Aku Wanita Programmer Kini Hidup Sebagai Penyihir Abadi Di Dunia Lain

Aku Wanita Programmer Kini Hidup Sebagai Penyihir Abadi Di Dunia Lain
MENIKMATI KEHIDUPAN MENJADI PENYIHIR


__ADS_3

Aku dan Eine melangkahkan kaki menuju desa Muara, konon desa Muara memiliki legenda tentang Siluman Kera yang bisa berbicara dan sering menjahili serta mencuri panenan warga desa terutama beruapa buah-buahan.


"Eine, apa kita masih jauh?"


"Sebentar lagi, kak Vika. Sekitar 20menit lagi kita sampai"


"Hadeh... Masih lama itu, kaki kakak sudah gak kuat jalan. Bisa kita rehat dulu?"


"Wah kakak Penyihir ternyata lemah juga, Eine malah baik-baik saja berjalan jauh"


"Iyah... Hehe..."


Aku mengeluarkan ekspresi wajah lemah lembut, dan sedikit keyakinan kecil karena....


"Mau gimana lagi, aku tidak pernah jalan sejauh ini semenjak bekerja. Hanya duduk di depan layar monitor, memainkan keyboard dan membuat kode-kode program untuk meeting selanjutnya"


Eine memberikan aku buah apelnya lagi, serta botol minuman air bening.


"Ini kak, makan dan minum dulu. Biar stamina kakak pulih"


"Wah... Gadis mungil yang usia dibawah usia ku ternyata sungguh polos dan baik hati. Jarang sekali aku menemukan orang sebaik Eine di dunia lamaku, apalagi di kehidupan kota lebih parah lagi, mereka sangat acuh dan putus komunikasi. Bahkan di dunia lamaku gadis seusia Eine juga sama begitu payah."


Aku membuat ekspresi mata berbinar-binar melihat kebaikan Eine, memberikan apel dan minuman buatku.


"Terima kasih, Eine. Kamu baik sekali"


"Sama-sama, Kak. Kalau kakak sudang mendingan, ayo kita lanjut lagi"


"Iya, nanti kita lanjut lagi"


Aku mulai memakan buah apel, aneh memang buah dunia ini. Rasanya segar dan nikmat, sari buah dalam kandungan apel juga terasa melegakan mulutku. Beda sekali yang dulu pernah ku beli apel di toko swalayan, rasanya pahit dan seperti ada obat suntikan untuk menahan buah menjadi tahan lama dan tidak mudah busuk.


*Glek...*


Setelah aku menelannya, aku meminta Eine untuk melanjutkan jalan kita.


"Ayo Eine, kondisi kakak sudah pulih"


Eine memberikan senyumannya, dan kita melanjutkan perjalanan lagi. Sesudah beberapa menit kemudian, akhirnya sampai juga kita di depan pintu masuk desa Muara yang dipagari menjulang tinggi bertuliskan 'Selamat Datang di Desa Muara'.


"Fu... Akhirnya dari... sekian lama aku menunggu, menunggu kedatangan mu. Telah lama aku menunggu, untuk berjumpa denganmu"


Eh buset dah, macam lagu si raja dangdut dari negeri wkwk land.


"Ayo kak, ikut Eine ke rumah Eine"


"Oke!"


Kita pun bergegas masuk ke desa, terlihat kakek tua sedang mencangkul di ladangnya menyapa Eine dan Aku yang baru saja masuk.


"Wah... Eine ternyata, selamat datang kembali Eine"


"Iya kakek"


"Oya, ada pelancong dari luar desa ternyata? Selamat datang di desa, gadis muda nan anggun"


"Iya, terima kasih kakek"


Aku dan Eine menyapa balik si Kakek, memberi salam, menundukkan kepala.


Lalu segera kami pergi dan sampai di depan pintu rumah Eine, yang mungkin terlihat seperti kandang kuda tetapi justru sebuah pondok, tempat tinggal Eine. Dan aku pun mengucapkan salam 'Permisi' saat memasuki kediaman Eine.


"Silahkan istirahat kak, anggap saja rumah sendiri"


"Omong-omong, kemana orang tua kamu Eine? Apa dia lagi di ladang bekerja?"


Eine menaruh ranjang buah berisi apel di atas meja panjang, dan mengambil satu piring lalu menyuguhkan tiga apel di atas piring dan memberikan ke aku yang duduk di kursi dan aku menaruh piring itu diatas meja bulat yang ada didepan ku.


"Sebenarnya, orang tua Eine sudah lama meninggal. Papah mamah dibunuh sama monster serigala, ketika pergi ke kota. Dan Eine hanya punya Nenek, dia tinggal di pelosok desa, jauh dari keramaian kak"


"Ah... Maafkan kakak, sudah membuat mengingat kenangan buruk kamu. Kakak turut berduka, Eine"


"Yah, Eine baik-baik saja kok. Terima kasih, kak"

__ADS_1


Eine kembali ceria, memperlihatkan senyumannya kepada ku.


