
Semua yang sudah hilang pasti kembali dan semua yang pergi akan pulang. Tidak perlu takut dalam menjalani hidup dan selalu percaya bahwa hidup memang indah untuk dijalani.
~Ay Alvi~
Via memandang kedua buah hatinya yang tengah terlelap di dalam box bayi. Wanita itu sama sekali tidak menyangka bahwa kini ia telah memiliki putra dan putri yang tampan dan cantik. Buah karya dirinya dan Ziga sang suami. Walaupun kebersamaan mereka hanya sebentar tetapi dapat membuahkan hasil yang kini telah berada di hadapannya.
Melihat putranya, Via kembali teringat Ziga suaminya. Apakah kabarnya? Bagaimana keadaannya? Apa pria itu telah memiliki pengganti dirinya?
Berbagai pertanyaan muncul di benak Via, tak ada seorang pun yang mampu untuk menjawabnya, bahkan Via sendiri tak berani berandai-andai untuk mencari jawabannya.
"Pagi!" sapa Demyan membuyarkan lamunan Via.
"Bagaimana kabar jagoan dan putri kecilku?" tanya Demyan melongok ke dalam box memperhatikan kedua bayi yang tengah terlelap itu.
"Baik Kak, mereka tidak rewel dan juga sangat pintar," jawab Via sembari membelai putra dan putrinya dengan lembut agar tidak terbangun dari tidurnya.
"Maaf, Aku telah membuat pesta kakak menjadi kacau," sesal Via merasa tak enak hati karena pesta pernikahan Demyan dan Maureen terganggu akibat kontraksi yang di alaminya.
"Dasar bodoh! Mengapa berkata seperti itu? Tentu saja Kau dan mereka lebih penting dari pesta pernikahan raja sekalipun," tegas Demyan menunjuk ke arah bayi-bayi yang tengah terlelap.
"Apa kau sudah memikirkan nama untuk mereka?" tanya Demyan kali ini pria itu mencoba membelai kedua bayi mungil tersebut dengan gerakan yang teramat lembut.
Via mengangguk mantap, ibu muda itu memang telah lama menyiapkan nama untuk kedua buah hatinya.
"Untuk yang laki-laki Aku memberinya nama Aiden Raffasya Pratama yang artinya bayi laki-laki yang berani, berkedudukan tinggi, beruntung dan terpuji," jawab Via menjelaskan tentang arti nama putranya.
"Dan yang perempuan Aku beri nama Zeline Zakeisha Pratama yang artinya anak perempuan penghuni surga yang cantik," tambah Via.
"Nama yang bagus," puji Demyan.
"Apa kau yakin akan tetap menggunakan nama keluarga Pratama di belakang nama mereka?" tanya Demyan penasaran, pasalnya kini Via bernama belakang Petrov seperti hal dirinya.
__ADS_1
Via mengangguk mantap, wanita itu memandang kedua buah hatinya yang kini telah membuka mata dan menatap ke arahnya.
"Bagaimana pun juga mereka adalah keturunan Pratama, aku tidak ingin dan tidak akan bisa menghapus darah pria itu yang mengalir di tubuh mereka," jawab Via mengangkat Zeline ke dalam gendongan karena putri kecilnya itu menangis.
Demyan menghela nafas, apa yang di katakan oleh Via memang benar. Darah lebih kental dari air dan tak ada yang dapat memungkiri hal itu. Walau Via adalah adik angkatnya tapi Demyan tak ingin memonopoli kehidupan wanita itu.
Via memiliki hak sendiri untuk kehidupannya, walau sebenarnya hal itu membuat Demyan sedikit kecewa. Pria itu sangat menyukai putra dan putri Via, ia bahkan menganggap kedua bayi itu adalah anak kandungnya.
"Baiklah, katakan padaku jika ada sesuatu yang kau butuhkan," ucap Demyan sembari pamit karena sepertinya Via ingin menyusui Zeline.
Via mengangguk sebagai jawaban, wanita itu pun mulai menyusui putrinya yang terlihat lapar.
Madrid, Spain.
Fello kembali menjalani aktifitasnya seperti biasa, namun tetap saja pria itu masih penasaran tentang keberadaan Via.
Dia memerintahkan beberapa orang untuk melacak keberadaan Via tanpa sepengetahuan Steve.
