Alice In Another World

Alice In Another World
Chapter 04 : Dua Orang Dengan Jalan Berbeda


__ADS_3

Walau perayaannya akan sedikit terlambat, itu lebih baik dibandingkan gagal seutuhnya.


Catrine membawa kuda hitam dengan kecepatan stabil sementara aku menempatkan belati di punggungnya.


"Jika kau macam-macam akan aku tusuk."


"Kenapa kau begitu kejam! lagipula sudah aku katakan aku menyerah."


Kami akan mengunjungi kota terdekat dimana para cabai itu telah dijual, kami berniat membelinya kembali walaupun harganya sudah menjadi dua kali lipat sekarang.


Sesampainya di sana kami menyusuri jalan utama sebelum turun untuk menemui seorang pedagang rempah-rempah.


Barangnya masih ada dan terlihat bagus juga.


"Maaf paman, kami ingin membeli kembali semua cabainya, tentu saja dengan harga yang paman tawarkan."


"Memangnya ada masalah?"


Ketika aku hendak membuka mulut, Catrine segera menutup mulutku dan berkata.


"Aku lupa bahwa seluruh cabai ini sudah dipesan oleh sebuah desa untuk perayaan, aku minta maaf."


Jelas sekali ia menyembunyikan dirinya sebagai seorang bandit.


"Jika kalian ingin membelinya itu sama saja membuatku untung juga, aku tidak keberatan."


"Kami sangat terbantu."


Pada akhirnya kami menyewa sebuah kereta untuk membawa cabai yang kami beli, termasuk tambahan lainnya seperti buah-buahan dan daging.


Aku rasa ini berakhir dengan baik.


Satu hari berikutnya festival yang meriah telah diadakan, aku menerima uang bayaran atas kejadian ini.


"Jika mereka macam-macam kalian bisa langsung melaporkan mereka kepada yang berwajib."


"Kami rasa itu tidak diperlukan lagi."


Para bandit ini semuanya adalah korban dari desa yang diserang oleh monster beberapa tahun yang lalu, mereka mengikuti Catrine untuk bertahan hidup.


Sulit untuk menyalahkan mereka juga dengan apa yang terjadi. Yang bisa kulakukan sekarang adalah menikmati apapun yang ditawarkan oleh perayaan ini.


Sup cabai merah, daging cabai membara dan sate cabai, kamu akan pingsan setelah melihat bagaimana mereka membuatnya semerah itu.


Aku memesannya dengan ditemani gelas berisi susu, minuman ini yang wajib ada saat seseorang memakan makanan pedas.


"Selamat makan."


Aku bisa menikmati kemeriahan yang diadakan desa ini dua hari berikutnya dengan banyak tarian dan souvernir, aku sekali-kali menanyakan soal keberadaan sihir yang mengirim seseorang ke tempat jauh namun mereka menggelengkan kepalanya.


Jadi aku akan melanjutkan perjalanan tanpa sedikitpun petunjuk yang bisa aku dapat, aku meninggalkan desa dengan menunggangi White kembali, di sebelahku adalah Catrine dengan kuda hitamnya.


Kami hanya berjalan bersama sebentar sebelum menemui persimpangan jalan setapak.


"Jadi kau tetap akan menjadi seorang bandit?"


"Begitulah, aku berfikir akan menjadi bandit yang baik."


Aku memiringkan kepalaku bingung.


"Itu adalah seorang bandit yang akan mencuri uang-uang pejabat korup dan membagikannya ke semua orang yang membutuhkan."

__ADS_1


Sejujurnya aku tidak ingin terlalu ikut campur dengan keinginannya.


"Semoga beruntung."


"Nah Alice, apa nanti kita bisa bertemu lagi di suatu tempat?"


"Entahlah, tapi aku akan tetap memutuskan untuk berpergian."


"Begitu."


Aku tidak bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan, yang jelas petualangan akan selalu ada pertemuan dan perpisahan seperti ini.


Meski aku menemukan sihirnya aku tidak berniat untuk pergi dalam waktu dekat.


Kami sama-sama berbalik lalu menjauh satu sama lain.


Diam-diam aku penasaran tempat seperti apa yang akan menantiku selanjutnya, dibandingkan kehidupanku sebelumnya, ini jauh lebih menyenangkan.


Malam harinya aku membuat tenda sederhana di dekat sungai. Aku telah membuat api unggun dengan daging ikan yang tengah dipanggang.


Aku sebenarnya ingin makan sesuatu yang lain namun aku sudah menghabiskan perbekalanku sebelumnya, uang dari hasil menjual pakaianku tersisa 100 koin lagi. Walau ada tambahan beberapa koin perak itu tidak terlihat besar.


