
Setelah bertanya pada orang-orang di sekitar langkah kakiku berhenti di sebuah toko pandai besi yang terkenal di negara ini. Ketika aku membuka pintu dentingan suara lonceng terdengar.
"Selamat datang, apa ada yang bisa aku bantu?"
Mengejutkan bahwa toko ini dijalankan oleh seorang wanita yang terlihat feminim dari luar.
"Aku perlu senjata."
"Silahkan, ayahku sedang keluar jadi aku sementara waktu yang menjaga tokonya."
Dengan kata lain dia tidak benar-benar seorang penempa.
"Senjata seperti apa yang Anda inginkan?"
"Pisau belati yang memiliki ketahanan yang paling kuat."
"Pisau belati kah, kami memiliki satu tapi harganya sangat mahal... apa anda mau melihatnya?"
Maka aku memintanya untuk menunjukannya. Itu tidak diletakkan di etalase toko melainkan tersimpan rapih di dalam kotak yang ditaruh di belakang konter.
Ketika peti dibuka sebuah belati dengan ukiran indah terlihat jelas.
"Apa ini kualitas yang terbaik?"
"Iya, bagaimana Anda menggunakannya nanti, bilahnya sangat kuat, bahkan mungkin ini hanya satu-satunya ada di dunia ini."
Aku malah merasa sedang ditipu sekarang, melihat ekpresiku yang sedikit meragukannya penjaga toko ini menunjukkan sesuatu yang mengejutkan, dia menarik sebuah pedang lalu ia tabrakan ke belati tersebut secara perlahan dan dalam waktu singkat pedang itu patah dengan ujungnya terbang ke langit-langit.
"Eh? Barusan."
"Senjata ini sangat berbahaya, aku menyarankan untuk tidak digunakan memasak dan hanya digunakan ketika bertarung saja."
Penjaga toko tersebut memberikannya padaku untuk aku bisa melihatnya dengan jelas, senjata ini mengerikan tapi inilah yang aku butuhkan untuk membela diri.
"Berapa?"
"Tiga ratus koin emas."
"Soal pedang ini tidak perlu menggantinya."
Penjaga toko ini begitu jeli.
Aku menambahkan beberapa koin emas untuk membeli pisau lainnya yang aku simpan di pinggangku serta untuk tambahan beberapa puluh jarum di pahaku.
"Ini pertama kalinya aku melihat seseorang membeli banyak hal seperti ini?"
"Aku menyukai sesuatu yang sederhana, jika diperlukan aku hanya melemparkan senjatanya saja saat berhadapan dengan musuh."
"Anda pasti seorang yang terlatih."
__ADS_1
Jika harus dikatakan maka begitulah adanya, keluargaku lahir di keluarga militer jadi hal-hal seperti ini bukan sesuatu yang asing bagiku.
Aku berfikir untuk membeli seekor kuda namun untuk saat ini aku hanya memutuskan untuk membeli makanan kaki lima sebelum menyewa penginapan.
"Ini terlalu besar nona, satu koin perak sudah cukup untuk menyewa satu kamar semalaman."
"Benarkah?"
Aku diomelin oleh pemilik penginapan yang berjaga di konter, berkatnya aku mengerti nilai mata uang di dunia ini.
Satu koin emas sama dengan 50 koin perak dan satu koin perak sama dengan 50 koin perunggu.
Untuk membeli satu roti seharga satu perunggu dan tergantung isiannya itu terkadang sampai 4-5 perunggu, sungguh dunia ini tidak terlalu mahal.
Ketika aku menanyakan bagaimana upah harian dari pekerjaan serabutan mereka biasanya dibayar 5 koin perak untuk satu hari, dan aku bisa mengerti bahwa seseorang kemungkinan besar tidak akan mengalami kelaparan di sini walaupun untuk membeli hal seperti pakaian serta penunjang lainnya cukuplah mahal.
Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur selagi menatap langit-langit kamar yang asing, jika harus dikatakan satu hal yang masih ingin kulihat adalah sihir. Ketika aku membayangkannya aku semakin mengantuk dan hari itu aku melewatkan mandi.
Tidak ingin tercium aroma tidak sedap dariku, aku memutuskan untuk mandi sebelum keluar.
