
"Nona Alice, apa ada yang salah?"
Ketika aku bosan, pelayan yang baru saja menuangkan teh ke cangkirku berkata demikian.
Ini pagi hari dan seperti biasanya aku sering menghabiskan waktuku untuk sesuatu seperti acara minum teh, bukan karena aku menyukainya hanya saja di Eropa sendiri acara teh sangat begitu melekat dengan keluarga kelas atas.
"Tidak ada."
Terhadapku yang memasang wajah masam, pelayan mendesah pelan.
"Apa Anda ingin membuat masalah lagi dengan keluar dari rumah?"
"Aku hanya sedikit bosan Margaret, terkurung di rumah besar ini bukan sesuatu yang berarti, akan jauh lebih menarik jika aku bisa berpergian dan menemukan sebuah petualangan yang berbeda."
Seolah sudah lelah dengan sikapku Margaret menjatuhkan bahunya lemas, ia sudah merawatku sejak kecil jadi dia sudah tahu bagaimana aku bersikap. Alih-alih seperti seorang gadis feminim yang hanya bermain boneka aku lebih ke arah seorang gadis yang tomboi yang suka bermain sepak bola.
Bukan berarti aku menyukai olah raga tersebut, aku hanya menjadikannya sebagai perumpamaan saja.
Pelayanku terdiam sejenak lalu dia berusaha melirik ke kiri ke kanan memastikan bahwa tidak ada yang mendengarnya.
Tingkahnya sedikit mencurigakan jadi aku sedikit khawatir tentang itu.
"Nona Alice, apa jika saya bilang bahwa saya dari dunia lain apa Anda akan mempercayainya?"
Aku tertawa sedikit.
"Jangan mencoba menjahiliku Margaret, aku bukan anak kecil lagi."
Berbanding terbalik denganku Margaret menunjukan wajah serius.
"Di dunia sana banyak hal yang berbeda, seperti monster, sihir dan petualangan, jika Anda bisa pergi ke sana Anda pasti bisa mendapatkan petualangan yang Anda inginkan."
Aku tidak benar-benar mempercayai dongeng seperti itu, namun, aku ingin mengetahui sejauh mana Margaret membohongiku.
"Jadi kamu berasal dari dunia lain?"
"Benar nona, sejujurnya saat gadis, saya tanpa sengaja mengikuti seekor kelinci yang bisa berjalan dengan dua kaki, ketika saya terus mengikutinya saya malah sudah berada di sini."
"Heh, lalu bukannya kamu bisa kembali dengan cara kamu datang?"
Margaret menjawabku dengan tenang.
"Aku tidak bisa kembali, dalam hidup seseorang hanya bisa bertemu dengan kelinci tersebut satu kali... misal jika nona ke dunia lain nona masih bisa memiliki kesempatan untuk mencari sihir yang bisa membawa Anda kembali, tapi jika sebaliknya Anda tidak akan bisa melakukannya karena dunia ini sihir memang tidak ada."
__ADS_1
"Itu berarti."
Aku tanpa sadar terbawa suasana.
"Jangan khawatir, sejak awal saya sudah memutuskan untuk tinggal di sini. Seperti yang nona lihat, saya sudah memiliki suami dan anak."
"Heh begitu."
Aku tidak terlalu memikirkannya, obrolan hari ini hanya aku anggap sebuah obrolan ringan untuk menghilangkan kepenatan. Aku menyeruput tehku lalu melanjutkannya dengan membaca buku kembali.
Mengikuti kelinci kah? Apa hal itu bisa dilakukan.
Ketika aku memikirkannya itu sudah sore hari menjelang malam. Karena aku sudah lelah aku memutuskan tidur lebih awal dan bangun lebih pagi.
Aku berjalan dengan gaun putihku selagi menghirup udara segar, tepat saat aku melakukannya aku melihat sebuah bayangan melintas di semak-semak.
"Apa barusan seekor kucing?" pikirku demikian.
Karena penasaran aku memutuskan untuk melihat dan jelas tidak ada apapun di sana seolah bayangan itu telah muncul di tempat berbeda.
Aku terus mengikutinya sampai ke luar perkarangan rumah dan itu mengejutkan bahwa aku melihat seekor kelinci putih, ukurannya sama seperti yang aku ingat hanya saja dibandingkan melompat dia berjalan dengan dua kaki kemudian berlari sebelum aku sempat menghentikannya.
