Aku Yang Kau Abaikan

Aku Yang Kau Abaikan
Berpamitan


__ADS_3

Setelah itu, Rouki segera keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur untuk meminta asisten rumah untuk mengantarkan makan malam untuk istrinya.


"Rouki, Zeya mana?" tanya sang ibu yang sudah ditemani ayahnya di ruang makan.


"Ya Rouki, Zeya kok tidak ikutan turun." Timpal sang ayah ikut bicara.


"Sedang tidak enak badan, Pa, Ma. Jadi, Rouki mau meminta tolong sama Bibi untuk mengantarkan makan malam untuknya, sekalian untukku." Jawab Rouki yang ikutan duduk bersama kedua orang tuanya.


"Sudah minum obatnya belum? jangan sampai gak loh, harus kamu beri obat pada istrimu." Ucap sang ibu, Rouki hanya tersenyum mendengar perkataan suaminya.


"Ya, Ma, nanti akan Rouki kasih obat untuk Zeya. Ya udah ya Ma, Pa, Rouki mau ke kamar nemani Zeya makan malam."


"Ya, gak apa-apa." Ucap sang ibu, Rouki segera kembali ke kamarnya.


Sedangkan kedua orang tuanya tengah menikmati makan malamnya tanpa ditemani anak bersama menantunya.

__ADS_1


Meski tidak ada anak dan menantu yang menemaninya makan malam, kedua orang tuanya Rouki merasa lega saat melihat keakraban Rouki bersama Zeya seperti yang diharapkannya.


"Semoga saja sikap Rouki tidak berubah, dan bertambah sayang pada istrinya." Ucap ayahnya Rouki sambil menikmati makan malamnya.


"Ya, Pa, semoga saja mereka berdua bahagia dan menjalani hubungan pernikahannya dengan keharmonisan." Timpal ibunya Rouki ikut berdoa untuk putranya, juga menantunya.


Di lain sisi, Rouki tengah menyuapi istrinya dengan penuh perhatian. Zeya merasa begitu bahagia saat dirinya mampu memenangkan hati sang suami.


"Sekarang giliran aku yang akan menyuapi kamu, Mas." Ucap Zeya sambil menyendok nasi beserta sayur dan lauknya.


"Tapi aku malu, Mas."


"Tuh kan, Mas lagi Mas lagi, sayang dong." Kata sang suami sambil mengunyah.


Zeya yang mendapat senda gurauan dari suaminya, terasa begitu bahagia seperti yang diharapkan sejak dulu awal menikah.

__ADS_1


Zeya yang begitu sabar menghadapi sikap suaminya yang terbilang cukup menguras pikirannya, juga perasaannya. Namun, tidak membuat sosok Zeya menyerah dalam menghadapi sikap suaminya padanya.


Dengan penuh kesabarannya, akhirnya Zeya mampu melewati segala macam ujian yang ia terima dengan hati yang lapang tanpa menyusahkan dendam maupun yang lainnya.


Tidak terasa menikmati makan malamnya sambil mengobrol, akhirnya habis juga porsi makannya masing-masing.


Rouki yang sudah mempunyai janji kepada beberapa anak buahnya, segera ia berangkat dan tidak ingin kesempatannya hilang untuk menangkap pelakunya yang sudah menjadi provokator.


"Sayang, aku pergi dulu ya, kamu hati-hati di rumah. Jika kamu menginginkan sesuatu, kamu minta tolong sama asisten rumah, atau pelayan lainnya." Ucap Rouki yang langsung berpamitan.


Zeya yang awalnya keberatan untuk mengizinkan suaminya pergi, mau tidak mau akhirnya menyetujuinya.


"Tapi malam ini kamu pulang, 'kan? aku takut jika terjadi sesuatu padamu."


"Kamu tidak perlu takut, percayalah padaku, semuanya akan baik-baik saja. Yang harus kamu pikirkan adalah keselamatan kamu jika ada sosok yang akan mengincar dirimu, karena malam ini aku tidak bisa menjamin dengan keselamatan aku sendiri." Jawab Rouki yang seolah seperti mau perpisahan.

__ADS_1


Zeya yang mendengarnya, pun serasa lemas tubuhnya, seolah yang diucapkan oleh suaminya benar adanya dan sesuatu hal buruk segera menghampirinya.


__ADS_2