
"Rupanya Zeya sudah mulai berani denganku, baguslah. Aku tidak repot-repot untuk menyalahkan dirinya, aku harus menggunakan kesempatan emas untuk menunjukkan kesalahannya terhadap diriku didepan Mana dan Papa. Saat itu juga, Zeya akan dibenci. Bodo_hnya aku, kenapa aku baru kepikiran untuk mencari kesalahan dirinya. Ya! aku harus memanfaatkan kesempatan ini, karena kesempatan tidak datang dengan mudahnya." Gumamnya saat dirinya menentukan ide yang menurutnya sangatlah tepat, dan tidak peduli jika dirinyalah yang akan terperangkap dengan idenya sendiri.
Zeya yang memang merasa jenuh terus-menerus harus berada didalam kamar, sebisa mungkin untuk menghilangkan kejenuhannya.
"Loh, Nona kok keluar dari kamar. Nona baik-baik saja, 'kan? Nona kan bisa tekan tombolnya untuk panggil saya."
"Gak ah, Mbak. Saya gak mau selalu ngerepotin Mbak Titi terus, lagi pula saya gak sakit serius, hanya tidak enak badan saja. Oh ya, Mbak Titi sedang apa? boleh ya, saya temani."
"Aduh Nona, kalau bisa jangan deh. Takutnya Tuan Rouki melihat, dan maki-maki saya."
"Tenang saja, Mbak. Mas Rouki saya jamin tidak akan marahi Mbak Titi, percaya deh sama saya." Kata Zeya berusaha untuk tidak membuat Mbak Titi khawatir.
"Tapi saya mohon, Nona jangan ikut-ikutan bantuin saya. Kalau Nona tetap memaksa, saya akan segera menghubungi Tuan Kusuma dan Nyonya." Jawab Mbak Titi yang takut jika dirinya mendapat teguran, dan juga bisa saja akan dipecat dari pekerjaannya.
"Ya, Mbak, saya hanya mau menemani Mbak Titi saja. Soalnya saya jenuh di dalam kamar, dan sengaja keluar untuk mendapatkan suasana yang baru." Ucap Zeya tanpa ada beban apapun, karena memang dirinya tidak mau ambil pusing atas hubungan pernikahannya.
Sedangkan Mbak Titi yang harus mengawasi Zeya, sedari tadi pikirannya sama sekali tidak tenang, lantaran harus memikirkan keadaan Zeya yang kapan saja bisa mendapatkan bentakan dari Tuannya.
Lain lagi dengan Rouki, dirinya tengah berbaring di atas tempat tidurnya sambil merentangkan kedua tangannya, juga menatap langit-langit kamarnya.
Satu tahun sudah, Rouki menjalani hubungan pernikahannya bersama Zeya, perempuan pilihan kedua orang tuanya dari wasiat mendiang kedua orang tua Zeya sebelum meninggal.
"Andai saja aku mampu memberontak, mungkin saja aku bisa merasakan bahagia dalam hubungan pernikahan. Tidak seperti yang aku rasakan saat ini, aku harus menikah dengan perempuan yang sama sekali tidak aku sukai. Bahkan, aku sama sekali tidak tertarik dengannya." Gumamnya sambil menatap langit-langit kamarnya.
Rasa penat karena harus memikirkan hubungannya dengan Alya yang sampai detik ini belum juga mendapat restu dari kedua orang tuanya, Rouki merasa kesal sendiri.
Karena belum juga mengganti pakaiannya sejak pulang dari rumah sakit, ia baru menyadarinya dan segera membersihkan diri.
__ADS_1
Baru saja bangkit dari tempat tidur, ia dikagetkan dengan panggilan di telponnya. Dengan cepat kilat, Rouki langsung menyambar ponselnya dan langsung melihat siapa orangnya yang datang.
Rasa penasaran dengan panggilan nomor telpon yang jarang sekali menelpon, Rouki langsung menerimanya.
"Apa! perse_tan! kalau begitu." Bentaknya dalam panggilan telponnya.
Saat itu juga, seolah darahnya mendidih dan membuat napasnya terasa begitu panas. Rouki yang saat itu juga melihat gelas di dekatnya, ia langsung menyambar dan menggenggamnya dengan sangat kuat hingga pecahlah gelas yang ada ditangannya.
