
Masih didalam ruang rawat pasien, Zeya yang baru saja selesai sarapan pagi, tidak lama kemudian seorang perawat telah datang untuk melepaskan selang infusnya karena sebuah permintaan dari pasien sendiri.
"Kamu itu ya, bandel banget sih. Kalau selang infusnya di lepas, dan kamu jatuh sakit lagi, siapa yang repot. Kamu ini selalu aja bikin masalah." Bentak Rouki yang tidak peduli dengan adanya seorang perawat di dekatnya.
"Kamu tidak perlu repot-repot menolongku, jugaan aku tidak meminta bantuan darimu. Itu kesalahan kamu sendiri, kenapa mau-maunya mengantarkan aku ke rumah sakit. Lagi pula, kamu sangat tidak suka dengan keberadaanku. Terus, kenapa tidak biarkan saja aku mati." Jawab Zeya yang kini mulai berani, meski sebenarnya hatinya sangatlah rapuh.
Rouki yang tidak ingin berdebat dihadapan seorang perawat, memilih untuk keluar dan meninggalkan istrinya sendirian didalam kamar pasien.
Zeya hanya bisa melihat kepergian suaminya yang dengan tega mengabaikan dirinya.
"Nona, Tuan Rouki mana?" tanya Bi Neni saat baru saja datang.
"Pergi, Bi." Jawab Zeya tetap menunjukkan sikap biasa-biasa saja.
"Hari ini Nona sudah diperbolehkan untuk pulang. Perlu diingat juga, Nona harus jaga kesehatan dengan sebaik mungkin. Hindari dari pikiran yang dapat memicu kesehatan Nona." Ucapnya, Zeya mengangguk tanda mengerti.
"Baik, saya akan menjaga kesehatan saya dengan baik. Terimakasih atas pelayanan dari rumah sakit ini, tidak harus menunggu lama dirawat, dan kini saya sudah diperbolehkan untuk pulang." Jawab Zeya yang merasa lega, dan tidak menjadi beban untuknya.
"Kalau begitu saya permisi, Nona." Ucapnya berpamitan.
Dan kini tinggallah Zeya ditemani Bi Neni yang siap membantunya untuk bersiap-siap untuk pulang ke rumah.
Tapi, tiba-tiba ingatannya tertuju pada ayah mertuanya yang diketahui tengah dirawat di rumah sakit yang sama.
"Bi, bagaimana dengan kondisi Papa?" tanya Zeya penuh khawatir.
"Tuan Kusuma baik-baik saja, Nona. Syukurlah, jika Nona sudah diizinkan untuk pulang ke rumah. Bibi sangat senang mendengarnya, soalnya Bibi takut jika Nona Zeya kenapa-napa." Jawab Bi Neni dengan senyum bahagia, lantaran istri majikannya telah diperbolehkan pulang, yang berarti kesehatannya sudah pulih, meski belum sepenuhnya.
"Ya, Bi, Zey juga bosan jika harus nginap lagi di rumah sakit. Soalnya bentar lagi Zey mau ada reunian di panti asuhan, juga akan bertemu dengan teman lama."
"Bibi ikut seneng, soalnya Nona sudah kembali ceria. Oh ya, kalau boleh tahu, Tuan Rouki mau kemana ya, Nona?"
__ADS_1
"Tadi saya sudah bilang sama Bibi, soal Mas Rouki, Zey gak tau mau kemana perginya. Zey gak punya hak apapun untuk bertanya kemana perginya, lebih baik Zey diam, Bi."
"Nona yang sabar, ya. Bibi yakin kalau Tuan Rouki pasti akan berubah, dan akan mengejar Nona."
"Bibi mah bisa aja kalau menghibur Zey, bikin terpesona." Kata Zeya dengan tawanya yang renyah.
"Ah, Nona Zey mah gitu. Sini, biar Bibi bantuin beres-beres. Setelah ini, Nona akan diantarkan pulang sama Pak Gani."
"Tapi, Bi."
"Kenapa lagi, Nona?"
"Zey ingin melihat kondisi Papa, Bi. Zey pingin menemui Papa sama Mama sebentar."
"Boleh, tapi gak boleh lama-lama. Soalnya Nona Zey harus perbanyak istirahat, agar kesehatan Nona segera pulih kembali."
"Siap, Bi." Kata Zeya dan segera keluar, dan menemui ayah mertua bersama ibu mertuanya.
