Aku Mencintai Pamanku Sendiri

Aku Mencintai Pamanku Sendiri
Bab 2 (Ternyata Mereka Bukan Orangtuanya Roby).


__ADS_3

Makan malam telah usai, dan kami bertiga di sibukan menonton acara berita yang ada di tv' om iran dan paman roby pergi keluar rumah, awalnya cuma om iran saja yang di suruh sama kakek vian untuk beli pencuci mulut keluar rumah(maksudnya cemilan) tapi lirikan matanya kakek vian memberikan tanda isyarat bahwa dia mengatakan(suruh roby untuk ikut denganmu juga) jadinya mereka masih diluar deh.


"em... Jadi papamu raka brahmanna, gak nyangkah kalau ternyata kau anaknya, wajar saja cantik' kan keturuna bokapnya juga he...he, dasar iran... kenapa dia gak kasihtau kepada kami berdua'tentang dirimu..."


"hehe... Mu... Mungkin om iran lupa memberitau pada kalian' kayaknya?..."


Kok aneh... kenapa om iran gak beritau soal ini ke mereka, apa jangan-jangan dia mau mempermainkan aku disini dulu ya, biar aku kayak anak polos yang kebingungan' si*l kenapa dia selalu mempermainkanku.


"kau tau anna, kami bekerjasama dengan papamu dan kalau tentang roby' dia bukanlah anak kami..."


"aku tau kok, ' om iran anak kaliankan he... he, walaupun aku belum tau bagaimana tentang ceritanya papa di masa mudanya waktu dulu, tapi aku pasti akan memaksa papa untuk mengatakan yang sejujurnya kepadaku... lagian? jika aku bertanya pada papa... dia selalu mengelak dan mengatakan... suatu saat nanti kau akan tau, yang terpenting papa udah jujur kepadamu kalau paman roby bukanlah paman kandungmu..."


mereka cuma menganggukan kepala tanda mengerti.


"em... anna, apa kau sudah meminta izin kepada papamu kalau kau akan tinggal di apartemenya iran..."


"em ia sudah, tapi om iran akan tinggal dimana' kalau akan menepatkan diri disana?..."


Kok aku merasa bersalah ya kepada mereka, sejujurnya aku gak ada niat mau nyusahin om iran.


"mungkin di rumah calon istrinya..."


Ha... Di umur segitu masih belum menikah yang benar saja, dasar terlalu bujangan tua.


"em, ta... Tapi apakah paman roby tau alamat apartemenya om iran..."

__ADS_1


"enggaklah' dia gak tau, karna kami bertiga merahasiakanya kepada roby..."


Rasa cemasku hilang sewaktu mendengar perkataanya nenek yanni tadi, syukurlah kalau masalah tempat tinggalku sudah beres.


"ngomong-ngomong, apa kau sudah dapat pekerjaan' anna..."


Kugelengkan kepalaku tanda menjawab.


"gimana kalau kerja di kantornya roby..."


"i... Itu, makasih atas tawaranya kek' tapi mungkin saya menolak sajalah..."


"ea... Kenapa?..."


Jari tanganku memperagakan seakan membentuk pelatuk gagang pistol, kudekatkan jari telunjuku kearah kepala.


Sampai kepalaku miring seakan terkena tembakan.


"hehe... Aku benci dalam hal mengingat, intinya otaku bermasalah' ya kata papaku, waktu dulu aku bayi prematur..."


"oh... Bayi inkubator toh, ya tidak apa-apa yang terpenting fisik tetap bagus dan sehat walafiat..."


Aku tak tau harus mengatakan apa lagi' jadinya yang kujawab cumalah cengiran lebar dan menganggukan kepala berulang-ulang kali.


"kami bisa mengerti kok' di segi keahlian ataukah penampilan manusia di dunia ini berbeda-beda jadi ikhlas dan syukurin aja, toh anna senangkan bisa ketemu sama roby..."

__ADS_1


"hehe... Ia senang banget mala..."


Nenek yanni beralih duduk di sebelahku' dia memeluku dan mengelus rambutku dengan sayang.


"bagaimana kabar nenek novi di kampung hemm..."


Entah kenapa hatiku merasa kesal sewaktu nenek yanni bertanya tentang keadaanya nenek novi di sana.


"aku gak menyukainya, kumohon jangan bahas dia..."


Tapi mala kakek vian yang balik bertanya.


"kenapa, toh nenek novikan' neneknya anna juga..."


Kulepaskan pelukanya nenek yanni, kekesalan di dadaku menggebuh-gebuh' pikiranku seakan kosong, bendungan airmataku tak bisa tertahankan.


"huuh...nenek novi selalu menyuruh-nyuruh papa bertani di ladang, menyuruh mama dan aku melakukan pekerjaan rumah tanpa bantuan darinya' bahkan dia selalu mengomel gak jelas tentang inilah-tentang itulah kalau ada masalah sepele, bahkan jika dia kumat lagi' semua barang di bantingnya kelantai, pernah waktu itu dia menampar papa karna pekerjaanya papa belum selesai' sangking kesalnya mulutku langsung membentaknya..."


Bahkan nenek yanni memeluku lagi.


"lampiaskan saja semuanya' jangan di tahan oke..."


Airmataku sudah bercucuran membasahi pipiku dan bajunya.


"nenek novi mala menjambak rambutku sampai dia membenturkan keningku ke tembok, dia cuma mengatakan... GAK ADA GUNANYA KAU HIDUP, DASAR CUCU T*L*L S*A*A*' CUMA MASALAH BELAJAR AKAN DI SEGI PERHITUNGAN AJA GAK BISA, MAU JADI APA... aku cuma diam tanpa memperdulikan nenek yang pergi entah kemana dan tanpa memperdulikan darah yang mengalir deras turun kewajahku. Papa dan mama sampai shock sewaktu melihat keadaanku..."

__ADS_1


"apa anna di bawake rumah sakit, bagaimana keadaanmu' apa kau pingsan cu..."


"enggak, aku tetap sadar' bahkan waktu kulit keningku di jahit aja aku masih tetap diam membisu tanpa memjawab perkataanya para dokter dan orangtuaku... Yang kupikirkan cuma satu yaitu orangtuaku, ada benarnya juga kata nenek novi' aku nyusahin orang..."


__ADS_2