"Biasanya seseorang akan menginap tiga hari, bukannya terlalu cepat Anda untuk pergi?"
"Aku ingin segera pergi berpetualang, maaf soal itu."
"Tidak apa-apa, dilihat sekilas pasti Anda seorang traveler."
Aku senang jika seseorang bisa menyimpulkan hal itu.
"Kuda kah? cobalah pergi ke bar di selatan, di sana selalu dikunjungi para pedagang, mungkin ada seseorang yang akan menjualnya."
"Aku mengerti, terima kasih."
Aku melemparkan satu koin emas yang di tangkap baik olehnya.
"Ini?"
"Biaya informasi."
"Lagi-lagi Anda memboroskan uang, aku akan mengomeliku lagi sebelum pergi."
Aku menggunakan langkah seribu untuk melarikan diri. Mengikuti arah yang ditunjukkan oleh pemilik penginapan aku sampai di sebuah bar yang dimaksud, jika dilihat dari langit yang mulai terasa hangat aku pikir ini sudah jam 9 pagi.
Aku membuka pintu bar dengan senyuman di wajahku, aneh bahwa di pagi hari ini sudah banyak orang.
"Apa dari kalian ada yang mau menjual seekor kuda?"
Keheningan terasa memenuhi ruangan ini sesaat sampai seorang pria di pojokan mengangkat tangannya.
"Aku akan menjualnya."
__ADS_1
"Aku ingin melihatnya."
Aku dibawa ke sebuah kandang kuda yang dipenuhi beberapa ekor di dalamnya.
"Pilihlah yang kamu suka, sejujurnya jarang ada transaksi soal pembelian kuda di kota ini, namun aku lihat kamu sangat memerlukannya."
"Instingmu memang tepat, aku ingin pergi dari kota siang hari ini."
"Hoh, apa kamu bisa menunggangi kuda?"
Aku mengangguk mengiyakan, ketika kecil aku merawat sebuah kuda poni, karena aku mulai bosan hanya karena tidak bisa membawanya ke jalanan jadi aku menjualnya. Tapi sekarang berbeda.
"Bagaimana? Kuda mana yang kamu sukai?"
"Aku pilih yang putih ini."
"Pilihan bagus walaupun aku tidak yakin kamu bisa membelinya, kuda ini sangat mahal dan juga."
Aku memberikan sekantong uang padanya.
"Sepakat."
Begitulah cara terbaik untuk membungkam seorang pedagang serakah.
"Aku akan memasangkan pelana juga, jika ada yang kamu butuhkan lagi katakan saja."
"Kalau begitu aku perlu sebuah peta dan juga rekomendasi tempat-tempat yang bagus."
"Maka akan aku siapkan secepatnya."
Barang bawaan sudah, senjata sudah, peta sudah. Dengan ini aku akhirnya bisa berpetualang.
Jauh di atas bukit aku bisa melihat kota yang sebelumnya aku tinggalkan, aku mengelus kuda milikku yang aku beri nama White, dia adalah betina. Dia masih muda meski begitu ia kuda yang cukup kuat dan tangguh.
"Mari pergi."
Mengikuti perkataanku kuda tersebut mulai berlari, rekomendasi dari pedagang itu adalah sebuah desa tidak jauh dari sini, mereka menanam cabai dan kebetulan sedang panen.
Mereka kerap mengolah cabai menjadi makanan yang jauh berbeda dari kebanyakan orang lakukan.
Selagi mencari sihir yang bisa mengirimku kembali, aku rasa berpetualang demi sebuah makanan juga cukup menjanjikan."
Ketika aku sampai desa itu terlihat tidak baik-baik saja, beberapa orang tampak duduk di jalan masuk dengan wajah kecewa.
"Halo di sana, apa kalian baik-baik saja? Bukannya kalian sedang panen cabai atau sesuatu," kataku demikian.
"Tadinya kami sudah panen, namun para bandit gunung datang dan mengambil semuanya, kini kami akan kesulitan ke depannya."
"Para bandit itu benar-benar berani, lalu apa kalian sudah melaporkannya pada pihak berwenang."
__ADS_1
"Mereka tidak peduli, mereka mengatakan itu hanya sebuah cabai tidak terlalu berharga untuk diambil kembali."
Aku sedikit kesal saat mendengarnya.