
Pelukan akan kasih sayang seorang nenek sangatlah kuinginkan, kadang kala aku merasa membutuhkan rasa manja seperti ini' tapi sayangnya aku mendapatkan dari nenek lain.
"sampai kejadian itu, aku gak pernah membuka mulut jika di depan nenek novi' bukan berarti aku takut tapi aku terpaksa menuruti kemauanya papa' katanya jangan jadi cucu durhaka. Papa memohon kepadaku untuk jangan termakan akan emosi jika melihat kelakuan nenek, jadi ya... sampai sekarang aku hanya diam saja jika di depan nenek' layaknya menjadi cucu yang penurut..."
Aku menjauh dari pelukanya nenek yanni, sedangkan dia mengambil kotak tisu yang ada di atas meja, waktu aku lagi membesikan ingusku' tanganya mengusap poniku.
"walaupun bekas luka yang di dahinya anna adalah saksi akan rasa kasih sayangmu pada papa, tapi bagi nenek mau bekas luka sebesar apapun itu tak masalah' toh kecantikan akan wajah dan hatinya anna gak akan pernah berkurang yakan' he...he..."
Gimana aku gak terharu kalau mendengar kata-kata sebagus itu, berawal dari malam inilah aku mendapatkan nenek baru.
"ea... Ja... Jangan nangis lagi..."
"wuuaaah........hikh... Hhikhh..."
Sangking senangnya, aku sampai gak bisa mengontrol tangisanku' kudengar kakek vian terkekeh mengejeku karna mau merayuku supaya gak nangis lagi, tapi nenek yanni mala memarahi kakek vian(ternyata sifat om iran berasal dari bokapnya ya' suka mengejek haha).
Tangisanku bahkan berhenti begitu saja, waktu melihat kelakuan mereka' sejujurnya kenapa nenek novi jadi seperti itu sih, apa dia ada masalah sampai penyakit setresnya sering kambuh.
...
"lalu... Kau mau kerja dimana hemm..."
Sifat songongnya keluar lagi tuh, rasa-rasanya aku pengen bener deh ngejitak nih om bujangan tua ini' dasar.
"entah?..."
"kerja di kantor gak mau, jadi pelayan di toko gak mau, lalu mau kerja apa?..."
__ADS_1
Aku cuma menggeleng kebingungan sendiri, nenek sama kakek udah di lantai atas' hanya ada kami bertiga saja di ruang tamu, tapi kalau di pikir-pikir lagi, coba aku bertanya saja sama paman roby' males nanyain sama om iran meluluh, dia terlalu cerewet... enggak kayak paman tersayangku itu terlalu ramah tapi pendiam.
"em... Roby..."
"ya..."
"apa kantormu jauh dari sini..."
"ia, aku pulang ke rumah yang satunya' disana cuma ada maidku saja, em... Ya aku jarang pulang kemari..."
Maid' maksudnya pelayan seperti pembantukah.
"ada berapa maid?..."
"dua maid dan pak penjaga, jadi berjumlah tiga orang' satu maid berusia sama denganku dan maid satunya lagi udah ibu-ibu(jadi aku panggilnya bibik) mereka orangnya ramah..."
"gimana kalau aku menjadi maidmu..."
"kalau aku menolak..."
"aku laporkan ke ibumu he...he..."
Yang membuatku kaget' om iran mala tertawa terbahak-bahak.
"aku suka anak ini, tingkahmu mudah membuatku senang' kau kuterima menjadi pacarnya roby' haha..."
Bukanya mala kesal ataukah marah pada om iran, aku mala ikutan tertawa' toh sekarang aku punya hiburan, kulihat paman roby menjewer telinganya om iran.
__ADS_1
"aaa...duuuh, wooi' lepas, oke... Oke maaf... Maaf..."
"lain kali mulut tuh di jaga ya..."
Namanya juga dari keluargah ANWARY' ya tentu saja sifatnya om iran sama kayak kakek vian.
Dikarnakan aku sudah mendapatkan pekerjaan menjadi maid di rumah keduanya paman roby, tapi tetap saja rasanya gak tenang dan gak nyaman sebab' aku pasti akan rindu karna gak ada nenek yanni dan kakek vian disana.
Sekarang kami sudah berada di luar teras rumah elit keluargahnya ANWARY ini, om iran berpamitan mau pulang? entahlah aku ngerasa keadaan sekarang sangatlah lucu sebab masa tuan rumahnya mala pamitan mau pergi ha...ha.
Kulihat paman roby masuk kedalam rumah' katanya dia mau buang air kecil sebentar, dikarnakan gak ada paman roby jadi kami berempat langsung saja ngomongnya.
"anna gak tinggal di afartemenmu, jadi dia langsung tinggal di rumah yang lain' maunya ibu sih, anna tinggal di rumah utama ini aja' tapi ya mau bagaimana lagi..."
"maaf nenek..."
Nenek mala memeluku, ya aku sih gak keberatan kok.
"oh oke, gak apa-apa nanti aku yang akan menghubungi raka' dia pasti gak akan melarangnya dan gak akan keberatan soal ini... tapi ingat anna, jangan sampai terbongkar..."
"siap' he...he..."
Kuberi dia hormat yang bagus, biar aku menjadi anak yang patuh di keluargah ini' (ala lebay) sedangkan om iran mengelus rambutku.
"malam ini' jaga orangtuaku ya..."
Aku menganggukan kepala dan memberikan dua ibujari kehadapanya dengan cengiran yang lebar tentunya.
__ADS_1