Aku Mencintai Pamanku Sendiri

Aku Mencintai Pamanku Sendiri
Bab 17 (Jadi Troumanya Dimulai Sewaktu Dia Mendapatkan Tragedi Kecelakaan).


__ADS_3

JIKA ADA KATA-KATA YANG MENYINGGUNG ATAUKAH, ADA HINAAN YANG CUKUP KASAR' MOHON DI MAKHLUMI YA, MUNGKIN BAGIAN CHAPTER INI CUKUP BERLEBIHAN.


Bentar... bentar' seriusan nih, manja? hehe... kok aku ngerasa di dalam diriku ini mau ketawa ya sewaktu ngedengar perkataan kakek vian tadi! agak lucu aja sih' karna apa... di otaku mikir seperti ini.


Dilain sisi aku merasa papa menganggap paman roby kayak seorang anak' dan lain sisi dipikiranku mengatakan kata, kalau papa terlalu menyayangi kakek dan ibunya paman roby' sampai-sampai di relah membangkang dan bertindak kasar kepada nenek novi karna hanya untuk menjaga paman roby.


"sejujurnya' aku gak mau ngebahasnya, tapi kami kasihan melihatmu tertekan dan frustasi karna sangat terobsesi dengan cerita masalalu kakekmu..."


Kugenggam tanganya kakek vian dan mengelusnya dengan lembut.


"hehe... makasih kek' udah mau cerita padaku, walaupun gak lengkap sih..."


Malahan dia ikutan ketawa.


"oh ia... kek, apa paman roby punya trouma..."


"ea... kayaknya mungkin ada sih' pernah waktu itu aku berpura-pura berperan menjadi orang asing untuk mengadopsinya kembali, em... aku tau dia sudah cukup lama tinggal di rumah kami... dan aku selalu membuka obrolan dan bertanya bermacam-macam pertanyaan padanya' tapi malahan dia menjawabku dengan jujur walaupun matanya agak berubah tatapan kosong?..."


"hanya ada satu hal yang membuat kami penasaran..."


"penasaran?..."


"ia..."


mata kakek vian berpaling tak melihat dapaku lagi, apa segitu seriusnya trouma paman roby.


"dia tetap akan menutup mulutnya jika aku ngebahas tentang masalah bekas lukanya..."


Menutup mulut, jadi paman roby gak mau pernah terbuka akan masalah kecelakaan itu.


"bentar kek, kakek vian dan nenek yanni berpura-pura menjadi orang asing supaya bisa mengadopsi paman roby, lalu waktu itu om iran tinggal dimana..."

__ADS_1


Dan sekarang mala tante ani yang menjawab.


"tinggal bersamaku dong, kami berdua udah di jodohin dari sd' hanya saja jarang ketemu, tapi nyatanya pak vian menelpon ayahku untuk menitipkan iran di rumahku sementara waktu' baru nantinya iran di belikan afartemen..."


"ooh..."


Di jodohin dari SD, gak kusangkah om iran mau menerima perjodohan itu' ternyata udah cukup jauh juga ya hubungan mereka.


"emm' Jadi Troumanya Dimulai Sewaktu Dia Mendapatkan Tragedi Kecelakaan itu ya..."


Kok aku agak merasa dihanyutkan akan masalahnya mereka ya, walaupun hatiku terbuai akan kesedihan tapi tetap saja pikiranku terus bertanya-tanya! siapakah dalang tersebut' seakan cerita ini ada yang menganjal... pasti udah di rencanakan sedari kakek masih muda dulu.


***AKU BUKANYA BERBURUK SANGKAH KEPADA ORANG LAIN ATAUKAH su'udzon, HANYA SAJA? AYAHNYA PAMAN ROBY MENINGGAL KARNA KECELAKAAN.


DAN MALA KAKEK ALVIN JUGA MENGALAMI TRAGEDI YANG SAMA? APAKAH MESIN MOBIL MEREKA SENGAJA DI BUAT RUSAK, ALIAS REM'NYA BLONG! HA... KURASA KAYAKNYA BUKAN REM'NYA DEH YANG SALAH?? TAPI YANG PATUT DICURIGAI ITU ADALAH... SIH DALANG TERSEBUT' KUYAKIN DIA'LAH YANG JADI PENYEBABNYA, DAN DIA HARUS DI BAWA KEPENGADILAN HUKUM' BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEMUA MASALAH INI.


