
Setiap malam hari masih seperti biasanya yang sering dilewati oleh keduanya, yakni Zeya dan Rouki yang selalu tidur bersebelahan. Namun, keduanya seperti tidak saling mengenal satu sama lain.
Entah perasaan yang bagaimana, Rouki tetap menunjukkan sikap dinginnya yang terus-menerus kepada sang istri hingga berjalan satu tahun lamanya.
Zeya, perempuan yang sudah diajarkan hidup mandiri untuk menjalani kehidupannya tanpa hadirnya kedua orang tuanya. Namun, tak membuatnya menyerah walau sepahit apapun nasib yang harus dijalaninya.
"Sudah malam, matikan laptopnya." Ucap Rouki yang hendak menyambar sebuah laptop milik istrinya.
Naas, Zeya lebih sigap dan langsung menghalangi niat dari suaminya.
Kemudian, ia mendongak dan menatap suaminya.
"Kalau Mas Rouki mau tidur, silakan. Aku masih belum mengantuk, dan juga harus menyelesaikan tugasku dari pihak Panti asuhan. Jadi, biarkan aku bergadang malam ini." Jawab Zeya.
"Kau benar-benar bandel rupanya, apa perlu aku menggendong kamu?"
Zeya sama sekali tidak peduli dengan ucapan suaminya, seolah tak mendengarnya.
Rouki yang mulai kesal, langsung mengangkat tubuh istrinya dengan paksa.
"Mas Rouki, lepaskan. Aku bisa jalan sendiri, turunkan aku." Ucap Zeya sambil memukul dada bidang milik suaminya dengan tenaganya yang cukup kuat.
Rouki tidak mempedulikannya sama sekali.
Kemudian, ia menjatuhkan tubuh istrinya di atas tempat tidur, dan ditariknya selimut tebak untuk menutupi sebagian anggota tubuhnya hingga sampai menutup bagian dadanya.
"Aku belum cuci muka, juga belum sikat gigi, dan yang lainnya." Gerutu Zeya dengan penuh kesal.
Rouki langsung menoleh pada istrinya.
"Kamu gak perlu cuci muka, juga gak perlu sikat gigi. Jugaan, siapa yang mau tergoda sama kamu." Kata Rouki sedikit mengejek.
Dengan reflek, Zeya langsung mendongak pada suaminya dengan tatapan yang tidak kalah kesalnya.
"Sok tahu banget kamu, Mas, memangnya kamu saja yang laku. Dih, kepedean." Ucap Zeya sambil memajukan bibirnya sedikit manyun di kalimat terakhirnya.
Rouki yang malas membalas ucapan dari istrinya, langsung menarik selimut dan memposisikan tidurnya dengan membelakangi istrinya.
"Awas saja kau, Mas Rouki." Gumamnya sangat lirih di dalam selimut, tetap saja dapat didengar oleh suaminya.
__ADS_1
Rouki yang mendengarkannya, pun tidak peduli dan memilih untuk memejamkan kedua matanya agar bisa tidur dengan pules.
Begitu juga dengan Zeya, langsung memejamkan kedua matanya untuk tidur. Berharap, paginya akan temukan senyuman untuknya.
Begitu pulas keduanya terlelap dari tidurnya, hingga terbangun di waktu yang sama.
Rouki yang terburu-buru untuk berangkat ke kantor, langsung membersihkan diri. Sedangkan Zeya, membereskan meja yang semalaman digunakan untuk menyelesaikan tugasnya dari pihak panti asuhan.
Acara yang diselenggarakan cukup besar dan harus membutuhkan waktu yang lama untuk menyiapkan keperluan serta yang lainnya, Zeya tidak menyerah untuk menyelesaikannya.
"Kenapa badanku panas gini, perasaan semalam baik-baik saja. Mana berasa dingin, lagi. Ah biarlah, entar aku hubungi Ibu panti untuk memberiku waktu. Lagi pula masih kurang beberapa hari lagi, hari ini sepertinya aku harus istirahat total." Gumamnya sambil membereskan meja.
Badan yang terasa sakit semua, Zeya kembali ke tempat tidur dan meringkuk seperti orang kedinginan.
Rouki yang baru saja keluar dari kamar mandi, tidak memperhatikan istrinya yang menggigil kedinginan, lantaran suara Zeya lebih rendah ketimbang suara ponselnya yang berdering.
"Halo, sayang, ada apa?" tanya Rouki dibalik ponselnya.
Dibalik suara telpon, terdengar jelas rengekan dari kekasihnya.