"Mas Rouki!" teriak Zeya saat melihat tangan kiri milik suaminya terluka dengan dar_ah segarnya yang menetes ke lantai.
Rouki sendiri tidak menggubris dengan teriakan istrinya yang menjerit memanggil namanya.
Saat itu juga, Zeya langsung mengambil kain untuk membalut tangan milik suaminya yang begitu banyak mengeluarkan da_rah segar, agar tidak terus menerus keluar. Kemudian ia segera menghubungi dokter pribadinya.
"Lepaskan! jangan sentuh lukaku, pergi kau dari hadapanku." Bentak Rouki sambil mengibaskan tangannya yang terluka.
"Diam! kau, ini semua gara-gara kamu yang sudah menghancurkan segalanya, termasuk mengambil alih kasih sayang orang tuaku." Bentak lagi dari Rouki dengan menatap istrinya dengan tajam, juga dengan napasnya yang sulit untuk diatur ritme nya.
Zeya yang tidak peduli dengan segala tuduhan dari suaminya, dirinya nekad untuk membalut tangannya yang ada lukanya.
"Mas, kita ke rumah sakit saja, bagaimana? aku takut luka kamu itu serius."
"Kamu tahu apa soal luka, ha! kau itu sama sekali tidak mengenal apa itu yang namanya luka."
"Dan Mas Rouki juga tidak pernah mengenal apa itu rasanya sakit, ya! sakit. Yang Mas Rouki tahu itu hanya luka, tapi gak tahu rasanya itu sakit itu apa."
"Kau! apa bedanya luka dengan sakit, aku yang sudah kamu lukai atas nama pernikahan, juga aku harus mendapatkan luka serta sakit."
__ADS_1
"Terserah Mas Rouki mau menuduhku apa, aku tidak peduli. Kalaupun bukan sebuah permintaan dari kedua orang tuamu, mungkin saja hidupku akan jauh lebih baik dari ini."
Rouki yang mendengar istrinya bicara, langsung duduk di sofa dan sama sekali tidak merespon.
Sedangkan Zeya, dirinya mencoba untuk mengatur napasnya yang hampir saja terbuai dengan emosinya.
'Maafkan aku yang sudah ikutan membentak kamu, Mas. Jujur, aku sudah lelah dengan semua ini. Kalaupun bukan permintaan kedua orang tua kita, mungkin aku sudah menolak dari awal. Karena aku tidak mau terjadi sesuatu hal buruk kepada kedua orang tuamu, aku memilih pasrah. Sakit, itu sudah pasti aku rasakan sejak awal pernikahan kita. Tapi, apalah dayaku, aku tak mampu untuk melukai kedua orang tuamu.' Batin Zeya sambil berdiri didekat suaminya.
Tidak lama kemudian, sudah datang seorang Dokter masuk ke kamar dengan didampingi asisten rumah.
"Permisi, Tuan, dan Nona." Ucap seorang asisten rumah saat berada di ambang pintu kamar.
Rouki maupun istrinya yang tengah dikejutkan, langsung mendongak ke arah pintu.
"Dokter Radit, silakan masuk." Sahut Rouki saat melihat dokter Radit yang sudah datang.
"Terimakasih, Tuan." Jawab Dokter Radit dan segera masuk ke dalam kamar.
"Mana lukanya, Tuan? kata Nona Zeya, tangan Tuan terluka."
"Ya, ini." Jawab Rouki dengan malas, sedangkan Zeya memilih duduk di sofa yang jaraknya tidak jauh dengan suaminya.
Rouki yang malas harus ditemani istrinya, memilih untuk mengusir istrinya keluar.
"Kamu keluar sebentar, aku sedang tidak ingin obrolan ku dengan Dokter Radit didengar olehmu." Ucap Rouki tanpa malu jika ada Dokter Radit sekalipun.
"Baik, aku akan segera keluar. Dan untuk Dokter Radit, saya titipkan suami saya. Obati lukanya, dan bila perlu diberi obat penenang." Jawab Zeya dan juga bicara kepada Dokter Radit.
__ADS_1
Sebenarnya Dokter Radit pingin sekali tertawa saat melihat ekspresi temannya yang lucu itu, tapi ditahannya.