
Karena lebih memilih untuk di rumah dari pada harus pergi ke panti asuhan yang memang sebenarnya tidak ada tujuan, Zeya memilih untuk tidak pergi.
Sedangkan Rouki yang tidak ingin kesiangan datang ke kantornya, cepat-cepat untuk berangkat.
"Aku berangkat dulu. Kalau ada apa-apa, kamu tinggal hubungi nomorku, atau minta sama Pak Gani untuk menghubungi nomor kantor." Ucap Rouki berpamitan sebelum berangkat ke kantor.
Zeya mengangguk, tanda mengiyakan atas pesan dari suaminya.
"Tunggu, mau ngapain?"
"Gak boleh?"
"Apanya?"
"Ci_um."
"Oh,"
"Kok cuma oh doang, gak boleh?"
"Em ... boleh kok, eh maksudnya."
Rouki langsung menyambar bibir milik istrinya, dan menci_umnya perlahan dengan rakus.
__ADS_1
"Aw! aih, kenapa kamu gigit. Lihat nih, berdarah, 'kan?"
Saat itu juga, Zeya justru menarik tengkuk leher suaminya dan menye_sap bibir milik suaminya, dan dibalas lembut olehnya.
"Sudah, aku mau berangkat. Awas kamu, nanti setelah pulang kamu harus bertanggung jawab." Ucap Rouki yang mulai ketagihan akan pelayanan dari istrinya yang membuat kepalanya terasa mau meledak jika tidak di turutinya.
Zeya yang tersipu malu lantaran sikap suaminya, membalasnya dengan senyuman, juga dengan anggukan. Meski sebenarnya masih menyimpan rasa curiga atas sikap suaminya yang mendadak berubah, pikirnya.
Setelah tidak lagi nampak bayangan suaminya, Zeya kembali masuk ke kamarnya.
"Nona, tunggu sebentar." Panggil Pak Gani yang tengah mengagetkan istri Tuannya.
Baru saja mau menapaki anak tangga yang paling bawah, rupanya dikagetkan dengan suara Pak Gani yang memanggilnya.
Zeya menoleh ke sumber suara.
"Ini ada pesanan untuk Nona, terimalah." Jawab Pak Gani sambil menyodorkan sebuah barang yang dibungkus sangat rapat, seperti barang pesanan.
"Pesanan untuk saya, Pak? perasaan saya tidak memesan apapun lewat jasa online atau yang lainnya deh. Mungkin ada orang salah kirim barang kali, Pak."
"Benar, Nona. Ini pesanan dari Tuan Rouki untuk Nona, maka terimalah."
"Pesanan dari suami saya, Pak?"
__ADS_1
"Ya, Nona, benar. Ini, terimalah."
"Baik, Pak. Kalau begitu terima kasih banyak ya, Pak."
"Sama-sama, Nona. Kalau begitu saya permisi, Nona."
"Ya, Pak, silakan."
Setelah itu Pak Gani segera pergi dari hadapan istri Tuannya, dan kembali melanjut pekerjaannya.
Zeya yang penasaran, segera membawanya ke kamar. Rasa penasaran karena ingin mengetahui apa isinya, ingin cepat-cepat membukanya.
"Apa itu, Zey?" tanya ibu mertuanya memergoki saat mau naik ke anak tangga.
"Eh Mama. Ini dari Mas Rouki, Ma. Katanya sih untuk Zeya, tapi gak tahu juga apa isinya."
"Dari Rouki, syukurlah kalau suami kamu mulai ada perubahan. Mama berharap akan terus seperti ini, memperlakukan kamu dengan bsik." Kata ibu mertua, Zeya tersenyum dan mendekati Beliau.
"Ini semua berkat Mama yang selalu menguatkan Zeya untuk terus bersabar. Terima kasih banyak ya, Ma, sudah menjadi penyemangat untuk Zeya. Semoga saja Mas Rouki tidak lagi mengerjai, hanya itu yang ditakutkan, Ma."
"Berdoa saja, semoga suami kamu sadar sepenuhnya, dan menyadari akan kebenarannya."
"Ya, Ma, semoga saja. Zey hanya bisa berharap dan tidak lebih selain menginginkan Mas Rouki berubah."
__ADS_1
Kemudian, ibu mertua memeluknya dengan erat.
"Ya udah kalau kamu penasaran apa isinya, bawa ke kamar kamu. Kebetulan Mama mau istirahat juga, soalnya cukup lelah menginap di rumah sakit." Ucap Ibu mertuanya, Zeya tersenyum dan menci_um pipi milik ibu mertua.