
Entah bagaimana aku dan Catrine benar-benar berhasil melakukan sesi wawancara hingga dijadikan sebagai pelayan kerajaan.
Entah karena kami memiliki kemampuan atau kerajaan ini yang tidak terlalu peduli, kami dapat bekerja secepatnya.
Kepala pelayan mulai membagi kami dalam pekerjaan berbeda, aku dipekerjakan di luar area istana sementara Catrine berada di dalam.
Kami tidak bekerja sendiri-sendiri melainkan per kelompok, itu wajar bahkan di tempat seluas ini siapapun tidak akan merasa kesepian.
Raja memiliki beberapa putri dari istri dan selirnya, dan kelihatannya mereka selalu akur hingga setiap paginya di halaman aku bisa melihat mereka saling mengobrol selagi meminum teh bersama.
Aku terkadang mendengar gosip bahwa raja tidak akan berhenti menikah sampai dia memiliki anak laki-laki, karenanya beberapa dari pelayan terlihat ingin merubah nasib mereka menjadi selir.
Tentu jika aku, benar-benar tidak tertarik.
Aku duduk berisitirahat dengan roti di tanganku saat Catrine muncul dan duduk di sisi lain.
"Bagaimana?" tanyaku.
"Aku sudah mengingat semuanya, kita akan menyelinap malam ini jika kamu mau?"
Kami sudah bekerja 3 hari karena itu jika masih belum bergerak, aku jelas akan marah. Kepala pelayan yang melihat kami santai-santai muncul sembari marah-marah.
"Apa yang kalian lakukan di sini, cepat kembali bekerja."
Aku menyadari bahwa waktu kami beristirahat telah habis, walau 1 menit, orang-orang di istana ini terlalu ketat.
Malam harinya seperti rencana awal kami akan menyelinap masuk, aku sempat memikirkannya, jika pedang itu dicuri bukannya tidak aneh jika kami berdua akan langsung dicurigai karena menghilang secara tiba-tiba.
Namun kegelisahanku bukan apa-apa bagi raja bandit seperti Catrine, dia menunjukkan surat palsu yang meminta kami untuk kembali ke desa. Singkatnya kami menyamar sebagai seorang yang pergi dari desa untuk merubah nasib dan terpaksa kembali karena orang tua kami sedang sakit.
Ngomong-ngomong kami berperan sebagai adik kakak.
Mari kesampingkan sandiwara tersebut untuk kembali bergerak dalam kegelapan.
Kami masuk tanpa diketahui, ada banyak penjaga serta orang-orang yang ditempatkan di tempat ini, namun mereka semua telah tertidur.
Saat mereka lengah aku telah menuangkan obat tidur di minuman mereka, karenanya semuanya jadi terasa mudah.
"Ini benar-benar penyusupan yang luar biasa, kita memang rekan pencuri terbaik."
Tidak terima kasih, aku hanya ingin mencoba hal seperti ini satu kali saja.
Catrine membuka peta yang dibuatnya dan aku hanya terus mengikutinya dari belakang, pertama dia dengan lihai membuka pintu rahasia yang menuju ke ruang bawah tanah.
Tempat ini dijadikan sebagai harta kerajaan, tanpa ada penjagaan kami bisa berjalan dengan tenang sampai akhirnya menemukan sebuah gerbang yang dibuat dari emas, ada hiasan kepala naga di depannya yang membuatnya terlihat keren.
__ADS_1
Aku bertanya pada Catrine.
"Jadi bagaimana kita membukanya?"
"Jawabannya sederhana, kita akan meledakkannya."
Aku sedikit terkejut saat melihat Catrine mengeluarkan sebuah peledak. Sementara aku mundur dia telah menyalakan sumbunya lalu memasukannya ke dalam mulut naga, tidak perlu menunggu lama melihat pintu itu terbuka.
Yang menyambut kami berdua adalah tumpukan harta yang berlimpah layaknya sebuah bukit.
Aku mengitari pandangan untuk mencari keberadaan pedang yang dimaksud dan menemukannya terpajang di sebuah batu, pedang itu terlihat terbuat dari emas dengan pegangannya ditempelkan berbagai permata.
"Terlihat mahal."
"Bukan hanya mahal pedang ini juga memiliki banyak sejarah terhadap negara yang telah mempekerjakanku."