Fello sengaja melakukan itu karena Steve tidak mendukung bahkan melarang keras Fello untuk mencari kabar tentang Via. Bukan tanpa pertimbangan pria itu melarang artisnya untuk mencari keberadaan Via, ia hanya tidak ingin Fello mendapat masalah secara Via adalah wanita yang telah menikah. Steve ingin pria itu memiliki perasaan yang wajar dengan mencintai gadis lain bukan Via yang telah bersuami.
Gadis cantik yang berprofesi sebagai pengacara terkenal yang berasal dari USA.
Steve mengenalnya dari seorang teman, wanita berusia 24 tahun itu baru saja menyelesaikan sebuah kasus besar yang melibatkan karir Fello dan kasus itu berakhir dengan kemenangan di pihak mereka. Oleh karena itu Steve berharap Fello dapat menerima Jesica bahkan menjalin hubungan dengan gadis berparas cantik itu.
"Fello, perkenalkan ini pengacara yang membela kita, Nona Jesica Parker," ucap Steve memperkenalkan gadis yang kini duduk di hadapan mereka.
Pria itu memang mengatur janji temu keduanya di sebuah restauran untuk makan siang agar suasana lebih santai dan tidak canggung.
"Fello." Pria itu menyebutkan namanya kemudian mengulurkan tangan sopan ke arah Jesica.
"Jesica," balas gadis itu menampilkan senyum manisnya, ia menyambut jabatan tangan Fello dengan ramah.
__ADS_1
Fello pun tersenyum menyambut Jesica, walau sebenarnya pria itu tidak terlalu tertarik, tapi ia masih menghargai usaha Steve. Kegigihan Steve membuat Fello mencairkan hati pada akhirnya. Setidaknya untuk saat ini ia akan mencoba untuk bisa dekat dengan Jesica sesuai dengan harapan dan keinginan manajernya tersebut.
Jesica tersipu malu melihat Fello yang terus memandangnya. Bunga-bunga bermekaran di dalam ruang hati gadis itu. Mungkin inilah yang di namakan cinta pada pandangan pertama. Seperti itulah yang Jesica rasakan pada Fello. Hatinya langsung bergetar begitu melihat pria itu.
Akhirnya dengan rasa canggung mereka pun melanjutkan acara makan siang mereka di selingi dengan beberapa obrolan mengenai pekerjaan.
"Ada hal yang harus aku urus, Kau tolonglah antar Nona Jesica ke hotel tempat ia menginap." Steve berkata sembari mengambil kunci mobil milik Fello yang tergeletak di atas meja.
Tanpa menunggu jawaban dari keduanya Steve melesat pergi meninggalkan Fello dan Jesica yang tampak kebingungan. Pria itu sengaja memberikan kesempatan pada mereka berdua agar lebih akrab dan ini adalah salah satu caranya.
Fello dan Jesica saling berpandangan, mereka tidak mengerti apa yang di maksud oleh Steve. Pria itu mengambil kunci mobil milik Fello dan membawanya pergi, akan tetapi Steve juga meminta Fello untuk mengantarkan Jesica. Apa yang akan Fello gunakan untuk mengantarkan Jesica?
"Dengan sangat menyesal sepertinya Aku tidak bisa mengantarmu Nona," ucap Fello penuh sesal.
"Kau lihat sendiri, kunci mobilku di bawa oleh Steve." Fello menggerutu karena kemungkinan besar ia kembali pulang dengan menggunakan taksi.
Jesica tertawa mendengar pria itu menggerutu akibat asistennya yang tidak berpikir panjang.
"Mungkin yang benar adalah Aku yang mengantarmu Tuan," ucap Jesica menggoyangkan kunci mobil miliknya.
Akhirnya mereka berdua pun tertawa lepas, karena sepertinya peran mereka menjadi terbalik.
****
Terimakasih telah membaca Aku Mencintaimu 2. Dan terimakasih untuk yang telah memberikan like, coment dan juga votenya.
Atas dukungan dari kalian semua akhirnya Ay memutuskan untuk meneruskan cerita ini hingga tamat. Buat yang tidak suka silakan tinggalkan bacaan ini tanpa harus berkomentar yang menyakitkan hati Ay dan membuat Ay patah semangat.
Untuk yang masih setia Ay ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya.
Salam sayang dari **Ay si Author recehan 😘😘😘.
__ADS_1
Semoga Allah, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melindungi kita semua di pandemi yang berkepanjangan ini.
(Aamiin**)