Aku Yang Kau Abaikan

Aku Yang Kau Abaikan
Di rumah sakit


__ADS_3

Rouki masih diam, tak menyahut sepatah katapun pada ayahnya.


"Dapat dari mana kalimat seperti itu, Rouki?" tanya sang ayah pada putranya.


"Tidak penting aku tahu dari mana, yang jelas, Papa dan Mama lebih mementingkan Zeya ketimbang aku yang katanya anak kandung Papa. Tapi kenyataannya, aku bukanlah anak kandung kalian." Jawab Rouki tanpa menghadap orang tuanya, yakni ke sembarang arah.


"Permisi, salah satu keluarga pasien diminta untuk menemui dokter Radja." Ucap seorang perawat menghampiri Rouki dan kedua orang tuanya.


"Baik, Dok." Jawab Ibunya Rouki, perawat tersebut mengangguk dan bergegas melanjutkan tugasnya.


Rouki masih berdiam diri, tak sedikitpun hatinya tergerak untuk menemui Dokter.


"Rouki, kamu suaminya, sekarang juga cepetan kamu temui Dokter Radja di ruangannya." Perintah ibunya, Rouki tidak menjawab sama sekali, dan langsung pergi begitu saja.


Tuan Kusuma yang hampir saja terbawa emosi, akhirnya dapat diredakan.


"Pa, apa yang harus kita lakukan? siapa sebenarnya yang sudah menghasut putra kita."


"Papa kurang tahu, Ma. Sudahlah, fokus dulu dengan kesehatan Zeya. Soal Rouki, biarkan saja. Nanti pelakunya juga bakal menunjukkan jati dirinya di hadapan kita, tidak perlu dibuat pusing atau penat. Ya udah, ayo kita temui Zeya, kita lihat keadaannya." Jawab Tuan Kusuma pada istrinya.


"Mama nurut saja sama Papa, semoga semuanya baik-baik saja." Kata sang istri.


Karena tidak mungkin untuk membicarakan masalah anaknya di tempat umum, Tuan Kusuma bersama istrinya langsung menemui menantunya yang tengah di rawat.


Saat berada di dalam ruangan pasien di rawat, ibu mertua mendekati menantunya yang tengah tidur karena efek obat.


Rasa sedih dan juga merasa bersalah, ibunya Rouki seperti dihantui dengan rasa penyesalan.


"Maafkan Mama ya, sayang. Maafkan atas kesalahan Mama yang sudah memaksa kamu untuk menikah dengan Rouki, lelaki yang tak pernah memberi cinta maupun perhatiannya kepadamu. Untung saja Dokter Radja masih ada, kalau sampai gak ada dokter yang aktif di rumah sakit ini, entah gimana caranya mencari rumah sakit yang dokternya sebaik Dokter Radja." Ucapnya lirih sambil mengusap keningnya hingga ke ujung kepalanya dengan perasaan penuh sesal dan merasa bersalah pada menantunya.


Rouki yang baru saja menemui Dokter Radja, ia kembali ke ruang rawat istrinya.

__ADS_1


Sedangkan Zeya yang ketiduran karena efek obat, tiba-tiba reaksi obat sudah tidak lagi bekerja. Pelan-pelan, Zey menggerakkan jari jemarinya sambil mencoba untuk membuka kedua matanya.


Kemudian, Zeya mengamati isi ruangan pasien yang ia tempatinya. Saat kedua matanya dapat melihat dengan pandangan yang cukup jelas, baru menyadari jika dirinya tengah di rawat dengan posisi berbaring di atas ranjang pasien.


Ibu mertua maupun ayah mertua tengah duduk bersandar di sofa, tidak mengetahui jika menantunya telah sadarkan diri dari tidurnya karena efek obat bius.


Tidak mau mengganggu mertuanya yang tengah tidur di sofa, Zey sama sekali tidak ingin mengganggu tidurnya.


Perlahan, Zey berusaha untuk duduk, meski susah payah untuk melakukannya. Juga, meski dengan kondisi yang terpasang selang infus ditangannya.


"Kamu ini gimana sih, kalau jatuh, bagaimana? panggil kek, apa kek, apa susahnya sih." Ucap Rouki membentak saat mendapati istrinya kesusahan saat hendak duduk.


Zeya yang mendapat bentakan dari suaminya, memilih untuk diam dari pada harus berdebat dengan suaminya yang tak akan pernah ada ujungnya, pikir Zeya yang masih diam.