"Mungkin dengan skill Low Class ku, Miracle, bisa saja membangkitkan mereka. Tapi sayangnya jasad mereka tidak ditemukan, itu membuat sulit bagiku"


Tapi kuputuskan enggan memberitahu soal kekuatan ku itu, ada kemungkinan akan berdampak buruk jadi ku urungkan.


"Jauh juga Nenek kamu tinggal, apa beliau tidak apa-apa?"


"Iya, Nenek baik-baik saja. Sendirian disana, terkadang Eine yang menengok Nenek dan membawakan buah apel untuk Nenek"


"Eine sungguh anak berbakti dan anak hebat yah..."


Sambil kupuji dan mengelus kepala Eine, yang selama ini tinggal sendirian dan harus menanggung beban mencari makanan dan minuman. Aku bermalam di kediaman Eine, aku merasa sedih mendengar cerita Eine. Kalau esok ada yang bisa ku bantu, aku sangat ingin membuat Eine bahagia dan tersenyum selamanya.


Keesokan harinya, pagi cerah, embun pagi perlahan menghilang, ayam berkokok membangunkan aku dari tidur lelap ku. Ku buka jendela, terik matahari yang hangat menyinari permukaan tanah, menyambut kehidupan baru di desa Muara.


"Selamat pagi, Dunia!"


Kusapa kepada dunia atas karunia dan rasa terima kasih untuk membawaku ke dunia ini. Ku dengar suara ketok pintu, Eine memanggil namaku.


"Kak Vika! Apa kakak sudah bangun?"


"Sudah bangun, Eine!"


Perlahan ku langkahkan kaki ku membuka pintu kamar, berdua berjalan kebawah menuruni tangga untuk sarapan pagi.


"Apa yang akan kamu lakukan hari ini, Eine?


"Tidak ada menarik sih, mungkin Eine akan menjenguk nenek. Apa kakak mau ikut?"


"Hm... Aku tidak ikut dulu, aku mau menyapa kepala desa dan mungkin berjumpa sama kakek tua kemarin. Apa bajk-baik saja kesana sendirian?"


"Oh oke kak, tenang saja. Tidak usah khawatirkan Eine, sudah terbiasa pergi ke rumah nenek"


"Ya, Eine. Hari ini kita makan apa?"


"Ah... Maaf kak, hanya ada 2 helai roti. Apa gak apa nih?"


"Wah... Sudah cukup jtu, terima kasih Eine"


"Roti? Tidak ada isi!? Sungguh malang Eine ku ini"


Sambil ku pandang wajah Eine yang langsung menyantap rotinya...


"Selamat makan! Ayo kak, dimakan rotinya"


"Ah iya, Selamat makan!"


Sehabis kita berdua makan, Eine langsung menyiapkan ranjang berisi buah apel untuk dibawa ke rumah Nenek. Setelah semua sudah siap, aku dan Eine berpisah hari ini.


"Eine! Hati-hati dijalan!"


Sambil ku lambaikan tangan, lalu Eine berteriak juga melambaikan tangannya.


"Iya kak! Terima kasih!"


Aku membalikan badan mencoba mencari kakek tua kemarin yang menyapaku. Dan seperti biasa, si kakek tua hari ini juga berladang.


"Halo kakek, selamat pagi!"


"Oh... Selamat pagi, gadis muda"


"Hehe, panggil saja aku Vika"


"Oh... Gadis muda ini namanya Vika ya, namanya yang elok"


"Ah kakek bisa aja, tapi terima kasih kek"


"Ha..ha..ha.."


Canda tawa kakek mencairkan suasana percakapan ku ini.


"Omong-omong, kakek lagi apa?"

__ADS_1


"Ini kakek lagi mencangkul, menanam ubi untuk makanan harian kakek. Oh... Itu di sana ada ubi yang sudah kakek ambil dan masak, bisa kamu ambil dan makan"


"Wah... Boleh kek? Bentar, ku ambilkan dulu"


Aku mengambil ubi itu untuk bisa dimakan berdua.


"Ini bagian buat kakek juga, terima kasih kek"


"Oh... Sama-sama"


*Nyam*


Kakek mencoba untuk berdiri...


"Aduh... duh... duh... Pinggang kakek sakit lagi"


"Waduh, bentar kek. Duduk dulu kek, sini biar aku sembuhin pinggang kakek"


"Hm... Sembuhin?"


Kakek pun duduk lagi... Dan aku memegang punggung kakek sambil menggunakan skill sihir 'Miracle'... Menyembuhkan pinggang kakek yang sakit, kini sudah sehat dan tidak sakit lagi.


"Ho... Ho... Ho... Terima kasih banyak, gadis muda. Kamu ternyata penyihir yah, kamu hebat"


"Hehe... Sama-sama kek"


"Oh... Kamu kemarin tinggal bersama Eine ya?"


"Iya kek"


"Hm... Bagus lah, dia sekarang hidup sebatang kara. Kedua orang tuanya meninggal dibunuh monster ganas saat di hutan"


"Iya yah kek"


"Sekarang dia kemana?"