AHHG... KOK MALA AKU SIH' YANG HARUS MIKIRIN TENTANG MASALAH PERHUKUMAN??... ENTALAH AH...' MASA BODOH DENGAN SIH DALANG ITU***.


####????


Semenjak kedatangan Lollyta Jallyanna di kehidupanku, suasana di dalam rumah keluargahku bertambah berbeda dan malahan' iran benar-benar akrab denganya seolah mereka udah kenal lama.


Tapi yang membuatku agak aneh, sikap anna agak di tahan jika di dekatku... maksudku' jika aku di depan keluargahku, senyumanya agak sopan tapi jika gak ada aku' dia mala kekanakan di depan iran dan orangtuaku.


APAKAH DIA SUKA MEMILIH-MILIH CARI TEMAN YA?.


huuh...


Apa yang aku pikirkan ada benarnya, kalau ternyata dia sengaja mau mengerjaiku? sama dengan hal' dia tidak pernah melirik statusku melainkan dia terpokus mau melihat diriku secara dekat (apa yang dia rencanakan).


Yang lebih anehnya lagi, sewaktu kami bertabrakan di depan cafee' emosi dan perasaanku udah gak karuan, karna apa.

__ADS_1


RAMBUT, MATA, HIDUNG, DAN WAJAHNYA MIRIP SAMA PERSIS SEPERTI' sih b*r*ngs*k ITU!! kenapa... kenapa harus sama, apakah ini takdir bahwa masalaluku akan terulang lagi' bisakah aku hidup bahagia untuk kali ini saja, aku mau tenang di muka bumi ini.


Aku gak mau... aku gak mau' aku gak mau bertemu, berpapasan, bertatapan, ataukah memandangi wajah orang yang pernah membuatku kecewa? aku... aku jijik dengan oranglain yang suka mainin perasaan oranglain.


DIA... DIA... Dia yang selalu kusayangi, dia yang selalu kuhormati, dan dia yang selalu ada di sampingku' memberikanku pelukan, memperlihatkan cengiran lebarnya, dan memperlakukanku layaknya keluargahnya sendiri dengan memberiku perhatian lebihnya padaku.


Tapi sayangnya' kata-kata itu seakan udah musnah karna rasa dendamku sudah cukup kelebatan batas maksimal karna mudah terbuai akan oleh dirinya, RAKA BRAHMANA' aku gak akan pernah mau memaafkanmu.


Sekarang aku berada di ruanganku, agak gelap walaupun ada pancaran sinar matahari dari sela balik atas gorden, beberapa poto sama yang di cetak seperti biasanya, ada lemari buku, tempat tidur, meja kerja dan kursi goyang.


Langkahku berhenti di depan kursi goyang ini, bukanya mau menyalakan lampu di karnakan risih dengan ruangan yang gelap seperti ini' malahan aku lebih memilih mau mengambil (pisa* belati kecil) di bawah lantai dekat kursi goyang ini.


Selangkah demi selangkah aku berjalan kearah poster lebar yang tertempel di dinding dekat rak lemari buku' yang bergambarkan foto dirinya dan juga paman ALVIN BRAHMANNA.


Walaupun foto ini sudah jadul dengan kondisi lusuh, rusak, dan buram' tapi aku masih bisa dapat mengenalinya dan mengingatnya dengan jelas.


"paman alvin, kenapa ibuku gak memberikan fotonya padamu' kenapa kalian gak foto berdua aja..."


"bukanya mala kau harus-"


Brluus.........


Pisa*ku tancapkan kearah tepat di depan gambar wajah anaknya.


"BERFOTO DENGAN ORANG INI, KENAPA... KENAPA KAU HARUS BERFOTO DENGAN RAKA..."


Berteriak' sekaligus ngamuk.


Bahkan pisa*ku masih tetap betah tertancap di poster itu, sedangkan badanku sudah menyusut turun kebawah sambil memukul lantai yang gak bersalah di bawah telapak kakiku sekarang.


"paman, hikh... hikh... aku merindukanmu, bukankah... bukankah' kau sering memanggilku dengan sebutan, JAGOANKU..."

__ADS_1


Kuhapus kasar bekas airmata ini, tubuhku gemetaran hebat, seolah aku mengalami depresi dan stres yang berlebih.


"paman, kau senang gak jika aku m*ti juga..."


__ADS_2