
Baru saja mau masuk kamar, rupanya Zeya membuka pintunya terlebih dahulu.
"Zey, dengerin aku dulu." Ucap Rouki saat hendak masuk ke kamar.
"Aku sedang malas mendengar penjelasan dari kamu, Mas. Lebih baik sekarang minggir, aku mau menemui Papa."
"Enggak aku izinin sebelum kamu mendengarkan penjelasan dariku, titik."
"Sudahlah Mas, aku lagi males bahas soal kekasihmu yang bernama Alya. Mendingan juga Mas Rouki bersiap-siap berangkat ke kantor. Aku yakin jika di kantor gak akan kesepian, pasti Alya akan datang."
Saat itu juga, Rouki langsung memeluk paksa istrinya begitu erat, membuat Zeya sulit untuk bernapas.
"Lepaskan aku, Mas, lepaskan."
"Enggak akan aku lepaskan sebelum kamu mau mendengarkan ucapan dariku." Kata Rouki yang tetap bersikukuh untuk memaksa istrinya mau mendengarkan penjelasan darinya.
"Aku gak bisa bernapas, berat napasku, Mas." Ucap Zey sambil bersusah payah untuk melepaskan tangan milik suaminya, lantaran tenaga dirinya tak sekuat milik suaminya.
"Baik, ok ok ok, aku akan dengarkan penjelasan dari Mas Rouki, tapi tidak sekarang, karena aku lagi malas membahasnya, juga aku ingin memenangkan pikiranku dulu." Jawab Zeya yang akhirnya menyerah.
Rouki yang mendengarkannya, langkah melepaskan pelukannya. Setelah itu, menatap wajah istrinya begitu lekat.
"Serius, kapan kamu ada waktu untukku menjelaskan semuanya sama kamu."
"Nanti malam, setelah Mas Rouki pulang dari kantor, juga sudah mandi, makan malam, sama sudah siap untuk tidur." Jawab Zeya yang akhirnya menentukan waktunya.
Rouki yang mendengar jawaban dari istrinya, wajahnya berbinar.
__ADS_1
"Baiklah, secepatnya aku akan segera pulang. Katakan padaku, kamu mau pesan apa? nanti aku akan belikan."
"Gak usah, aku sedang tidak ingin beli sesuatu." Jawab Zeya sambil menatap suaminya masih dengan perasaan kecewa.
"Baiklah, aku akan pulang tepat waktu." Ucap Rouki dengan tatapan yang pelan-pelan mendekati wajah istrinya, hingga membuat Zeya berjaga-jaga.
"Cuma mau menc_ium saja, gak boleh kah? sebentar saja, satu kecupan."
Zeya menggelengkan kepalanya.
"Maaf, aku masih kecewa sama Mas Rouki. Jadi, aku mau mengendalikan emosiku terlebih dulu."
"Baiklah, aku ngerti maksudnya kamu. Ya udah kalau gitu, aku mau ke kantor sebentar. Setelah menyerahkan tugas ke sekretaris, aku akan segera pulang."
"Ya, Mas." Jawab Zeya dengan anggukan.
Siap tidak siap, Rouki tetap berusaha untuk siap menerima apa yang akan diucapkan oleh istrinya nanti setelah memberi penjelasan dari awal hingga akhir.
Karena buru-buru harus berangkat ke kantor, Rouki segera bersiap-siap untuk berangkat.
Sedangkan Zeya yang lagi malas bertemu suaminya, memilih untuk segera menemui ayah mertuanya.
Saat mau melihat kondisi ayah mertua, rupanya sudah duduk bersantai di ruang keluarga.
"Zeya, sini ikutan duduk, Nak." Panggil ibu mertuanya sambil menepuk sofa disebelahnya.
"Ya, Ma." Jawab Zeya dan ikutan duduk bersama ibu mertua yang tengah mengupas buah apel.
__ADS_1
"Sini, Ma, biar Zey aja yang mengupas buahnya." Ucap Zeya sambil meraih buah apel yang ada di tangan ibu mertuanya.
"Kamu gak sibuk?" tanya ibu mertuanya.
"Enggak kok, Ma. Kebetulan hari ini gak ada kegiatan, juga bosan harus di kamar terus. Oh ya, Papa udah benar-benar baikan kan, Pa?"
Ayah mertua mengangguk dan tersenyum.
"Papa baik-baik saja, kemarin hanya lagi gak fit saja kondisi fisik Papa." Jawab ayah mertua.
"Makanya Papa itu jangan banyak pikiran." Sambung Rouki yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Maka dari itu, buruan segera buatin Mama dan Papa seorang cucu. Biar kita berdua gak kesepian, juga ada teman malaikat kecil." Sahut Ibunya yang mencoba meledek putranya juga sekaligus menantunya.
"Mama sama Papa tenang saja, kita berdua sedang proses. Jadi, tinggal menunggu saja."
Zeya yang mendengarkannya, langsung bangkit dari posisinya dan langsung menutup mulut suaminya dengan tangan kanannya.
"Lep-lepas-pasin." Sambungnya sambil melepaskan tangan istrinya yang tengah membekap mulutnya.
"Ma, Zey sekalian mau pamit, mau nebeng Mas Rouki ke panti asuhan." Ucap Zeya beralasan, tentunya untuk menghindari pertanyaan pertanyaan yang menjerumus, pikirnya.
Jadi, sebelum mendapatkan pertanyaan dari ibu mertuanya, Zeya langsung pamit untuk pergi ke panti asuhan.
Sedangkan Ayah mertua dan ibu mertuanya merasa ada sesuatu yang lain dari pada yang lain, pikir keduanya saat melihat ekspresi keduanya.
"Ya udah, gak apa-apa. Tapi ingat, dijaga waktu istirahatnya, ya."
__ADS_1
"Ya, Ma. Kalau begitu, Zeya mau siap siap berangkat ya, Ma, Pa." Jawab Zeya yang tiba-tiba berubah pikiran untuk pergi ke panti asuhan, padahal tidak ada rencana apapun untuk pergi ke panti asuhan.