"Eine pergi ke rumah nenek, kek"


"Nenek? Eine sudah tidak punya nenek lagi. Neneknya sudah lama meninggal, Vika. Apa dia tidak cerita ke kamu?"


Aku kaget mendengar omongan kakek, mana mungkin Eine bohong dan mana mungkin kakek ini bohong. Perasaan gelisah menghantui pikiran dan hatiku.


"Tunggu kek! Apa itu benar? Tapi Eine beneran pergi ke rumah neneknya..."


"Iya, gadis muda"


"Oke kek, terima kasih. Aku jemput Eine dulu, dadah kakek!"


Aku langsung bergegas meninggalkan kakek, pergi ke tempat nenek Eine berada.


Ya benar, apa yang terjadi di dalam perasaan gelisahku beneran terjadi. Ku temukan pondok nenek Eine, tapi Eine tidak ada! Yang ada hanyalah seekor serigala yang sedang memakan sesuatu.


"Mustahil!"


Aku dengan segera mengeluarkan sihir 'Torches' membakar pondok ini, yang di dalam nya masih ada monster serigala.


"Ya Tuhan... Bahkan seorang penyihir seperti ku tidak bisa menyelamatkan satu anak kecil, yang hidupnya sebatang kara. Apa gunanya aku menjadi penyihir, apa gunanya punya kekuatan dahsyat, apa gunanya aku dibawa ke dunia ini, jikalau aku tidak bisa menyelamatkan Eine!"


Aku pun mulai meneteskan air mata ku, di depan kobaran api pondok itu.


...*....aku pun menangis kencang, air mata ku mengalir deras bagaikan air terjun, meratapi kepergian Eine yang bisa sudah ku anggap menjadi adik kandungku...*...


Setelah itu, aku bergegas meninggalkan desa Muara. Yang mencoba aku untuk pergi ke kota, yang kata kakek tua itu ada di sebelah barat. Aku menelusuri hutan, aku mengalahkan monster-monster di hutan yang menyerangku, aku menaikan kemampuanku sehingga mencapai kemungkinan mentok atau maksimal kalau ini di dalam game dan ada sistem level.


Banyak slot skill sihir yang ku dapatkan dari mengalahkan monster-monster, bahkan aku sudah mempunyai 10 skill Super High Class, 25 High Class, 10 Medium Class, 5 Low Class. Dan aku juga mendapatkan kemampuan unik yaitu jobclass ku berubah nama menjadi 'Penyihir Abadi', yang membuatku hidup abadi dan tidak akan bisa mati.


Bukan hanya itu, aku pun merasakan adanya evolusi dalam diriku. Membuat meningkatkan semua atribut ku dan bahkan sekarang aku memiliki keterampilan ketahanan, salah satunya ada 'Immune All Damage', 'Immune All Debuff', 'Immune All Resistance', 'Immune All Round'. Ya ini mungkin terdengar seperti Cheat, aku pun mulai waspada dengan kekuatan dahsyat ku ini.


Walaupun begitu, ini mungkin terdengar aneh... Kalau aku sudah mengalahkan semua monster di hutan ini, tidak ada lagi tanda kehidupan monster di hutan ini. Aku berharap desa Muara menjadi aman dan tentram selamanya.


Selama perjalanan ku sembari mengalahkan monster, yang akhirnya aku sudah hidup lebih dari 1000 tahun. Aku sama sekali tidak merasakan itu, kalau sudah 1000 tahun lebih aku berburu. Dan itupun aku belum pernah pergi ke kota, apalagi berjumpa dengan manusia. Yang mana 1000 tahun lebih ini, membuat ku merasakan sedikit yang namanya Kesepian.


Tentu kekuatan dahsyat ku ini, slot skill semakin bertambah banyak. Yang bisa dihitung ada 100 skill untuk satu tingkatan, jikalau semua tingkatan ada 400 skill. Dan aku hanya menggunakan sihir-sihir kecil secara berulang kali saat mengalahkan monster. Mungkin 400 skill ini bisa akan bertambah lagi tergantung dari syarat kondisi untuk mendapatkan skill baru, mungkin saja. Bahkan aku sekarang memiliki skill 'Drain', yang menyerap skill musuh dan dijadikan skill baru untuk ku.

__ADS_1


Namun, ini sudah saatnya aku pergi ke kota. Mencari yang namanya Guild Adventure, yang dulu Eine pernah bercerita kalau di kota ada tempat semacam itu. Yang menerima pekerjaan untuk mengalahkan monster dan membentuk party lalu berpetualang bersama. Wah... Mungkin tidak cocok bagiku, tapi kurasa perlu juga untuk pergi ke kota. Alasan lainnya itu adalah mencari informasi dan mencari sihir Dimensi Dunia atau Dimensi Waktu. Karena aku belum mendapatkan skill itu, aku beneran perlu skill itu.


__ADS_2