Dia melirik sekilas padaku sebelum berlari kembali.
Aku kini memikirkan apa yang dikatakan Margaret. Jangan bilang bahwa semua yang dikatakannya benar?
Aku memikirkannya begitu keras sampai akhirnya aku meminta maaf sebelum akhirnya berlari mengejarnya.
Selama ini aku selalu merasa bosan, jika ada sebuah tempat yang dipenuhi dengan petualangan maka itu patut dicoba.
"Kemana dia?"
Aku berhasil menemukan bahwa kelinci tersebut masuk ke dalam sebuah lubang di tengah-tengah pohon besar, ketika aku mengikutinya aku hanya bisa diam membeku.
Tidak seperti pemandangan sebelumnya, aku telah berdiri diantara semua orang yang berlalu lalang melewatiku, bangunannya sendiri terlihat seperti di Eropa abad pertengahan, hanya saja yang membedakan bukan hanya ada manusia di sini, melainkan ada seseorang yang bertelinga panjang dan runcing, aku yakin semua orang kerap menyebutnya elf. Ada orang yang bertelinga hewan dan bahkan hewan-hewan yang menggunakan pakaian dan berjalan dengan dua kaki juga ada.
"Jadi ini dunia lain," ketika aku berteriak semangat sebuah suara melenyapkannya.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau bisa hidup, menyingkirlah!"
Seorang yang tampak marah-marah itu merupakan pria yang membawa kereta kuda, aku akhirnya menyadari bahwa aku berdiri di tengah-tengah jalan.
Aku segera berpindah tempat selagi meminta maaf.
__ADS_1
"Ampun, gadis-gadis sekarang sangat ceroboh."
Aku hanya bisa melihat kepergian pria kasar tersebut. Aku kembali melihat-lihat sekitar dan berfikir apa yang harus aku lakukan sekarang.
Seperti yang dikatakan Margaret aku hanya bisa kembali dengan sebuah sihir jadi sampai saat itu aku akan tetap berada di sini.
Aku berdiri di dekat toko selagi memikirkannya sampai seorang pria pemiliknya datang menghampiriku.
"Wow, apa kamu seorang bangsawan."
"Hah?"
"Maafkan aku, karena tidak sopan, aku melihat bahwa pakaianmu terlihat sangat berbeda, itu terlihat berkelas... kalau boleh, apakah bisa aku menyentuhnya?"
"Yah, aku tidak keberatan."
Pria yang agak kemayu ini tampak terlihat antusias.
"Apa-apaan ini, bahan ini sangat luar biasa."
Harga gaunnya sendiri memanglah sangat mahal.
"Kalau diperbolehkan maukah Anda menjualnya? Tentu saja Anda bisa memilih pakaian di tokoku untuk dikenakan dan aku akan membayarnya 500 koin emas, bagaimana?"
Aku tidak tahu tentang nilai uang dari dunia ini, akan tetapi kurasa aku tidak keberatan melakukannya.
Bertahan hidup dan menyesuaikan diri merupakan hal yang harus kulakukan sekarang.
Aku melepaskan semua pakaianku kecuali pakaian dalam dan menggantinya dengan gaun yang lebih sederhana untuk dikenakan, itu berwarna biru dan putih dengan rok pendek serta sebuah tas kecil di pinggangnya.
Aku juga mengikat rambut biruku dengan gaya ekor kuda.
"Apa Anda yakin hanya akan berpenampilan seperti ini?"
"Sebenarnya aku memutuskan untuk berpergian dari satu kota ke kota lainnya."
"Eh, Anda ingin jadi seorang traveler."
"Bisa dibilang begitu," balasku demikian sembari menerima pembayaran.
Itu benar-benar berat.
Aku meninggalkan toko tersebut untuk berjalan-jalan di sekitar trotoar, sekarang yang aku butuhkan adalah sesuatu yang bisa melindungi diriku.
__ADS_1
Aku ingin menggunakan pistol tapi jelas itu tidak akan ada di sini, sejak kecil aku diajari bela diri aku cukup baik juga dengan pisau.
Mari bertanya pada seseorang dimana aku bisa mendapatkannya.