"Aku ingin segera mungkin mengisi perbekalan lagi."


Setelah tiga hari perjalanan jauh aku sampai di sebuah negara baru dari sebelumnya, negara itu memiliki penampilan yang mencolok, mereka semua mengenakan sepatu lancip.


Aku berjalan selagi memegangi kudaku dengan tangan.


"Yo nona, kamu pasti dari luar, pasti seorang traveler... jika kamu mau, kamu bisa membeli sepatu ini?"


"Tidak usah."


"Nona ambillah sepatu ini, Anda pasti telah kehabisan uang."


Ada apa dengan orang-orang ini.


Sepatu itu tidak dibuat dari kulit ataupun bahan sintetis lainnya melainkan kayu yang terlihat cukup berat.


"Apa sepatu ini wajib dikenakan saat memasuki negara ini?"


"Tentu saja tidak, kebanyakan dari mereka memakainya karena keinginannya sendiri, lagipula bagi kami sepatu ini adalah seperti sebuah jimat sendiri."


"Jimat?"


"Dulu negara ini hampir hancur karena kelaparan namun berkat sepatu ini kami bisa selamat."


"Singkatnya kalian membuat sepatu ini juga untuk dijual dan hasilnya kalian pakai untuk membeli makanan."


"Kamu pasti gadis yang cerdas, kejadiannya memang seperti itu tapi kalau sekarang anggap saja kalau sepatunya memberikan keberuntungan."


Itu sesuatu yang diterapkan di negara ini maka aku tidak perlu komplain tentang apapun, yang jelas aku menolak untuk mengenakannya.


Aku beruntung bahwa di negara ini juga ada kopi, aku duduk di kursi di luar kafe saat pelayan datang untuk menaruh pesananku.


"Kalian tidak akan mengusirku karena aku tidak mengenakan sepatu seperti kalian kan."


"Tentu saja tidak, betapa kejamnya jika ada seseorang yang melakukannya."


"Aku mengatakannya karena sudah banyak orang yang menawarinya."


Pelayan tersebut tertawa.

__ADS_1


"Mereka hanya melakukannya karena tidak biasa ada seseorang yang mengenakan sepatu yang berbeda dari yang sering mereka lihat."


Aku baru menyadarinya bahwa seluruh orang mengenakan sepatu sama.


"Beberapa traveler langsung membeli sepatu tersebut, aku juga heran nona sama sekali tidak terpengaruh."


"Aku tidak merubah penampilanku saat semua orang mengenakannya."


"Begitu, yah.... bagaimanapun negara ini aku harap nona bisa bersenang-senang di sini."


Aku menyeruput kopiku setelah kepergian pelayan tersebut, rasanya seperti yang aku ingat.


Mari masukan beberapa gula ke dalamnya juga. Selagi kembali memperhatikan semua orang aku memikirkan apa yang harus kulakukan di negara ini.


Yang jelas, aku perlu penginapan dan satu kandang kuda untuk White.


Aku menemukan tempat yang cocok yang jauh dari keramaian.


"Selamat datang, satu kamar dan satu kandang kan."


"Tolong yah."


"Dengan senang hati."


Aku menunggu formulirku diselesaikan.


"Ngomong-ngomong apa kalian juga mengenakan sepatu di dalam ruangan."


"Yang ini, benar sekali... sepatunya sangat indah hingga aku tidak ingin melepaskannya."


"Bahkan mandi juga?"


"Benar, mungkin sudah beberapa tahun semenjak aku memakainya."


Itu tidak normal bagiku, sekarang aku berfikir bahwa aku memilih keputusan tepat untuk tidak mengenakannya.


"Ini kuncinya, dan kami hanya menyiapkan sarapan dan makan malam, jadi jangan sampai melewatkannya."


"Tentu saja."


Aku menaiki tangga dan berpapasan dengan beberapa orang yang sama sepertiku, mereka mungkin dari luar.


Seorang pemuda melirik ke arahku dengan terkejut.


"Kamu tidak mengenakan sepatu?"


"Tentu saja tidak, bukannya di dalam ruangan kita tidak boleh mengenakannya."


Pemuda itu lebih terkejut.


"Syukurlah ternyata bukan hanya aku saja yang tidak memakainya."


Aku memperhatikan kakinya dan seperti apa yang dia katakan, dia juga tidak mengenakannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi di sini?"


"Aku sudah cukup lama tinggal di sini, bagaimana kalau kita sedikit mengobrol besok."


"Kedai kopi."


"Baiklah."

__ADS_1


Kami berpisah setelahnya.


Jauh dari lubuk hatiku aku sangat penasaran dengan ini.


__ADS_2