
Setelah berpamitan, Rouki menyempatkan untuk mencium kening milik istrinya. Kemudian, menatap wajah istrinya penuh makna.
Zeya yang begitu khawatir akan keselamatan suaminya, benar-benar sulit untuk membayangkannya.
Saat itu juga, Zeya langsung memeluk suaminya saat dirinya merasa takut jika kehilangan orang yang mulai dicintainya dengan sepenuh hati.
Rouki yang juga takut akan menjadi korban, sebisa mungkin untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan sesuatu yang dapat mengurangi semangat istrinya.
Setelah berpamitan kepada istrinya, Rouki tak lupa juga untuk berpamitan kepada kedua orang tuanya, serta meminta doa agar dirinya selamat dan tidak menjadi sasaran empuk oleh lawannya.
"Ma, Pa, Rouki berangkat dulu ya, do'akan Rouki agar selamat sampai tujuan, dan juga selamat kembali ke rumah." Ucap Rouki yang tengah berpamitan, serta meminta doanya.
Sang ibu tersenyum mendengarnya, begitu juga dengan sang ayah yang ikutan tersenyum.
__ADS_1
"Jaga diri kamu baik-baik, semoga kepergian kamu ini tidaklah sia-sia, dan pulang dengan selamat." Ucap sang ibu yang tidak lupa menyemangati putranya.
Rouki yang sudah tidak sabar untuk mengetahui kebenarannya, cepat-cepat untuk berangkat dengan anak buahnya.
"Papa hanya bisa mendoakan kamu, semoga kamu selamat sampai rumah." Ucap sang ayah yang kesehatannya mulai menurun karena penyakit yang dideritanya.
Rouki yang tengah dalam perjalanan menuju markas, strateginya sudah direncanakan untuk mengantisipasi gawat darurat. Bahkan, beberapa anggota polisi telah melakukan sebuah penyamaran di sebuah markas.
Kali ini markasnya tidak seperti markas yang tersembunyi, justru markas kali ini sama halnya seperti restoran.
Begitu juga dengan Rouki, dirinya masih berada dalam perjalanan.
Di sudut ruangan, ada Alya yang pernah menjalin hubungan asmara bersama Rouki. Juga, yang duduk di sekeliling Alya ada beberapa orang tengah menikmati makan malam bersama.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, Alya. Dengan menggunakan cara dari Paman, maka kamu dengan mudah akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Bahkan, rasa sakit hatimu akan dibayar dengan lunas. Tapi ada syaratnya, kamu harus membu_nuh Zeya dalam waktu dekat ini, bagaimana?"
"Tenang saja, Paman. Aku pastikan, bahwa aku pasti bisa jika hanya untuk menyingkirkan Zeya. Paman tidak perlu pusing, karena aku memang ingin membalaskan dendamku pada Zeya, dan dia harus segera aku singkirkan, apapun itu. Siapapun tidak ada yang boleh memiliki Rouki selain aku, titik." Jawab Alya dengan terang terangan, tidak peduli jika harus mele_nyapkannya seseorang yang menjadi saingannya.
"Good good good, kamu memang pintar dan sangat cerdik dengan cara berpikir mu, Nak. Kau sama seperti Paman mu ini, yang sebenarnya sudah mengadu domba Rouki dengan orang tuanya, agar mereka percaya jika Rouki adalah anaknya Paman. Kamu tahu, Paman sebenarnya bukanlah bagian keluarganya. Justru dalam waktu dekat ini, Paman akan memb_unuh kedua orang tuanya Rouki."
"Kalau putriku yang menjadi ancaman, bagaimana?" tanya ibunya Alya yang merasa khawatir akan keselamatannya.
"Mbak Rana tidak perlu khawatir, bukankah ini semua atas permintaan kamu karena ingin membalaskan dendam kedua orang tua kita?"
"Ya, benar, jika putriku yang terancam, bagaimana?"
"Tenang saja, kita pasti bisa melen_yapkan mereka, terakhir kita akan meleny_apkan Rouki setelah semua hartanya dapat kita kuasai." Ucapnya meyakinkan.
__ADS_1
Seketika, Rouki yang tengah mendengar kebusukan hati orang orang-orang yang tengah berkumpul, rahangnya mendadak mengeras, dan semua giginya beradu satu sama lain. Kedua tangannya mengepal kuat, sorot matanya berubah menjadi tajam saat mendengar jelas dengan alat pendengarannya dengan jarak yang tidak begitu jauh.