Aku Mencintaimu 2

Aku Mencintaimu 2
Bab 6


__ADS_3

Waktu adalah senjata, jika kau dapat menjalankannya dengan baik maka ia akan membawamu pada keberhasilan.


Namun, jika kau kau menjalankannya dengan buruk, maka ia akan membawamu dalam kehancuran.


~Ay Alvi~


Tak terasa kehamilan Via telah memasuki trimester akhir. Berat badan wanita itu pun semakin bertambah seiring membesarnya perut Via yang kini tengah mengandung anak kembarnya.


Tinggal menghitung hari untuk menunggu proses persalinannya. Akan tetapi walau dalam keadaan perut yang besar, Via tetap aktif bergerak dan selalu beraktifitas seperti biasa.


Seperti saat ini misalnya, wanita itu tengah membantu persiapan acara pernikahan Maureen yang akan di gelar dua hari lagi. Via merasa bahagia karena sebentar lagi sahabatnya itu akan melepas masa lajangnya. Setelah cukup lama menjadi tunangan Demyan, akhirnya Maureen setuju untuk menikah dengan duda satu anak itu.


"Halo Aunty!" sapa Eva putri pertama Demyan dari mendiang istri pertamanya.


"Hai Eva!" sahut Via mencium pipi chubby bocah kecil yang baru berusia lima tahun itu.


Eva tertawa riang, bocah itu senang di sayang dan di manjakan oleh Via. Mereka berdua tertawa bersama sembari merangkai bunga yang akan di gunakan untuk acara pesta pernikahan Maureen esok hari.


Maureen yang melihat kebahagiaan Via dengan anak tirinya itu pun ikut bergabung bersama mereka. Calon nyonya Demyan Petrov itu pun memeluk Eva dan menghujani wajah bocah kecil itu dengan ciuman yang membuat Eva merasa geli dan berteriak meminta ampun.


"Mami stop please!" ucap Eva menutupi pipinya dengan kedua buah tangannya sembari mengerucutkan bibirnya.


Maureen dan Via pun tertawa melihat tingkah Eva yang sangat menggemaskan itu. Selama ini Eva telah menganggap Maureen sebagai ibu kandungnya. Sejak lahir bocah kecil tersebut tidak pernah melihat bagaimana wajah dan rupa sang ibu.


Maureen pun sangat menyayangi Eva seperti layaknya putri kandungnya sendiri. Karena sedari kecil Maureen telah merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang tua membuat kasih sayang yang ia curahkan kepada Eva tulus apa adanya.


Mereka berdua pun akhirnya membantu Via untuk merangkai bunga.


"Apa pria itu masih mencari keberadaan Leea?" tanya Mr. Petrov pada Demyan sang putra.


Saat ini mereka tengah menyaksikan kebahagiaan Via, Maureen dan Eva dari lantai atas rumah mewah tersebut.


"Ya, tapi Papah tak perlu khawatir Aku telah menutup semua informasi tentang Leea," jawab Demyan pasti.


"Tak akan ada seorang pun yang mampu menemukan keberadaan putri kecil Papah." Demyan menambahkan seraya menatap wajah sang ayah yang tampak bahagia mendengar ucapannya tersebut.

__ADS_1


Mr. Petrov sangat menyayangi Via, kehadiran wanita itu dapat menghapus kesedihannya karena telah di tinggalkan oleh putri bungsunya.


Mr. Petrov menghela nafas, pria tua itu tampak tengah berpikir keras.


"Apakah aku terlalu kejam?" tanya Mr. Petrov kepada putranya masih terus menyaksikan Via dan yang lainnya tengah tertawa gembira.


Demyan menarik nafas sebelum menjawab pertanyaan ayahnya. Matanya memandang dengan seksama wajah pria di hadapannya yang kini telah nampak menua dengan garis-garis kerutan di wajahnya.


"Tidak Papah," jawab Demyan.


"Kau bisa lihat sendiri bagaimana bahagianya Leea sekarang," tambah Demyan.


Mr. Petrov kembali melihat ke arah anak angkat, calon menantu dan cucunya yang tengah bersenda gurau di lantai bawah. Tak terasa sebulir air mata menetes membasahi wajah rentanya.


Mungkin kebanyakan orang mengenal Mr. Petrov sebagai pria yang kejam, namun bagi keluarga terdekatnya pria itu hanyalah seorang pria tua yang berhati rapuh. Sejak kematian istri dan putri bungsunya, Mr. Petrov bertambah kejam di luar. Semua itu untuk menutupi rasa kehilangan yang cukup besar dan juga agar orang luar tidak tahu tentang kelemahannya.


