang sebab orang itu sudah masuk kedalam' duduk di jok sebelahku.
Mesin mobil sudah menyala dan kendaraan ini akhirnya menjauh dari tempat parkiran cafee tadi, tapi kok mala aku yang kebingungan gak tau mau membuka obrolan apa sekarang.
"Boleh aku tau' siapa namamu?..."
Mataku melihat kearahnya, sedangkan dia masih berpokus melihat kedepan dengan senyuman yang di pamerkanya.
"Lollyta Jallyanna, panggil saja aku anna..."
Ha...ha' maaf papa kalau aku gak menyebut nama kepanjanganmu(Brahmanna).
Awas saja kau om, jika kita ketemu lagi akan kujewel telingamu' berani-beraninya dia menurunkanku di depan cafee.
__ADS_1
"Em... Lollyta Jallyanna ya, kalau begitu salam kenal juga' namaku Roby Anwary... kuharap kita bisa jadi teman akrab, ohia... ngomong-ngomong tadi kamu mau beli kopi juga ya!..."
"He...he' bu... bukan mau beli kopi tapi mau cari lowongan pekerjaan..."
Ya emang aku butuh pekerjaan sih tapi masih agak ragu, lagian tujuan paktor utamaku adalah berada di sampingnya.
Syukurlah suasana sekarang gak secanggung kayak barusan tadi' bahkan aku orangnya agak pemalu jadi masih merasa takut dengan orang asing.
Walaupun dia gak mengenaliku, tetap saja bagiku' kami masih baru berkenalan jadi mesti harus waspada! takutnya nanti' dia pura-pura gak tau tentang rencanaku.
Tenanglah anna, jernihkanlah pikiranmu' janganlah terus berpikiran negatif meluluh, dengar... kau harus pokus dengan rencana papamu, lagian mana mungkin roby tau identitasmu.
"Anna!..."
Ngomong-ngomong kok om iran tinggal di afartemen sih, kenapa gak di rumahnya saja? terus kenapa dia belum kasihtau tentang orangtuanya padaku.
"Heii... Anna, kau baik-baik sajakan' gak baik loh ngelamun..."
"Ea, Emm... Ia' aku baik-baik saja, a... ada apa?..."
Dia memberikan kotak tisu padaku.
"Mungkin agak lama nyampe di rumahku, jadi bisa di tahan sebentarkan... aku tau' kau merasa malu gara-gara baju itu, jadi ma... maksudku gunakan tisu terlebih dulu untuk mengurangi basahnya, maaf kalau keadaan jalan agak macet..."
"Ia... gak apa-apa, makasih tisunya..."
Kulap bajuku menggunakan tisu yang kutarik dari kotaknya tadi, cuaca sekarang lumayan gak terasa panas karna di dalam ruangan mobil ini di nyalakan AC.
Akhirnya... sekarang aku bisa melihat' Roby Anwary secara langsung.
Tiba-tiba saja ada suara seseorang yang menyuruhku untuk bangun dari tidur lelapku sekarang, mataku bukanya mau bangun tapi mala mulutku yang bergumam gak jelas.
"Ya... nanti ma..."
"Mala panggil mama nih bocah' heii... anna... anna' bangun, kita sudah sampai di rumahku..."
Kedua kelopak mataku berlahan membuka' bayangan dari sosok orang yang sudah ada di hadapanku sekarang melambaikan tangan dan mengatakan Wake up, kok merasa familiar ya' langsung kukecek kedua kelopak mataku dan mengerjap-ejapkan mataku beberapa kali.
Aku baru sadar sekarang kalau ternyata tadi aku ketiduran... (kenapa juga aku mesti harus tidur' dasar buat malu aja), roby keluar dari mobil dan berjalan kesebelahku membukakan pintu untuku' aku sangat tersanjung dengan dirinya, walaupun keperawakan sifatnya seperti seorang pria muda yang romantis tapi tetap saja umurnya gak cocok dngan karakter tingkahnya ha...ha.
Apa benar rumah elit yang lumayan sangatlah besar dan mewah ini adalah tempat tinggalnya? pandangan mataku beralih melihat kearahnya lagi tapi dia mala menatapku bingung, sebenarnya dia nih kerja apaan sih.
"Kenapa bengong, ayo..."
Mobil di tinggal gitu aja di depan garasi, sedangkan roby mengetuk pintu rumah ini' gak terlalu menunggu lama seorang perempuan parubaya memakai baju daster datang membukakan pintu untuk kami berdua.
"Udah pulang den roby..."
"ia mbok..."
Kami berdua masuk kedalam rumah' sedangkan mbok tadi balik lagi kebelakang? mungkin kedapur kayaknya, tiba-tiba ada suara perempuan lainya datang menuju kearah roby.
"Sayang kau sudah pulang..."
"Ia bu..."
Roby menyalimi perempuan tersebut dan aku juga mengikutinya, sejujurnya aku agak malu sih menujukan keadaanku seperti ini di depan keluargahnya' tapi mau bagaimana lagi yang kupakaikan cuma kaos polos yang bernoda kopi.
__ADS_1
"Bu' boleh aku pinjam baju, untuk gadis ini..."
Mataku dan mata ibunya roby saling bertatapan, senyuman cantiknya sangat terpampang jelas di wajahnya kalau ternyata ibu ini sebenarnya adalah orang yang sangat ramah kepada oranglain' untung aja aku ketemu sama orang yang baik-baik disini.
"Oh tentu, ayo kelantai atas' sekalian mandi saja, nanti ibu siapin bajunya kok..."
Aku melirik kearah roby sebentar untuk meminta izin terlebih dahulu, sedangkan dia hanya tersenyum dan melambaikan tanganya kebawah layaknya mau mengusirku pergi dari hadapanya.