"Apa, ke rumah sakit. Kamu gimana sih, aku harus ngantor hari ini. Pekerjaanku sangat padat, juga ada pertemuan penting dengan kolega. Jadi, kamu sabar saja dulu. Setelah pulang dari kantor, aku akan langsung ke rumah sakit." Jawab Rouki yang tidak ingin kehilangan kesempatan emasnya.
Saat itu juga, pandangannya Rouki tertuju pada Zeya, istrinya yang terlihat menggigil di balik selimut.
"Zey, Zeya, kamu kenapa?" panggil Rouki khawatir.
"Panas, badan kamu sangat panas." Ucapnya setelah mengecek suhu tubuh istrinya.
Suara kekhawatirannya, pun dapat didengar oleh Alya, kekasihnya.
"Drama apa lagi di rumahnya? sial! benar-benar sial, akunya. Zeya pasti sedang bersandiwara, agar Rouki mau memberi perhatian untuknya." Ucap Alya menggerutu penuh kesal, lantaran diabaikan oleh Rouki.
Dengan perasaan cemas, Rouki langsung menggendong istrinya dengan terburu-buru menuruni anak tangga untuk di bawa ke rumah sakit.
"Rouki, kenapa dengan Zeya?" tanya sang ibu khawatir saat putranya menggendong istrinya dengan terburu-buru.
"Demam, Ma. Tubuh Zeya panasnya sangat tinggi, dia menggigil." Sahut Rouki sambil mempercepat jalannya.
Sang ibu langsung mengejarnya dan ikut menemani putranya pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
"Pergi, aku gak butuh kamu. Pergi, aku benci kamu." Ucap Zeya mengigau, Rouki yang duduk sambil memangku istrinya, seperti mendapat sindiran darinya.
Ibunya yang duduk di sebelah kemudi, merasa sedih dan juga penuh dengan rasa bersalah.
"Pak Karto, cepetan dikit jalannya. Cepat tambahkan gasnya, cepetan." Perintah Rouki yang sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumah sakit.
Pak Karto yang tidak ingin menanggung resiko yang lebih besar, tetap dengan laju kendaraan yang tidak menimbulkan bahaya.
Tidak memakan waktu yang cukup lama, akhirnya sampai juga di rumah sakit. Rouki yang sudah tidak sabar untuk memeriksakan istrinya segera.
"Silakan untuk menunggu di luar, Tuan, Nyonya." Ucap seorang dokter yang hendak masuk ke ruang pemeriksaan.
"Baik, Dok." Jawab Rouki dan ibunya bersamaan.
Kini, keduanya sama cemasnya, lebih lagi ibunya Rouki yang begitu mengkhawatirkan kondisi menantunya. Ditambah lagi yang sempat mengigau, tentu saja kepikiran akan perlakuan putranya pada Zeya, menantunya.
"Rouki, kenapa Zeya bisa demam? ayo jawab, apa yang sudah kamu lakukan padanya, jawab."
"Mana aku tahu, Ma. Aku tuh gak tahu sama sekali, tiba-tiba aja dia menggigil saat aku keluar dari kamar mandi." Jawab Rouki yang tidak ingin disalahkan.
"Terus, kenapa Zeya mengigau seperti itu ha?"
"Ya mana aku tahu sih, Ma. Dia yang mengigau, kenapa mesti tanya ke aku sih. Ya mungkin aja dia cuma drama aja. Akhir akhir ini kan, dia rada aneh. Mungkin aja dia mau bales dendam sama aku, bisa aja gitu." Jawab Rouki yang tidak ingin disalahkan.
Sang ibu menatapnya dengan serius.
"Yakin, sedikitpun kamu tidak merasa bersalah?" tanya sang ibu dengan tatapan serius.
"Ma, semalam tuh, Zeya memang bergadang."
"Kamu bilang apa tadi, semalam Zey Bergadang?"
Rouki mengangguk.
"Tapi aku sudah melarangnya, juga memaksa dia untuk tidur. Jugaan dia langsung tidur, kok. Mama ini kenapa sih, perasaan sama Zeya sayang banget, melebihi aku. Jangan-jangan Zey anaknya Mama dan Papa yang sesungguhnya, dan aku anak yang dimanfaatkan kekayaannya sama Mama dan Papa."
Deg!
Seketika, kalimat yang dilontarkan oleh Rouki telah menusuk sampai ke ulu hati ibunya.
__ADS_1
Kalimat yang begitu menusuk hingga ke ulu hatinya, sakit dan teramat sakit untuk diterima. Bahkan, terasa sesak untuk bernapas.
"Rouki! jaga mulutmu kalau bicara." Bentak ayahnya yang baru saja datang.