"Aku harap Leea bisa bahagia hidup bersama kita," ucap Mr. Petrov yang kemudian melangkah pergi menuju kamarnya.


Demyan menatap kepergian sang ayah dengan tatapan kekaguman. Dia begitu mengagumi pria tersebut, karena walau sudah renta tapi semangatnya begitu luar biasa.


Mereka berdua sama-sama merasakan kehilangan dua orang yang paling di cintainya, namun Mr. Petrov tampak lebih tegar bahkan pria itu mampu mengalahkan semua lawan-lawannya hanya dalam sekejap mata.


Ziga kembali mengunjungi Ayu sang ibu di Meadow Lane. Walau wanita itu terus menolak kedatangannya Ziga tidak pernah menyerah. Berbulan-bulan belakangan ini yang dapat di lakukan pria itu adalah mengawasi dan memperhatikan sang ibu dari kejauhan. Namun, hari ini Ziga memberanikan diri untuk menemui Ayu secara langsung.


Walau nantinya sang ibu akan marah ataupun mengusirnya, Ziga tak perduli. Pria itu merindukan Ayu, merindukan kasih sayang seorang ibu.


Ayu tampak duduk di kursi taman belakang rumahnya di Meadow Lane. Wanita itu tampak memandangi ikan yang tidak pernah lelah hilir mudik di dalam kolam. Ayu kembali teringat mendiang suaminya. Tempat ini adalah tempat favorit mereka untuk melepas lelah ketika Danu masih hidup.


Biasanya mereka menikmati pemandangan di kawasan Meadow Lane dari kursi tersebut terkadang sambil memberi makan ikan-ikan di dalam kolam.


Pah, apa kabarmu di sana? Apa kau tenang di sana? Ayu bertanya-tanya di dalam hatinya.


Kepergian Danu yang begitu mendadak membuat wanita itu masih belum mampu untuk menerimanya. Apalagi penyebabnya adalah putra kandungnya sendiri. Maka dari itu kebencian di hati Ayu kepada Ziga semakin membuncah tatkala melihat wajah putra semata wayangnya tersebut.


"Apa kabar Mah?" tanya Ziga, tiba-tiba pria itu telah duduk di sisinya tanpa Ayu sadari.

__ADS_1


Ayu tak menjawab, wanita itu bangkit dari duduknya ingin melangkah pergi meninggalkan anaknya tersebut.


Namun, sebelum Ayu beranjak pergi, Ziga meraih tangan ibunya dan duduk bersimpuh di hadapan wanita paruh baya tersebut.


"Maafkan aku Mah," ucap Ziga penuh dengan penyesalan.


"Aku mohon maafkan aku," pinta Ziga berharap sang ibu mau memberikan maafnya.


Ayu tak menggubris perkataan Ziga, wanita itu menghempaskan tangan putranya tersebut dengan kasar. Tetapi, lagi-lagi Ziga tak menyerah, pria itu kembali meraih tangan sang ibu dan dengan erat menggenggamnya.


"Silakan hukum aku dengan cara yang lain Mah, tapi tolong jangan diamkan anakmu ini," lirih Ziga sarat dengan kesedihan.


"Aku mohon Mah!" Ziga terus meminta masih dengan duduk bersimpuh di hadapan Ayu.


"Pergilah!" usir Ayu.


"Aku tidak mempunyai anak seorang pembunuh!" Ayu berkata dengan suara bergetar karena menahan emosi kemarahan di hatinya.


Bulir bening menetes dari sudut mata Ziga, pria tidak menyangka bahwa sang ibu masih tetap menganggapnya sebagai seorang pembunuh.


"Tolong maafkan aku Mah," ucap Ziga tak menyerah, dia menciumi punggung tangan sang ibu.


Namun, hati Ayu tak goyah. Seolah terbuat dari baja yang tak dapat meleleh dengan sentuhan air mata dan permohonan maaf anaknya.


Ayu kembali menghempaskan tangan Ziga, dengan kejam wanita itu bergegas meninggalkan putra semata wayangnya yang masih terus di dera rasa bersalah.


****


Hai, terimakasih sudah membaca AKU MENCINTAIMU 2, jangan lupa untuk like, coment dan juga votenya ya.


Biar ay lebih semangat dalam berkarya.


Mampir juga di novel karya Ay yang lainnya.


•TAKDIR CINTA

__ADS_1


•TERJERAT CINTA si CUPU


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘😘


__ADS_2