Alice In Another World

Alice In Another World
Chapter 09 : Teman Seperjalanan


__ADS_3

Aku memegangi tali pengekang White sementara Carol duduk di atasnya.


"Heh, jadi Alice ingin pergi ke negara penyihir."


Dalam perjalanan aku sempat mendengar nama negara tersebut karenanya mungkin aku bisa menemukan sihir yang bisa membawaku kembali ke dunia asalku suatu hari nanti.


Mengesampingkan apa yang aku inginkan sekarang giliranku untuk bertanya soal negara yang ingin dikunjungi oleh Carol, dari namanya aku sudah sedikit menembaknya.


"Di sana hanya diisi oleh para wanita yang telah kehilangan suami dan anaknya, itu sebuah negara yang mementingkan hak wanita di atas segalanya."


"Negara yang dikhususkan untuk para ibu?"


"Benar, sebelumnya suamiku telah meninggal dan kami tidak memiliki anak, aku pikir itu tempat yang cocok untuk menjalani kehidupanku sampai tua nanti."


"Bukannya Carol masih terlalu muda? Carol bisa mencoba mencari pasangan kembali."


Aku hanya mengutarakan apa yang ingin aku katakan saja, secara harfiah Carol merupakan wanita yang cantik yang mempesona, jika ia ingin, aku yakin dia pasti mendapatkan satu atau dua pasangan baru di luar sana.


Pertanyaanku dijawab dengan gelengan kepala.


"Aku selalu mencintai suamiku, bahkan jika kami terpisah di dunia ini, kami pasti bertemu kembali di dunia sana dan hidup bersama kembali."


Kurasa inilah yang disebut cinta sejati.


Aku tidak berada di usia untuk memikirkan hal seperti ini maka mari lewati saja, aku mempersiapkan diri dengan belati di tanganku.


Carol sedikit menunjukan wajah gelisah terhadap aku yang bersiaga secara tiba-tiba.


"Alice?"


"Ada sesuatu yang mendekat."


Aku tertuju pada sebuah semak-semak yang rimbun, dari balik sana seseorang berjalan seolah nyawanya akan menghilang kapan saja, aku buru-buru mendekatinya, memeriksanya dengan seksama sebelum mengobati lukanya sebisa aku lakukan.


"Bagaimana Alice?"


"Pria ini paling tidak masih bisa selamat."

__ADS_1


Aku menggunakan ramuan mahal seharunya itu bekerja dengan baik. Tak lama kemudian dia membuka matanya dan terkejut karena keberadaan kami.


"Siapa kalian berdua, kalian pasti monster?"


Aku dan Carol saling menatap satu sama lain dan mencoba menerka bagian mana dari penampilan kami yang terlihat seperti monster.


Pria itu bangun sembari memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.


"Maafkan aku, aku sepertinya telah berhalusinasi."


Jika demikian maka itu wajar jika dia menyebut kami monster, walaupun dada Carol memang monster dalam arti tertentu.


Pria tersebut mulai menjelaskan, dia adalah salah satu penjaga yang ditugaskan untuk mengalahkan monster yang berkeliaran di tempat ini, monster tersebut telah menelan banyak korban khususnya orang-orang yang melintas, seperti para pedagang dan bahkan bangsawan juga telah menjadi sasarannya.


Sekitar 30 orang dikerahkan namun semua itu berakhir sia-sia, monster yang mereka lawan terlalu kuat serta tidak bisa dihentikan walaupun jumlahnya hanya satu saja.


Pada akhirnya mereka terbantai dan hanya menyisakan orang di depan kami.


"Kedengarannya bahaya Alice, lebih baik kita menunggu monster itu dibasmi baru kita bisa melanjutkan perjalanan."


"Dengan keadaan yang telah terjadi, itu mungkin memerlukan waktu yang lama, kita akan tetap melanjutkan perjalanan... pertama aku ingin tahu monster seperti apa yang kalian lawan."


Itu menyerupai tubuh singa dengan dua kepala sebagai tambahan jadi semuanya tiga kepala. Ekor ular serta memiliki sayap kelelawar di punggung.


