
Jangan berhenti berharap untuk yang terbaik, namun tetap persiapkan diri untuk yang terburuk.
Terimalah dengan ikhlas apapun yang Tuhan berikan untukmu.
~Ay Alvi~
Ziga merosot ke lantai, menutupi wajah dengan kedua tangannya. Ia sungguh menyesali kebodohannya, dua kali melakukan kesalahan yang sama yang membuat orang tuanya kecewa bahkan Danu sang ayah di buat meninggal olehnya.
Pria itu menangis, tangisan penyesalan atas kebodohannya. Kebodohan yang membuat Ayu semakin membencinya.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanya Erik panik begitu melihat tangan Ziga yang berlumuran darah. Dengan sigap pria itu membawa Ziga bangkit kemudian mendudukkan pria itu di sofa.
Erik pun dengan segera mengambil kotak obat untuk mengobati luka tuan mudanya tersebut. Ziga sendiri hanya menatap kosong tak bereaksi apa-apa. Pria itu seolah tak perduli pada apapun yang ada di sekitarnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Tuan?" tanya Erik, pria itu terkejut melihat keadaan ruang kantor yang berantakan di tambah lagi dengan tangan Ziga yang terluka.
Namun, sebelum Ziga menjawab pertanyaan asistennya tiba-tiba ponsel pria tersebut berdering dan itu adalah panggilan dari Hans, orang yang Ziga minta untuk menjaga ibunya.
Ziga tersentak tersadar dari pikirannya yang tadi sempat kosong. Pria itu dengan cepat menyambar ponselnya dan dengan segera menjawab panggilan dari Hans.
"Ada apa?" tanya Ziga cepat, pria itu tahu jika Hans menghubunginya sudah tentu ini menyangkut kabar tentang ibunya. Seketika pria itu panik, mengingat Ayu sang ibu meninggalkan ruangan kantornya dalam keadaan marah.
"Nyonya Tuan ... Nyonya ...."
"Apa yang terjadi pada Mamah?" tanya Ziga sebelum Hans dapat meneruskan perkataannya.
"Nyonya sekarang berada di rumah sakit Tuan," jawab Hans membuat Ziga panik.
"Kita ke rumah sakit!" titah Ziga pada Erik, pria itu bahkan tidak lagi memperdulikan tangannya yang terluka.
"Tapi Tuan ...." Erik bahkan belum menyelesaikan kalimatnya saat Ziga berlari keluar, akhirnya dengan wajah kebingungan pria itu pun bergegas mengejar sang tuan muda.
"Apa yang terjadi pada Nyonya?" tanya Erik begitu mereka berada di dalam mobil. Pria itu berusaha untuk tetap tenang dalam mengendarai mesin beroda empat itu.
"Entahlah, aku juga belum tahu dengan jelas," jawab Ziga mencoba menghubungi kembali Hans untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Ayu.
__ADS_1
Beberapa kali pria tersebut menghubungi Hans, namun tak ada jawaban dari orang yang ia percayakan untuk menjaga sang ibu.
Arghhhh ...
Ziga mulai berteriak frustasi, ia semakin menyalahkan dirinya sendiri karena pria itu yakin apa yang terjadi pada Ayu adalah akibat perbuatannya dengan Keyla tadi.
"Lebih cepat lagi Rik!" teriak Ziga tak sabar, ia ingin segera tiba di rumah sakit untuk mengetahui keadaan Ayu.
Erik tak menjawab, namun pria itu tetap menambah kecepatan mobilnya menuruti perintah Ziga. Pria itu sendiri masih belum tahu apa yang terjadi pada Ziga dan Ayu karena saat kejadian tadi Erik tengah berada di luar kantor untuk meninjau proses pembangunan hotel.
Tak berapa lama mereka pun tiba di rumah sakit. Ziga segera berlari keluar dari mobil untuk mencari ruangan tempat Ayu sang ibu di rawat.
"Apa yang terjadi dengan Mamah?" tanya Ziga cemas, nafas pria itu bahkan masih tersengal-sengal.
Hans menghirup nafas dalam-dalam, mempersiapkan diri untuk memberi kabar yang pastinya akan mengejutkan tuan mudanya tersebut.
"Nyonya mencoba bunuh diri," jawab Hans pelan, pria itu takut kalau Ziga akan syok setelah mendengar jawaban darinya.
"Lagi?!" Ziga bertanya dengan frustasi, ini kedua kalinya sang ibu mencoba untuk mengakhiri hidupnya.