Sampai di lantai atas, mataku di mabukan dengan pandangan yang sangat menawan di ruangan ini' parabotan yang antik-antik dan bagus, tempatnya nyaman dan bersih, bahkan guci keramik akan mengkilap' membuatku berpikir? mungkinkah semua parabotan isi rumahnya ini di bersihkan tiap hari, hiasan lampu, beserta banyak potoh dan piagam penghargaan juga.
Bukankah roby mesti bersyukur bisa mempunyai otak yang cerdas, sampai dia sekarang sudah di tempatkan yang lebih layak' beruntung kau gak mengikuti papaku' jika aku jadi dirinya, pasti aku udah akan sangat bangga karna mendapatkan piagam yang banyak seperti itu.
"Ea... nak' jadi mandikan, dari tadi ibu perhatiin kau kagum banget ngeliatin piagamnya..."
Kenapa sih aku suka sekali ngelamun' dasar otak... otak, aku langsung mengusap wajahku gusar karna kesal dengan pikiranku yang mudah berubah terlarut akan suasana keadaan hati.
"A... aku minta maaf bu, he...he... anak ibu sangat cerdas ya..."
"Hehe... makasih atas pujianya nak, ibu juga gak nyangkah kalau ternyata dia sangat pandai dalam hal apapun' malahan sangat berbeda jauh dengan orang itu hehe, ayo jadi mandikan..."
Orang itu, siapa... kok aku agak merasa orangtuanya roby membunyikan sesuatu ya, aku terus mengikuti langkahnya' sampai dia mengatakan disini kamar mandinya, waktu aku masuk kedalam' ternyata ruanganya cukup besar dan mewah! lagian namanya juga rumah elit.
Bau farpum di bajunya sangatlah wangi sampai rasanya indra penciuman di hidungku gak mau berhenti mengendusnya, waktu aku turun kebawah... kulihat ada empat orang sedang duduk di sofa lagi mengobrol di ruang tamu' tapi dari empat orang tersebut satu orangnya duduk membelakangiku, langkah kakikku menuju kearah orangtuanya roby, dan menyalimi pria parubaya yang duduk di sebelah ibunya roby tadi.
"Salam kenal pak, nama saya lollyta jallyanna' saya temanya roby, panggil saja saya anna..."
"Salam kenal juga, saya vian' ayahnya roby anwary' ea... se... seriusan nih temenan..."
Aku menganggukan kepala tanda mengiakan' tapi yang bikin aku kebingungan esfresi wajah pak vian nampak jahil, kulihat pak vian mala mengampitkan lenganya kearah leher anaknya(layaknya bercanda seperti anak dan orangtua pada umumnya).
"Cieee... sejak kapan dapat yang bule beginian, mana dia lancar amet dah ngomong bahasa kita' wiww... dapat calon, gak kasihtau lagi kalau ngapel-nya ngajak kemari he...he..."
"Ayah ngacok deh kalau ngomong, kami baru temenan' tadi aku gak sengaja numpahin kopi ke bajunya..."
"Dasar anak bl**n, masa gak ada rasa manis-manisnya sedikit sih jadi cowok' dasar lalay, ceroboh, pantas saja selama ini bujangan meluluh... nyatanyakan jomblo happyyy hemmm... tau-taunya anna bukan calon menantu' hadeeeh..."
"ngapain juga ayah udah berpikiran kayak gitu, kan sudah jelas aku males pacaran' sekarang aku pokus kerja aja dulu..."
"siapa juga yang bikin otakmu gak peka gini ha, terlalu buta akan kerjaan meluluh jadi rasa rasa cinta gak punya tuh' kan udah ada jalan takdir nih sekarang jadi tunggu apa lagi, cepat' pepet sana anna..."
"..."
Yang membuatku lucu mereka mala bertengkar, dikarnakan ruangan ini nampak heboh jadinya semuanya pada ketawa' tapi nyatanya roby mala mengala karna gak tau mau bahas apa lagi sepertinya, sedangkan pipiku sudah bersemu merah merona karna malu, ibunya roby menyuruhku duduk di sofa.
Waktu pan*atku sudah turun di atas sofa, wajahku beralih menoleh kesamping' betapa terkejutnya diriku sewaku mendapatkan hadiah yang sudah lama kutunggu ternyata telah sampai di hadapaku, yap orang yang duduk di sebelahku adalah om iran? pengen bener dah aku mau ngejewer telinganya! enak bener dia nurunin aku sendirian di depan cafee tadi, tapi ngapain dia disini' yang membuatku bertambah kesal padanya, dia menatapku dengan senyuman dan esfresi yang jahil! Apa jangan-jangan orangtuanya roby adalah.
"Anna... perkenalkan' dia secretarisku, sekaligus teman akrabku' walaupun umurnya udah sangat tua tapi dia tetap terus semangat membantuku di tempat kerja kantornya ayahku..."
"Emm... jadi pemimpin perusahaan ayahmu, beralih ketanganmu' intinya anda CEO-nya sekarang..."
Roby hanya menganggukan kepala saja tanda menjawab, waktu telapak tanganku bersalaman dengan om iran' dengan cepat langsung kuremas kuat genggaman tanganya itu' sampai raut wajahnya berubah menahan nyeri.
"Sa... salam kenal, nama saya iran' temanya roby sekaligus secretarisnya di kantor.."
"ia' salam kenal juga..."
Jadi begitu ya' aku sadar sekarang... ternyata orangtuanya om iran masuk kedalam ceritanya papaku juga, permainanku dan om iran' untuk menjaga paman roby... akan segerah di mulai, jadi aku harus menyiapkan banyak acting nantinya supaya papa bangga padaku.
__ADS_1