Aku Yang Kau Abaikan

Aku Yang Kau Abaikan
Hampir saja


__ADS_3

Karena sebuah alasan kepada ayah mertua dan juga ibu mertuanya, Zeya yang tidak mempunyai kegiatan di panti asuhan, akhirnya terpaksa harus berbohong.


Namun, apalah daya yang tidak memungkinkan untuk menggunakan cara lain selain berbohong kepada mertuanya.


"Kamu yakin mau ke panti asuhan? kamu sedang tidak lagi beralasan, 'kan?" tanya Rouki dibelakang istrinya.


Seketika, Zeya sangat terkejut ketika dikagetkan oleh suaminya.


"Yakin, soalnya aku mau konfirmasi dengan pihak panti asuhan. Jadi, aku harus mengecek lokasi yang akan dijadikan tempat acara reunian." Jawabnya sambil menatap suaminya.


"Kalau begitu ayo kita berangkat, aku yang akan mengantarkan kamu."


"Gak usah, Mas. Aku bisa minta antar pak Gani kok, lagian juga Mas Rouki pasti buru-buru. Lihat tuh, hampir mau jam sepuluh, entar disangka mengajari karyawannya yang enggak enggak lagi."


"Biarin, yang jadi Bosnya aku. Yang membutuhkan pekerjaan juga siapa, silakan aja kalau mereka mau angkat kaki dari kantor. Aku gak rugi, masih banyak yang mau daftar. Pokoknya mulai sekarang kalau kamu mau pergi, aku yang akan mengantarkan kamu sampai ke tempat tujuan tanpa ada penolakan apapun darimu, titik." Kata Rouki yang masih dengan sifat angkuhnya, juga tetap memaksa memberi larangan kepada istrinya pergi kalau bukan diantar olehnya.


"Mas Rouki tidak boleh bicara seperti itu, gak baik. Roda itu berputar, dan gak selamanya yang posisi di atas akan terus di atas, ada kalanya berada dibawah." Kata Zeya mengingatkan suaminya.


Rouki tersenyum mendengarnya.


"Siap, Tuan Putri. Kalau begitu, ayo kita berangkat." Jawab Rouki seperti memberi tanda hormat kepada istrinya.


Zeya hanya menggelengkan kepalanya, dan langsung menyambar tas kecil bawaannya. Kemudian, bergegas keluar dari kamar dan diikuti oleh suaminya dari belakang.

__ADS_1


Karena percuma saja jika harus terus menerus menolak dan ujungnya pasti berdebat. Jadi, mau tidak mau akhirnya ikut berangkat bareng suaminya.


Meski masih menyimpan rasa kesal dan juga kecewa, Zeya berusaha untuk tetap mengendalikan dirinya agar tidak terpancing emosinya.


'Untuk apa aku merasa kesal dan cemburu, bukankah dahulunya aku sering di abaikan oleh Mas Rouki. Bahkan, aku sering mendapati suamiku sendiri pulang di waktu tengah malam. Itupun aku seperti mempunyai kekebalan rasa sakit hati dan juga kecewa. Tapi, kenapa sekarang ini justru aku merasa sakit hati dan juga kecewa.' Batin Zeya sambil menapaki anak tangga.


"Zeya!" teriak Rouki yang langsung menyambar tangan istrinya saat mau terpeleset di anak tangga.


Dengan sigap, Rouki langsung menarik tangan istrinya.


Zeya yang hampir saja terjatuh dari anak tangga yang masih di pertengahan, akhirnya dapat diselamatkan oleh suaminya. Detak Jantungnya yang awalnya biasa saja, berubah berdegup sangat kencang.


Napasnya yang tadinya teratur, berubah ngos-ngosan seperti kejar-kejaran.


"Diatur dulu pernapasan kamu, jangan gugup dan juga takut. Tak perlu khawatir, kamu baik-baik saja." Ucap Rouki sambil mendekap tubuh istrinya yang masih gemetaran karena takut.


Dirasa sudah agak mendingan, Rouki langsung menggendong istrinya sampai di ruang tamu.


"Rouki, kenapa dengan Zeya?" tanya ibunya yang langsung mengejar putranya sampai di ruang tamu. Sedangkan Tuan Kusuma tetap duduk karena kondisinya yang masih terasa lemas.


Dengan pelan, Rouki menurunkan istrinya di sofa.


"Apa yang terjadi dengan kamu, Nak Zeya?"

__ADS_1


"Tadi Zey yang ceroboh, Ma."


"Ceroboh yang gimana maksudnya kamu, Zey. Tapi kamunya gak apa-apa, 'kan?"


"Enggak kok, Ma, tadi Mas Rouki dengan cepat langsung menarik tangannya Zeya. Jadi, Zey gak sampai jatuh, Ma." Jawab Zey dengan jujur.


"Syukurlah kalau tidak kenapa-napa, Mama sampai degdegan melihat kamu di gendong sama suami kamu. Dan kamu Rouki, ambilkan air minum untuk istrimu, agar pikirannya tenang." Ucap Ibu mertua, dan menyuruh putranya untuk mengambilkan air minum.


"Ya, Ma." Jawab Rouki yang langsung bergegas mengambil air minum untuk istri.


"Ya udah ya, Mama tinggal dulu." Ucap Ibu mertua, Zey mengangguk.


"Ya, Ma. Maafkan Zey yang sudah membuat Mama cemas."


"Tentu saja Mama cemas, karena Mama hanya punya kamu dan Rouki. Ya udah, bentar lagi Rouki kemari, Mama mau menemani Papa."


"Ya, Ma." Jawab Zeya.


Tidak lama kemudian, Rouki datang membawa satu gelas air minum, dan memberikannya kepada istrinya.


"Makanya hati-hati, jangan suka melamun kalau menuruni anak tangga."


"Siapa yang melamun, siapa juga yang gak hati-hati. Kalau gak ada Mas Rouki palingan juga gak bakal jatuh, atau ... ada yang siap siaga pangeran datang yang menyelamatkan aku kek di negri dongeng itu." Jawab Zeya yang tidak mau kalah dari suaminya.

__ADS_1


"Hem, bisa aja kalau mau ngeles. Diminum dulu air minumnya. Kalau masih ada bayang-bayang rasa takut, lebih baik kamu di rumah saja." Ucap Rouki yang takut istrinya kenapa-napa.


"Ya Mas, aku mau di rumah saja." Jawab Zeya yang akhirnya memilih untuk tidak pergi.


__ADS_2