Aku Yang Kau Abaikan

Aku Yang Kau Abaikan
Merasa aneh dan juga penasaran


__ADS_3

Rouki yang melihat Dokter Radit seperti menahan, langsung membuang napasnya dengan kasar.


"Ketawa aja kalau mau mentertawakan aku, hem."


"Bukan gitu, Bro. Itu tangan kamu kenapa? gak habis main pukul pukulan, 'kan?"


"Sok tahu kamu itu, buruan kau obati tanganku ini. Gak usah tertawa kek gitu, gak ada yang lucu, tau."


"Gimana gak lucu, istri kamu aja nyaranin aku untuk kasih obat penenang sama kamu. Jangan-jangan nih ya, kamu ketahuan selingkuh ya? makanya seriusin aja yang satu, gak usah bikin cabang, kek perusahaan cabang saja kamu ini. Istrimu juga cantik sebenarnya, kamunya aja yang gak mau lihat dengan intens."


"Kamu kan tahu sendiri, aku itu gak suka sama Zeya, apalagi cinta, tidak akan. Zeya bukan tipe istri pilihanku, melainkan pilihan kedua orang tuaku, mereka itu lebih sayang sama istriku ketimbang sama diriku, Dit. Bayangin aja kamu berada diposisiku, tentu saja kamu akan merasa kesal."


"Gak juga sih, Bro. Gini ya, kalau kedua orang tua kita itu sayang sama istri kita, pasti mereka mempunyai kedekatan yang baik. Ya aku juga tahu sih, yang tidak akrab bukan berarti perempuan tidak baik, gak juga. Tapi, apa pernah kamu melihat istrimu menyakiti kamu? apakah pernah kamu melihat istrimu melakukan kesalahan yang fatal?"


"Yang kamu tanya itu gak ada pada istriku, dia begitu cuek padaku. Ya aku salut sih sama Zeya, bisa bertahan dengan hubungan pernikahan yang mana diriku ini tidak pernah menganggapnya ada. Mungkin perempuan lain belum tentu akan bisa sabar seperti istriku, seribu satu perempuan yang seperti istriku, menurutku."


"Nah itu kamu tahu, kenapa kamu gak bertahan saja dengan Zeya istrimu."


"Masalahnya aku itu gak cinta dengan Zeya, Dit."


"Masih ada Alya kah di hatimu?"


Rouki mengangguk.


"Sudahlah, kamu tidak perlu membahas hal pribadiku, lebih baik kamu obati lukaku ini."


"Baiklah, aku juga tidak akan ikut campur dengan urusan pribadimu. Aku hanya mengingatkan saja sama kamu, jangan sampai kamu menyesal di kemudian nanti. Sini, tanganmu." Kata Dokter Radit mengingatkan selaku teman baiknya.


Sedangkan Zeya, dirinya tengah duduk di taman belakang seorang diri, lantaran tidak tahu harus ngapain disaat tidak diizinkan berada di dalam kamar.


"Nona, kok sendirian, bukankah ada Dokter Radit?"


"Saya ingin nyari suasana baru saja kok, Mbak."


"Oh, kirain saya kenapa? Kalau begitu saya permisi, Nona."


"Ya, Mbak, silakan." Jawab Zeya sambil bersandar di tempat duduknya untuk menghilangkan rasa penat di dalam pikirannya.

__ADS_1


Berbeda dengan Rouki, ia tengah di lakukan pengobatan oleh teman akrabnya yang menjadi Dokter pribadi keluarga Kusuma.


"Sudah beres semuanya, kalau gitu aku mau langsung pulang saja, Bro. Harus diingat, semarah apapun kamu, jangan kamu lampiaskan untuk melukai diri kamu sendiri, ujungnya kamu yang akan rugi. Lebih baik kamu jernihkan dulu pikiran kamu itu, daripada kamu harus melampiaskan kekesalan kamu."


"Ya, Dit, terima kasih juga sudah mengobati lukaku."


"Itu sudah menjadi tugasku ketika mendapat panggilan jika ada yang membutuhkan pertolongan dariku. Ya udah, aku pamit pulang."


"Ya, hati-hati." Kata Rouki dengan anggukan.


Setelah Dokter Rouki pulang, Rouki menghela napasnya. Kemudian, pandangannya tertuju pada sebuah laptop milik istrinya yang sudah rusak karena ulahnya yang menghantamkan ke dinding kamarnya.


Rasa penasaran, Rouki meraih ponselnya dan segera menghubungi seseorang untuk mengirimkan barang pesanannya. Setelah memberi perintah kepada orang suruhannya, dan masuk ke kamar mandi. Selesai dari kamar mandi, Rouki memilih pindah duduk santai di balkon dan ditemani oleh angin yang semilir, juga ditemani dengan secangkir kopi pahitnya yang panas setelah meminta kepada asisten rumah.