Sedangkan di lain sisi, rupanya Rouki sudah berada di ruang pasien yang bernama Alya, kekasih Rouki.
Rouki membuang napasnya dengan kasar, juga mengacak rambutnya sudah seperti orang yang sedang frustrasi.
"Aku belum bisa, sayang. Ditambah lagi ayahku sedang sakit-sakitan, tentu saja aku tidak ingin menjadi beban masalah untuk orang tuaku." Jawab Rouki yang bimbang atas keputusan untuk diberikannya kepada kekasihnya.
"Dia kan, bukan ayah kandung kamu. Terus, mau sampai kapan kita akan terus seperti ini, sayang? aku juga sudah gak tahan ingin bercu_mbu mesra denganmu. Aku ingin mendapatkan perhatian yang penuh darimu, yakni sebagai istrimu." Ucap Alya dengan terang-terangan.
"Meski bukan ayah kandungku, mereka berdua yang sudah membesarkan aku hingga menjadi lelaki yang kamu sukai. Bersabarlah, aku akan usahakan untuk mencari cara agar kita bisa bersama."
"Kita melaku_kannya atas dasar suka sama suka, bagaimana? aku siap." Bisik Alya didekat daun telinga Rouki.
Rouki yang mendengarnya, hatinya bergemuruh hebat. Pasalnya, selama menikah, dirinya sama sekali belum menyentuh istrinya, walau itu hanya sebatas menci_um.
__ADS_1
"Ini rumah sakit, jangan membicarakan hal yang dapat memancingku. Ah ya, aku sampai lupa. Hari ini kamu sudah diizinkan untuk pulang, 'kan?"
"Ya, hari ini aku sudah diizinkan untuk pulang. Setelah itu, aku akan mengajakmu di suatu tempat yang tidak akan pernah kita lupakan bersama, besok malam." Jawab Alya sambil bergelayut manja di lengan milik Rouki.
Tidak mau otaknya mudah terpancing dengan ucapan kekasihnya, Rouki segera pergi dari ruangan pasien.
"Ya udah, aku pulang. Jaga diri kamu baik-baik, kabari aku kalau kamu sudah pulang." Ucap Rouki berpamitan.
Alya yang berhasil membujuk dan merayu kekasihnya, hatinya berbunga-bunga.
"Dan akulah pemenangnya. Setelah aku dan Rouki melakukan hub_ungan terlarang, sepenuhnya akan menjadi milikku seutuhnya." Gumamnya saat tidak lagi terlihat sosok kekasihnya.
Sedangkan di ruang rawat Tuan Kusuma, Zeya tengah menghampiri ayah mertuanya yang tengah duduk bersandar dengan pergelangan tangan yang masih terpasang dengan selang infus.
"Maafkan Zeya ya, Pa. Maafkan Zeya yang sudah membuat Papa seperti ini."
Ayah mertua tersenyum mendengarnya.
"Kamu tidak salah, sakitnya Papa memang mudah kambuh. Tapi bukan karena kamu, melainkan Papa sendiri yang tidak bisa menjaga kesehatan Papa."
"Semoga cepat sehat kembali ya, Pa."
"Ya, Nak. Oh ya, suami kamu mana? perasaan Papa tidak lihat Rouki, apa dia pulang?"
"Zeya tidak tahu, Pa. Soalnya Mas Rouki tadi kelihatannya sibuk gitu, mungkin enggak sempat pamitan, Pa." Jawab Zeya beralasan, karena tidak mungkin juga jika dirinya mengatakannya dengan jujur.
"Oh, kirain Papa kalian berdua bertengkar."
"Enggak kok, Pa." Jawab Zeya sebaik mungkin.
"Ya sudah, lebih baik kamu pulang. Sayangi kesehatan kamu ya, Nak." Timpal ibu mertua ikut bicara.
__ADS_1
"Ya, Nak. Kamu harus banyak istirahat, sayangi kesehatan kamu. Soal Rouki, kamu tidak perlu memikirkannya. Percayalah sama Papa, Rouki nanti akan menyesal sendiri setelah mengabaikan kamu." Ucap ayah mertua.
"Ya, Pa. Kalau begitu Zey pamit pulang, Ma, Pa. Zeya pulang dulu ya, semoga Papa segera sembuh dan segera pulang dengan sehat." Jawab Zeya berpamitan.