Aku mengangguk mengiyakan, kami hanya mengambil pedangnya saja kemudian berlari ke luar, sayangnya puluhan penjaga telah memergoki kami.
Kami mengenakan penutup wajah memungkinkan siapapun tidak bisa mengenali kami, raja terlihat panik selagi menunjuk ke arah pedang yang dibawa Catrine.
"Jadi kalian menargetkan pedang itu, pantas saja berita buruk tentangku menyebar ke seluruh kerajaan, apa itu juga ulah kalian?"
Tidak ada yang menjawabnya, selama tiga hari ini kami tidak hanya bekerja jadi pelayan, kami juga aktif mencari isu-isu tentang raja dari pelayan senior, dari bagian dapur hingga penjaga juga.
Setelah mendapatkannya kami langsung menyebarnya begitu saja, isu yang menarik bahwa raja secara mengejutkan memberikan uang pada siapapun yang putrinya mau dinikahi olehnya.
Kehidupan kerajaan tidak sepenuhnya bersih juga, selalu ada sisi gelapnya.
"Kita pergi."
"Tunggu kita akan kemana?"
Alih-alih kami menerobos keluar, aku menyeret Catrine untuk naik ke atas, kami terjebak di balkon di lantai lima.
Aku bisa melihat seberapa tinggi tempat ini.
"Kalian tidak akan bisa kabur lagi, tangkap mereka."
"Apa boleh buat, kita harus bertarung."
Aku menarik kerah Catrine yang hendak menerjang maju lalu melompat jatuh selagi menyeretnya.
"A-apa? Apa yang kau lakukan, aku akan mati."
Catrine memelukku begitu erat sampai akhirnya ia sadar bahwa kami berdua telah melayang di udara.
__ADS_1
"Alice, kamu bisa menggunakan sihir."
"Ceritanya panjang lebih baik kita pergi dulu dari sini."
Anak-anak panah melesat di antara kami, namun tidak ada satupun yang berhasil kena sampai akhirnya kami benar-benar lolos untuk selamanya.
Catrine melempar penutup kepalanya sembari tertawa senang.
"Aku pikir kita akan tertangkap, aku tidak menduganya bahwa para penjaga yang berada di kota akan turut masuk ke istana."
"Itu memang kesalahan besar," kataku singkat.
Apapun yang terjadi kami setidaknya berhasil mencuri pedangnya, untuk sekarang kami akan kembali ke penginapan lalu beberapa hari kemudian meninggalkan kota dengan masing-masing kuda kami.
"Kalau begitu aku akan melaporkan semua ini pada orang tersebut, tapi Alice yakin tidak ingin ikut?"
"Ada kota yang ingin aku kunjungi, uang ini juga sudah cukup."
Aku menunjukan kantong uang yang diberikan oleh Catrine sebagai uang pembayaran. Seharusnya aku dapat setengahnya lagi namun aku tidak berniat mengambilnya.
Itu semua ideku, agar keterlibatan aku dengan raja bandit dihapus di tempat ini juga.
Kami berpisah seperti terakhir kali.
Jika suatu hari aku bertemu lagi dengannya, itu bukan sesuatu hal mengejutkan lagi fakta raja bandit berpindah-pindah tempat telah menyebar ke benua ini.
Aku tidak tahu sampai kapan ia akan terus membesarkan namanya, yang aku harapkan bahwa dia akan baik-baik saja.
"Nah Catrine bukannya kau seharusnya jadi ratu bandit."
"Jika begitu semua orang akan tahu bahwa aku seorang wanita, dah Alice."
"Sampai jumpa lagi."
Ketika kudaku melewati jalanan setapak aku dikejutkan dengan seorang wanita sedang duduk di atas koper miliknya, dia menghentikanku dengan lambaian.
"Namaku Carol, apa kamu akan pergi ke negara janda?"
"Tidak, aku akan pergi ke negara lain."
"Begitu."
"Apa kamu butuh tunggangan ke sana?"
"Benar sekali, aku tadinya naik kereta tapi mereka menurunkanku karena tidak mau mengambil jalan di depan karena kabar kemunculan monster, aku duduk di sini berharap bisa menemukan seseorang yang mau pergi ke sana juga."
__ADS_1
Aku tidak terlalu terburu-buru, karenanya aku tidak keberatan untuk membantunya.