
Tak ada sahutan dari sebrang sana, papa mala diam membisu memikirkan hal lain' apa mungkin papa berpikir kalau aku tau hal ini dari om iran ya.
Apa segitu pentingnya cerita itu, sampai mereka semua gak angkat bicara padaku' gimana aku mau menghargai nenek novi kalau nyatanya? semua ini gara-gara ulahnya, tapi jika takdir berbeda dari yang di harapkan maka kemungkinan status papa gak akan ada di dunia ini.
Jadi mau tidak mau, aku mesti harus menghargai nenek' walaupun aku tak menyukainya.
"papa udah janjikan, mau jawab jujur..."
Dia masih diam saja, apa telinganya mendengarkan perkataanku' tapi kenapa papa gak mau jujur... seakan mulutnya tiba-tiba di bungkam oleh lakban hitam, kumohon beritau aku.
sudah dulu ya, papa sibuk' ngurusin ladang, jaga dirimu nak...
Baru aja aku mengangak membuka mulut' mau memberitaukanya kalau aku kecewa pada papa dan nenek, tapi nyatanya? suaraku terhenti karna dia mengakhiri sambunganya.
"kecewa..."
Airmataku jatuh begitu saja' semakin sesak di dadaku... semakin sakit hatiku, jantungku berdebar tak karuan? aku tak tau' kenapa setiap kali aku meminta penjelasan padanya, yang adanya papa menolak memberitaukan hal tersebut.
"aku bisa gila' kalau kayak gini terus, dipikiranku selalu di penuhi pemikiran masalah mereka..."
Dasar paman roby b*r*ngs*k, kau membuatku penasaran akan masalalumu dan ruanganmu.
"anna..."
Kubuka berlahan telapak tanganku yang berada di sekitar wajahku sekarang, waktu aku melihat kesamping, yang memanggilku barusan tadi tuh adalah om iran' em... ternyata dia balik lagi masuk kedalam ya, yang membuatku risih sewaktu bertatapan dengan sekarang' nafasnya sangat tercium menyengat sekali, ya taulah maksudku apa bau nikotin di dalam rokok yang di komsumsi tadi.
__ADS_1
"kenapa kau nangis hem..."
Kedua telapak tanganya menghapus bekas airmataku dengan usapan lembut' mala hasil dia berhasil membuatku tenang akan rayuan perhatianya.
"om..."
"em..."
Aku memeluk tubuhnya cukup erat dan cukup lama' kuyakin dia agak kesal juga padaku, karna tadi aku memanggilnya.
"tadi raka nelponkan, ngebahas apa emangnya' sampai nangis begitu hem..."
"papa gak mau terbuka padaku, dia gak mau kasihtau padaku..."
Yang membuatku terkejut' kudengar dia menepuk jidatnya sendiri, kuarahkan kepalaku keatas memandanginya.
Marah... marah' segitu marahnya papa gak mau ngebahas tentang masalah ini, apa salahku' kutundukan lagi kepalaku kebawah, karna merasa bersalah.
"om..."
"ia?..."
"untuk kali ini saja, bisa ceritakan tentang ibunya paman roby' aku mau tau... sifatnya seperti apa?..."
Om iran melepaskan pelukanku' dan beralih mengambil kursi untuk ia duduki, lalu tanganya menuangkan air botol mineral kedalam gelas' dia menyodorkan gelas itu di depanku.
__ADS_1
"minumlah dulu..."
Aku menuruti perkataanya saja, yang kulihat dia hanya melamun sesaat dan menghela nafasnya dengan gusar' Aku tau dia agak keberatan... berlahan kedua tanganya menggenggam sebelah tanganku.
"kata raka, ibunya roby adalah sosok yang ramah dan baik' bahkan dia sangat memperhatikan roby dan raka, maksudku... dia bersikap keibuan' dia suka masak dan beres-beres rumah, tapi sayangnya dia gak suka belanja..."
"fttmm' hehe..."
Wajahnya melihat kearahku dengan tatapan bingung.
"ada apa, kok ketawa..."
"gimana gak ketawa, ternyata dia sama sepertiku' gak suka belanja, apa ibunya paman roby gak bisa menawar harga barang..."
Om iran menganggukan kepalanya, haha ternyata benar toh' mirip denganku.
"lalu... siapa yang belanja?..."
"ea' dikarnakan waktu dulu dia masih bersama suaminya' jadi ya... suaminyalah yang belanja, tapi di karnakan dia janda... jadinya kakekmulah yang menolongnya' tapi ada raka juga kok yang main kesana nemeni ibunya roby..."
"kakek dan ibunya paman robykan' mantan pacar waktu dulu, ea... apakah suaminya ibu paman roby tau hubungan mereka waktu dulu?..."
"ea?... kayaknya enggak tau tuh' lagian armahum suaminya tuh udah lama ninggal waktu berbarengan melahirkan roby..."
Meninggal, berbarengan melahirkan roby? bentar-bentar aku mau mencernah perkataanya om iran dulu.
__ADS_1
"maksud om, waktu ibunya paman roby telah selesai melakukan persalinanya' dia dapat kabar kalau suaminya meninggal tabrak lari, begitukan..."
Dia memberikan dua jempolnya di hadapanku dan mengatakan BINGGO, aku mala ketawa melihat tingkahnya tadi.