Makhluk ini disebut chimera, chimera sendiri lahir dari sihir kegelapan karenanya sangat jarang menemukannya di tempat lain.


Dia mampu menyemburkan asap beracun dari ekornya serta api dari masing-masing kepalanya.


Aku berfikir apa sihir anginku dapat mengalahkan apinya, akan lebih mudah jika aku memiliki senapan untuk menghindari pertarungan jarak dekat.


Belatiku memang kuat kurasa itu juga sudah cukup jika menyerangnya dari depan, aku membayangkan banyak simulasi di dalam kepalaku untuk bisa mengalahkannya.


"Jika situasi memburuk Carol, kamu bisa melarikan diri."


"Mana mungkin aku bisa melakukannya, apapun yang terjadi aku akan menunggu. Jika harus mati, kita mati berdua."


Orang ini bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu tanpa ragu.

__ADS_1


"Kalau begitu aku harus kembali ke kota untuk melaporkan apa yang terjadi, bisakah aku meminjam kudamu?"


"Maaf sekali tapi White hanya bisa dibawa olehku."


White mengangguk seolah membenarkan apa yang aku katakan, terkadang aku berfikir dia terlalu pintar hanya sebagai kuda.


Setelah kepergian pria tersebut kami mulai bergerak kembali, kami tidak sengaja pergi ke lokasi para penjaga dihabisi melainkan mencari jalan alternatif yang lain. Bertarung hanya dijadikan sebagai opsi jika kami bertemu dengannya, jika tidak maka itu akan jauh lebih baik bagi kami.


Kami beristirahat dengan duduk di atas batu sembari memakan roti serta susu hangat.


"Enak sekali, apa roti bisa seenak ini?" tanya Carol.


"Aku tidak terlalu tahu tapi roti yang aku dapat ini berasal dari tempat yang gila tentang roti."


"Gila tentang roti?" Carol mengulang perkataan tersebut dengan wajah bingung.


"Mereka membenci nasi bahkan mereka membuat rumah-rumah dari roti juga."


"Negara seperti apa itu?"


Mengejutkan jika seseorang mendengarnya namun lebih mengejutkan jika melihatnya secara langsung. Itu yang terjadi padaku juga.


Jika kamu datang ke tempat itu, kamu akan berakhir tidak sengaja memakan properti jalan atau bahkan rumah seseorang tanpa sengaja.


Semuanya terasa enak.


Setelah beristirahat kami melanjutkan perjalanan sampai tiba-tiba para burung secara serempak berterbangan ke udara, aku bisa menyimpulkan bahwa hal buruk akan terjadi dalam waktu dekat pada kami. Tidak perlu menunggu lama firasat itu menjadi nyata.


Aku menepuk tubuh White hingga dia berlari menjauh dengan Carol yang segera berpegangan padanya.


Ketika mereka sudah menjauh sebuah semburan api melesat dari depan, aku menggunakan sihir angin untuk memblokirnya, walau aku berhasil lolos, wilayah sekitarku kini terbakar.


Asap mengepul ke udara memaksa aku untuk sedikit terbatuk-batuk. Dari depan sosok penyembur muncul dan tanpa ditanyakan lagi semua orang akan tahu bahwa chimera dalang dari semua ini, dia meraung sebelum berlari dengan melompat ke atasku.


Aku berguling untuk menghindarinya sebelum bersalto ke belakang menjaga jarak, beruntung bahwa Carol sudah melarikan diri jadi jelas bahwa makhluk ini tidak bisa melihatnya dan hanya mengincarku sebagai target utama.


Aku menyiapkan belati di tanganku, menatap tajam ke arah chimera selagi menunggunya bergerak, setelah keheningan sesaat dia menerjang padaku.

__ADS_1


Dia bergerak dengan cepat, lompatannya cukup tinggi untuk menghindari serangan tebasanku. Tak tinggal diam aku juga melangkah maju. Jika aku berbalik untuk melarikan diri makhluk ini jelas akan menerkamku tanpa ragu.


Aku melompat ke salah satu kepalanya setelah menghindari semburan apinya, satu tebasanku memberikan luka di wajahnya. Sebelum dia balas menyerang aku sudah menghindar untuk beralih menyerang dari samping.


__ADS_2