Alice In Another World

Alice In Another World
Chapter 12 : Penyelamatan


__ADS_3

Mengingat sebagaimana jarangnya gulungan ini, maka akan sulit untuk mencarinya. Tapi itu bukan berarti aku akan menyerah. Semakin sulit untuk mendapatkannya maka semakin menyenangkan meraihnya.


"Kalau begitu aku akan menerima pekerjaannya, jadi siapa saja orang yang telah mencuri kristal tersebut."


"Ada dua orang, pertama pria bernama George dan juga wanita bernama Lidya mereka sangat alih dalam mencuri barang sayangnya kemungkinan negara penyihir memiliki orang berbakat di dalam sana."


Untuk memudahkan, ratu ini juga memberikan dua buah foto yang masing-masing menunjukkan orang-orang yang dimaksudnya.


Pertama pria yang penuh anting di wajahnya dan kedua wanita dengan rambut pendek. Mereka elf dan jelas mereka tampan dan cantik.


"Aku ingin beristirahat malam ini dan akan kulakukan besok pagi, apa tidak masalah."


"Tentu, terima kasih banyak sudah mau menerimanya, jujur saja jika aku memintanya pada ras kami, itu akan sangat sulit nantinya jika mereka ketahuan."


Aku bisa mengerti itu.


Tidak lagi ada orang yang pandai melakukannya di desa ini.


Setelah obrolan ringan tersebut aku bisa membaringkan tubuhku di ranjang empuk dengan banyak makanan ditaruh di mejanya, White sendiri aku yakin dia mendapatkan hal sama walaupun tentu dalam versi binatang terima.


Tanpa sadar aku memejamkan mataku dan menyadari bahwa hari telah berganti, selesai mandi aku mulai memeriksa semua senjataku, pisau, jarum, belati, semuanya terlihat dalam keadaan baik. Ketukan terdengar dari pintu kamarku yang membuatku membukanya.


Ratu berada di sana dengan sebuah barang.


"Tolong gunakan ini, ini akan cukup membantu."


"Baiklah."


"Semoga beruntung."


Aku tidak menjawab pertanyaan itu dan langsung pergi dengan mengendarai White ke kota yang sebelumnya telah mengusirku. Untuk sementara aku membiarkan White tetap di dalam hutan untuk menungguku kembali.


"Sekarang bagaimana aku masuk?"


Aku meletakkan tanganku ke tembok tinggi dan sebuah percikan petir muncul di bawah tanganku, alasan terbesar kenapa kedua orang yang aku ingin keluarkan tidak mampu segera keluar dari sana karena ini. Sebuah lapisan pelindung yang menjaga semuanya entah dari luar atau dalam. Yah, aku tidak perlu repot-repot memikirkan soal ini, berkat ratu elf aku bisa memanjat dari sini tanpa kesulitan atau lebih tepatnya menghancurkan tembok ini tanpa menyentuh pelindungnya.


Aku menggunakan kalung yang memiliki kekuatan tersebut sebelum mengayunkan belatiku tanpa suara, sebuah lubang tercipta dan di saat yang sama aku buru-buru masuk lalu bersembunyi di balik gang saat orang-orang bermunculan untuk menyaksikan lubang tersebut.


Untuk sekarang aku bisa masuk, selanjutnya mencari keberadaan kedua elf itu. Aku dengan santai bergabung dengan kerumunan orang-orang di jalan sembari mendengarkan berbagai pembicaraan mereka. Semuanya bukan hal penting yang membuatku harus mencari tempat yang lain.


Aku mencoba masuk ke dalam bar, terkadang seseorang yang tidak bisa berbicara di luar selalu menumpahkan semuanya di sini.


Seorang bartender wanita memberikanku sebuah susu.


"Ayolah, aku pesan minuman beralkohol."


"Alkohol tidak baik untuk gadis kecil sepertimu."


"Oi, jangan perlakukanku seperti gadis kecil.. tapi terima kasih."


Aku meminum susu tersebut dengan satu tegukan yang membuat wanita itu bertepuk tangan.


"Minta tambah."

__ADS_1


"Baik."


Aku bisa merasakan perutku kembung setelah meminum beberapa gelas, tak lama kemudian orang-orang yang duduk jauh dariku berteriak kesal.


"Apa-apaan dengan mereka menutup gerbangnya, sekarang aku tidak bisa menjual barang-barangku ke luar."


"Aku juga merasa kesal, sulit bagi pedagang seperti kita terkurung di tempat ini."


Aku berkata ke bartender.


"Mereka terlihat frustasi, menurutmu sampai kapan hal ini."


"Hmm... biar aku pikir, sebelumnya para pengejar mengatakan bahwa orang yang mencuri sihir berada di wilayah kumuh, aku rasa dalam waktu dekat mereka akan langsung tertangkap."