Perlakuan kasar yang sering Zeya terima, tak pernah menjadikannya menjadi wanita lemah. Meski terlihat lemah dan lebih memilih mengalah, bukan berarti mudah untuk di injak.


Kedua orang tuanya Rouki yang mendengar bentakan dari putranya, langsung bangun dan melihatnya.


"Zeya, bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya ibu mertua dengan khawatir sambil mengecek suhu badan menantunya.


"Makasih ya, Mas Rouki, udah bawa aku ke rumah sakit. Maafkan juga jika aku sudah merepotkan kamu." Sambung Zeya bicara kepada suaminya.


"Ya, lain kali kalau dapat teguran itu di dengerin, bukan menjawab dengan seenaknya. Ujungnya kalau sakit, merepotkan banyak orang. Makanya, kalau mau berpendapat itu dipikir dulu." Jawab Rouki yang tengah berdiri di sebelahnya.


"Ya, Mas. Lain kali aku gak akan mengulanginya lagi." Ucap Zeya sambil menatap suaminya.


"Ya udah, karena ini sudah malam, lebih baik kita istirahat."


"Aku pulang saja, disini tidak ada tempat untuk tidur." Jawab Rouki dengan entengnya.


"Kamu ini gimana sih, Zeya istri kamu. Seharusnya kamu menemaninya, bukan pulang ke rumah." Ucap sang ayah menimpali.

__ADS_1


"Aku tidak pernah menganggap Zeya ini istriku, bukan istri pilihanku, tetapi pilihan kalian berdua. Ingat, bukan aku yang bertanggung jawab atas Zeya, tetapi kalian yang memilih untuk menjadi menantu kalian."


"Rouki!" bentak sang ayah.


"Jangan memaksaku." Jawab Rouki dan langsung bergegas keluar dan pergi meninggalkan ruang rawat istrinya.


Zeya yang mendengar perseteruan antara anak dan ayahnya, hatinya terasa sakit dan juga merasa bersalah. Begitu juga dengan ibunya, harus dengan cara apa untuk menyadarkan putranya yang entah dari mana dirinya mendapat hasutan yang sekeji itu.


Tuan Kusuma yang mendapat bentakan dari putranya, dadanya mulai terasa sesak ketika untuk bernapas.


"Pa, Papa kenapa?" tanya sang istri begitu khawatir.


"Ma, Papa kenapa?"


Zeya ikut khawatir saat ayahnya seperti menahan sesuatu pada bagian dadanya. Saat itu juga, Zeya langsung menekan tombol untuk mendapatkan pertolongan.


"Pa! bangun, Pa." Panggil sang istri sambil menangis, sedangkan Zeya langsung turun dari ranjang pasien untuk membantu ibu mertuanya yang susah payah menahan ayah mertuanya yang jatuh pingsan.


Saat itu juga, ada dua orang perawat dan dokter telah datang dan segera membawa Tuan Kusuma ke ruangan pemeriksaan.


Zeya yang tidak tahu harus mencari keberadaan suaminya yang entah kemana perginya, dirinya juga tidak diizinkan untuk keluar dar ruang rawatnya.


Ditambah lagi tidak membawa ponsel, tentu saja merasa kesulitan untuk menghubungi suaminya.


"Bagaimana ini, kemana lagi perginya Mas Rouki. Mana aku tidak bawa ponsel, lagi." Gumamnya dengan gelisah, lantaran tidak tahu kemana perginya sang suami.


Rouki yang malas untuk pulang, memilih menemui kekasihnya yang juga dirawat di rumah sakit yang sama.


Sedangkan ibunya Rouki, kini tengah mondar-mandir menunggu hasil pemeriksaan suaminya. Cemas, khawatir, takut, gelisah, kini telah menjadi satu untuk dirasakan.


Zeya yang takut akan terjadi sesuatu pada ayah mertuanya, sedari tadi tidak ada henti-hentinya berdoa untuk keselamatan ayah mertuanya.

__ADS_1


Di depan pintu ruang rawat pasien, Rouki menekan tombol pintunya. Berharap, kekasihnya bangun dan membukakan pintunya. Tapi kenyataannya, tidak ada tanggapan apapun dari dalam.


"Ah ya, ini kan sudah larut malam, Alya pasti sudah tidur." Gumam Rouki dan memilih segera pulang ke rumah.


__ADS_2