Sebelum Hans menjawab pertanyaan tuan mudanya tersebut, dokter yang menangani Ayu keluar dari ruang operasi.
"Keluarga Nyonya Pratama!" panggil dokter tersebut.
"Saya putranya Dok," jawab Ziga mengajukan diri ke hadapan sang dokter.
"Bisa ikut ke ruangan saya?" tanya dokter itu.
Ziga menatap bingung, tapi kemudian pria itu mengangguk menjawab pertanyaan dokter tersebut.
"Ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda," tambah sang dokter Kemudian melangkah menuju ruangannya di susul oleh Ziga di belakang.
Sementara Erik dan Hans tetap menunggu di luar ruangan operasi menanti kabar tentang Ayu yang masih berada di dalam ruangan tersebut.
"Silakan!" ujar sang dokter mempersilahkan Ziga untuk duduk di kursi berhadapan dengannya.
__ADS_1
"Apa ada masalah yang membuat Nyonya depresi?" tanya dokter paruh baya tersebut.
Ziga terdiam, pria itu tidak mampu menjawab.
Masalah? tentu ada, bahkan masalah itu dia sendiri yang membuatnya. Ziga tahu benar kalau apa yang di lakukan oleh sang ibu adalah akibat dari perbuatannya tadi. Ia sadar semua itu adalah kesalahannya hingga membuat sang ibu mencoba bunuh diri untuk yang kedua kalinya.
"Saya tidak tahu pasti Dok," jawab Ziga berbohong, ia tidak mungkin menceritakan pada sang dokter bahwa Ayu ibunya depresi akibat melihat perbuatannya dengan Keyla.
Sang dokter menghela nafas, pria itu berpikiran kalau Ziga mungkin terlalu sibuk hingga tidak memperhatikan keadaan sang ibu yang bisa jadi merasa kesepian sehingga membuat wanita itu depresi dan mencoba untuk bunuh diri.
"Bisakah Anda meluangkan waktu sedikit untuk Nyonya?" tanya dokter hati-hati, pria itu takut akan menyinggung perasaan Ziga karena sepertinya pria yang ada di hadapannya sedang dalam suasana hati yang buruk.
Ziga mengusap wajahnya kasar, bukannya pria itu tidak ingin meluangkan waktu untuk sang bunda, tapi Ayu lah yang selama ini tidak ingin menemui Ziga bahkan wanita paruh baya itu tidak ingin mendengar namanya.
Maka dari itu, Ziga sendiri cukup terkejut ketika Ayu datang ke kantornya tadi. Sayangnya wanita itu datang di waktu yang tidak tepat sehingga harus melihat kejadian yang membuatnya kecewa bahkan depresi hingga akhirnya mencoba untuk bunuh diri.
Sejujurnya Ziga merasa beruntung atas kedatangan Ayu karena jika saja sang ibu tidak datang tentu pria itu akan terjerumus pada kesalahan yang sama karena tergoda oleh rayuan Keyla.
"Nyonya sangat membutuhkan perhatian dan juga kasih sayang, jangan biarkan Nyonya bersedih atau memikirkan banyak masalah." Dokter itu mewanti-wanti Ziga agar tidak terjadi lagi hal seperti ini yang tentunya akan sangat membahayakan nyawa Ayu.
"Baiklah, terimakasih Dok," ucap Ziga mengulurkan tangan menjabat sang dokter.
"Sama-sama Tuan. Saya harap Anda mengingat pesan yang tadi Saya sampaikan," ujar dokter mengingatkan kembali Ziga.
Ziga pun mengangguk, ia mengerti apa yang di maksud oleh sang dokter. Pria itu pun segera keluar dari ruangan dokter untuk melihat Ayu yang kini telah di pindahkan ke ruang perawatan
Erik dan Hans telah berada di ruangan tempat Ayu dirawat saat Ziga masuk ke dalam sana.
Pria itu memandang sang ibu yang kini tengah terbaring dengan wajah yang pucat. Ini adalah kedua kalinya Ayu mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Membuat Ziga sendiri bingung bagaimana menghadapi sang ibu ketika ia tersadar nanti.
*****
Terimakasih telah membaca AKU MENCINTAIMU 2 dan terimakasih juga untuk yang telah memberikan like, coment dan juga votenya.
Ay cuma minta kalian jangan lupa untuk like jika selesai membaca karena satu like kalian sangat berharga bagi kami para penulis.
__ADS_1
Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