"Begitu."


Aku memilih untuk menunjukkan wajah biasa saja, jika aku terlihat senang atau mencurigakan, aku kemungkinan akan mudah diketahui. Sayangnya sebelum aku menyadarinya semua penyihir wanita telah mengepungku dari segala arah dengan menunjukkan tongkat mereka.


"Kau ditahan karena menerobos negara ini, sebutkan tujuanmu?"


Jelas sekali bahwa mereka melihatku saat datang kemari.


"Aku hanya kebetulan saja."


Semua orang menunjukan kewaspadaan saat aku menggerakkan tanganku, tentu saja aku tidak berniat melukai siapapun, yang aku lakukan hanya memberikan uang untuk minumanku.


"Ini sangat banyak?"


"Sekaligus uang ganti rugi," kataku sembari menghempaskan semua orang dengan sihir angin.


"Kejar dia."


Aku bisa melihat seberapa banyak yang mengikutiku, karena aku berada di kerumunan jalan mereka tidak bisa secara gegabah menembakan sihir begitu saja, aku berbelok-belok di gang kecil, kemudian melompat ke atas sebelum turun kembali.


Mengejutkan bahwa beberapa orang masih mengejarku dengan sapu terbang mereka.


Orang-orang ini sangat giat, aku melompat ke dalam sumur kemudian menghilang di dalamnya.


Aku bisa mendengar suara-suara kebingungan di atasku.


"Sial, kemana gadis itu?"


"Dia terlihat sangat terlatih."


"Pokoknya kita harus menemukannya."


"Baik."


Setelah merasa aman aku mulai memanjat ke luar sumur lagi, yang barusan cukup menegangkan.


Aku bertanya pada seorang ibu yang menyusui anaknya.


"Kalau mau pergi ke wilayah kumuh ke arah mana?"

__ADS_1


"Kamu bisa mengambil jalan ini dan lurus saja."


"Terima kasih."


Sekarang waktunya untuk menyelamatkan mereka. Wilayah kumuh hanya mengambil seperempat dari wilayah negara ini, itu seolah mereka adalah orang-orang yang tidak produktif yang dibuang oleh pemerintahnya.


Dari kejauhan aku melihat seberapa banyak orang-orang yang terus berlalu lalang sembari memeriksa siapapun yang mereka lihat.


Dengan orang sebanyak ini kedua elf itu cukup ahli hingga bisa bertahan.


"Kalian semua, pencurinya sudah ditemukan, ayo kejar."


"Benarkah, akhirnya kita bisa beristirahat setelah ini."


Mereka semua serempak berlari, aku pun mengikuti dari belakang. Aku mengambil jalan berbeda saat aku tahu kemana mereka akan pergi. Tepat saat dua orang Elf berlari ke arahku aku menghentikan mereka.


Masing-masing dari mereka mengarahkan pisau yang aku tahan dengan satu tangan.


"Jangan membuat pekerjaanku sulit lagi George dan Lidya."


"Bagaimana kau tahu nama kami?"


"Itu karena ratu kalian yang memintaku untuk menjemput kalian."


Mereka mengenakan tudung jubah hingga aku tidak terlalu melihat ekspresi mereka.


"Dia mungkin menipu kita George."


"Kalian elf bukan, sebaiknya ikuti aku sekarang."


Keduanya memilih untuk melakukan apa yang aku katakan setelah aku benar-benar mengetahui siapa mereka berdua.


Kami keluar wilayah kumuh dan dihadang oleh beberapa penyihir yang langsung menembakan sihir mereka. Aku menggunakan sihir angin untuk menyapu mereka, udara yang dipenuhi debu membuat mata mereka kesakitan hingga kami bisa melewati mereka dengan mudah sebelum menuju tembok.


"Ada pelindung, kita tidak bisa keluar."


"Tidak masalah, lari saja."


Aku mengayunkan belatiku untuk memotong tembok, ketika itu terjadi aku memegangi lengan mereka dan itu membuat kami bisa menembus pelindungnya.


Aku bersiul untuk memanggil White yang segera berlari mendekat, kedua elf itu membuka tudung mereka menampilkan telinga runcing.


"Naiklah kalian berdua, aku akan menyusul nanti."


"Tapi?" kata Lidya.


"Cepatlah."


Begitu mereka menjauh, aku berbalik untuk melihat seorang penyihir serba merah yang berjalan dengan penuh keanggunan.


"Dari awal aku sudah menduga bahwa pelakunya Elf."


"Owh... kau tidak seperti penyihir lainnya, namamu?"

__ADS_1


"Grimore, pendiri negara ini."


Selalu saja yang menyusahkan berada di akhir. Last Bos memang beda.


__ADS_2