Sedangkan Zeya sendiri yang sudah merasa bosan duduk bersantai di taman belakang, ia memilih untuk kembali ke kamarnya, yakni untuk mengetahui sosok Dokter Radit sudah pulang atau belum, pikirnya.


"Nona, tunggu." Panggil Pak Gani yang baru saja pulang dari rumah sakit.


"Ya, Pak Gani, ada apa?" tanya Zeya saat menoleh ke belakang. Kemudian, memutarbalikkan badannya.


"Begini, Non. Tuan Rouki ada di rumah, 'kan?"


"Tidak ada apa-apa, Bapak cuma ingin tahu saja. Takutnya Tuan Rouki pergi, dan tidak menemani Nona di rumah. Kalau memang ada di rumah, Bapak merasa lega."


"Oh, kiran saya ada yang lebih penting. Syukurlah kalau hanya menanyakan keberadaannya Mas Rouki."


"Ya, Non, hanya itu pesan dari Tuan Kusuma dan Nyonya." Kata Pak Gani.


"Bi Neni gak ikutan pulang kah, Pak?"


"Tidak, Non. Soalnya Nyonya butuh teman, kasihan jika Bi Neni ikutan pulang."Jawab Pak Gani.


"Tapi kan, Papa baik-baik saja kan, Pak?"


"Keadaan Tuan Kusuma sudah jauh lebih baik, Tuan. Bapak rasa sih, mungkin besok sudah diizinkan untuk pulang." Jawab Pak Gani.


"Semoga saja ya, Pak. Kalau begitu saya mau kembali ke kamar, permisi." Ucap Zeya yang sudah tidak sabar untuk mengetahui keadaan suaminya yang terluka pada bagian tangannya.

__ADS_1


"Silakan, Nona. Maaf, jika saya sudah mengganggu." Jawab Pak Gani dan bergegas pergi.


Sampainya di dalam kamar, Zeya tidak mendapati suaminya. Namun, pandangannya tertuju pada pintu untuk keluar ke Balkon.


Rasa penasaran karena ingin dimana suaminya berada, Zeya mencoba untuk melihatnya.


"Aaaaa!" teriak Zeya yang mana kaki kanannya terkilir saat menabrak suaminya yang hendak masuk ke kamar.


Saat itu juga, Rouki langsung menangkap tubuh istrinya yang hampir terjatuh dengan tangan satunya, lantaran tangan yang satunya terluka.


Keduanya saling menatap satu sama lain, seolah terpesona dengan pandangan pertama. Secara keduanya tidak pernah mengalami hal tersebut. Jangankan untuk saling menatap satu sama lain, untuk berse_ntu_han saja rasanya tidak pernah, terkecuali pada saat tertentu atau saat yang sangat mendesak.


Rouki yang dapat menatap wajah istrinya dengan intens, seperti ada yang mengganggu pikirannya.


"Maaf, Mas, maaf. Aku tidak sengaja manabrak diri kamu. Aw!"


"Kaki kamu sakit?" tanya Rouki saat mendengar istrinya meringis kesakitan saat pada kalimat terakhirnya.


"Enggak, gak apa-apa. Lepaskan, mungkin hanya karena reflek mau jatuh saja." Jawab Zeya beralasan, meski kaki kirinya benar-benar terasa sakit.


Sambil memegangi bagian lututnya, susah payah Zeya berjalan menuju tempat tidur untuk meluruskan kakinya.


Rouki yang melihat istrinya menahan sakit, langsung mengambil lotion untuk mengurut kakinya.


"Geser,"


"Mas Rouki mau ngapain?"


"Mau mengurut kaki kamu, sini."


"Kakiku baik-baik saja, serius. Ini tuh cuma tadi reflek , jadi wajar aja kalau sakit."


"Jangan bandel, apa kamu mau aku mendapatkan ocehan dari Mama? sini, biar aku urut kaki kamu."


"Enggak usah, tangan Mas Rouki juga sakit, 'kan? udahlah gak usah. Nanti kalau sakitnya gak juga sembuh, aku bisa panggilkan tukang urutnya."


"Diam saja kamunya, jangan banyak omong. Kalau sudah aku urut tidak sembuh juga, kamu boleh panggil tukang urutnya, nanti aku akan belajar agar bisa mengurut kakimu."

__ADS_1


'Mas Rouki kenapa lah, gak tau-taunya perhatian begini. Apa jangan-jangan ada maunya, oooh mungkin saja.' Batin Zeya asal menebak suaminya yang tengah membuat dirinya merasa ada kejanggalan.


__ADS_2