
Sambil mengurut bagian pergelangan kakinya hingga bagian lutut, Rouki tidak bergeming sama sekali. Pandangannya pun lurus pada kaki milik istrinya.
"Aw!" pekik Zeya meringis kesakitan.
Rouki langsung mendongak.
"Sakit?" tanya Rouki memegangi kakinya sang istri.
Zeya mengangguk.
"Tahan saja dulu," kata Rouki saat hendak mengurutnya lagi.
Zeya yang merasa sakit pada bagian kakinya, sebisa mungkin untuk menahan rasa sakit dibagian kakinya.
'Tumben tumbennya mas Rouki mau memijat kakiku, biasanya juga masa bodoh.' Batin Zeya sambil menahan rasa sakit pada kakinya.
"Gimana rasanya, sudah mendingan atau masih sakit? coba kamu gerakkan. Kalau masih nyeri, nanti aku akan panggilkan tukang urut."
Sesuai saran dari suaminya, Zeya mencoba untuk menggerakkan pergelangan kakinya perlahan. Meski masih ada rasa sakit, berusaha untuk menahannya.
"Bagaimana, masih sakit?"
"Sedikit, tapi mendingan juga kok. Nanti aku coba tunggu sampai besok pagi. Jika besok pagi masih sakit, Mas Rouki bisa panggilkan tukang urutnya." Jawab Zeya sambil menatap suaminya.
Rouki mengangguk.
"Sekarang lebih baik kamu istirahat, jangan kemana-mana. Kalau kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa tekan tombolnya."
"Ya, Mas. Terima kasih banyak ya Mas Rouki. Maaf, jika aku sudah merepotkan." Jawab Zeya sambil menatap suaminya yang penuh tanda tanya.
Pasalnya sikap suaminya yang berubah, tidak membentaknya sama sekali. Tentu saja membuat Zeya penasaran akan sikap suaminya yang kini berbeda dengan sebelumnya.
Sampai sampai Zeya sendiri tidak sadar jika suaminya tengah mengganti bajunya.
__ADS_1
"Mas Rouki mau kemana?" tanya Zeya saat mendapati suaminya berdiri di depan cermin.
Sebenarnya bertanya kepada suaminya saat hendak pergi, Zeya sama sekali tidak pernah menanyakan kemana perginya suami.
Tapi kini karena penasaran dengan sikap suaminya yang mendadak aneh seratus delapan puluh derajat, membuat Zeya mencoba untuk bertanya. Tidak peduli jika suaminya akan marah, yang terpenting rasa penasarannya tidak mengganggu pikirannya.
Rouki masih diam, ia meraih dasinya untuk ia kenakan tanpa menyahut pertanyaan dari istrinya. Zeya yang melihat suaminya kesulitan saat mengenakan dasinya karena salah satu tangannya mendapat perban, dirinya langsung bangkit dari posisinya.
Kemudian, ia langsung mengubah posisi suaminya hingga menghadap pada dirinya.
"Mau ngapain?"
"Bantu Mas Rouki mengenakan dasi, gak boleh kah?"
"Ini, silakan." Jawab Rouki sambil menyodorkan dasinya.
Zeya tersenyum.
"Sudah, Mas Rouki sebenarnya mau kemana?"
"Aku mau ke kantor, gak apa-apa kan, jika aku tinggal sebentar?"
"Ya, enggak apa-apa. Lagi pula ada Mbak Rita dan juga yang lainnya, jugaan Mas Rouki ada kerjaan, silakan kalau mau berangkat ke kantor."
"Aku berangkat. Ingat, jangan keluar dari kamar. Kalau kamu membutuhkan sesuatu, lebih baik kamu menyuruh asisten rumah."
"Ya, Mas." Jawab Zeya dengan anggukan.
Setelah itu, Rouki segera keluar dan berangkat ke kantor.
"Ternyata yang dikatakan Dokter Radit itu benar." Gumamnya sambil menuruni anak tangga.
Selama perjalanan menuju kantor, Rouki terus memikirkan sesuatu yang sedari tadi menguasai pikirannya.
__ADS_1
Seketika, Rouki mengerem mendadak saat mobilnya berhenti begitu saja.
"Untung saja aku masih selamat." Ucapnya dan membuang napasnya dengan kasar.
Setelah itu, Rouki kembalikan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang hingga sampai di tempat kerjanya.
Baru juga sampai di kantor, sebuah ponsel mengagetkan dirinya.
"Ada apa lagi? aku masih sibuk di kantor, jangan menghubungi aku dulu."
Saat itu juga, Rouki langsung memutus sambungan telponnya, dan mematikan ponselnya.
Sedangkan yang ada di seberang telpon, melemparkan ponselnya ke atas tempat tidurnya.
"Si_al! kenapa bisa-bisanya langsung mematikan ponselnya." Ucapnya penuh dengan kesal.
"Awas saja kau Zeya, aku bakal menyingkirkan kamu." Sambungnya lagi dengan penuh emosi saat dirinya diabaikan oleh lelaki yang sangat ia cintai.
Tidak peduli baginya, ia segera menemui Rouki yang ia tahu ada di kantor.
Sebelumnya, Alya mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dapat menggoda suami orang. Tentu saja, semakin bersemangat.
"Lihat saja, jika bukan besok malam, maka hari ini juga aku harus bisa merebut Rouki sepenuhnya." Gumamnya sambil mengenakan pakaiannya yang begitu tipis dan dibalut lapisan kedua.
"Setelah lapisan baju ini aku buka, otomatis akan terpancing otak mesu_mnya. Secara selama menikah dirinya sama sekali belum menikmati mal_am pertamanya, dan aku lah yang pertama kali menikmatinya." Sambungnya lagi sambil mengenakan pakaiannya.
Setelah bersiap-siap, Alya bergegas berangkat ke kantor kekasihnya.
Sedangkan yang ada di kantor, Rouki tengah disibukkan dengan pekerjaan.
"Aih, kenapa kepalaku jadi pusing begini. Kenapa juga aku terus memikirkan Zeya, ah tidak tidak. Ingat Rouki, Zeya bukan perempuan yang kamu sukai." Ucapnya sambil menatap layar komputernya dengan memijat bagian pelipisnya.
Cukup lama berkutat di depan layar ponselnya, rupanya ada suara bel pintu yang tengah mengagetkan dirinya.
__ADS_1