Alice In Another World

Alice In Another World
Chapter 05 : Kisah Dari Negara Sepatu


__ADS_3

Saat aku tiba di kedai, pemuda sebelumnya sudah ada di sana sedang menungguku dengan secangkir kopi di dekat tangannya, dia terlihat gelisah akan sesuatu seolah ingin bisa meninggalkan keberadaannya begitu saja.


Ketika aku menyapanya dia sedikit terkejut.


"Kau rupanya."


Entah aku atau dia tidak ada yang benar-benar ingin tahu siapa nama kami, seolah urusan yang akan kami bahas lebih penting dari apapun.


Aku memesan secangkir kopi untuk aku minum juga, pemuda itu menungguku menyeruput teh tersebut sebelum membuka mulutnya.


"Aku pikir hanya aku saja yang terjebak di sini, mari kita bekerja sama untuk melarikan diri dari sini."


"Hmm."


Aku jelas tidak tahu maksudnya, tapi pemuda itu segera meminta maaf dan menjelaskan hal-hal yang aku perlu ketahui dari kota ini.


Pertama adalah bahwa kota ini telah dikutuk, memang benar bahwa negara ini terselamatkan dari penjualan sepatu namun yang terjadi adalah bahwa penduduk negara ini mengambil rancangan sepatu milik seseorang yang singgah sebelumnya di sini.


Mereka merencanakan hal itu bersama-sama dan mengusir orang tersebut, sebelum dia pergi dia bersumpah bahwa siapapun yang memakai sepatu itu tidak akan lepas dari mereka sampai mati dan akan terus terjebak di dalam kota ini.


Beberapa tahun dari itu tidak terjadi apapun namun setelahnya orang-orang mulai terikat dengan sepatu tersebut, hingga akhirnya negara ini disebut sebagai negara sepatu, bagi orang-orang yang mengetahui kebenaran ini mereka enggan untuk masuk ke dalam kota ini.


Setelah masuk mereka tidak akan pernah kembali.


Aku mendesah pelan untuk mendengarkan lanjutan cerita dari pemuda ini.


"Kamu perlu izin dari penguasa kota ini untuk bisa keluar, dan izin itu akan diberikan jika kamu mengenakan sepatunya, tentu saja saat kamu mengenakannya kamu tidak akan berusaha pergi dari tempat ini, di sana teman-temanku... mereka bahkan tidak berniat untuk kembali ke tempat kelahiran mereka."


Aku bisa melihat sekumpulan pemuda lainnya yang terlihat senang menjadi seorang kuli panggul.


"Sepatu yang membuatmu terikat dengan tempat ini kah, jelas sekali tidak ada yang bisa kita lakukan soal kutukannya, mari kita melarikan diri, lalu apa kau memiliki cara?"


Karena dia yang menyarankan maka aku yakin dia punya satu atau dua hal yang sejak lama dia pikirkan.


Ia melirik ke arah kiri kanan memastikan untuk tidak seorang pun yang mendengarnya.


"Kita akan membuat sebuah kebakaran yang membuat para penjaga berusaha memadamkannya, saat itu salah satu dari kita bisa menyelinap."


Aku segera memotong.


"Lalu bagaimana satu orang lagi?"


"Dia yang harus membuat kebakarannya dan lalu satu orang di luar akan melemparkan tali dari luar tembok untuk menyelamatkan orang yang di dalam."

__ADS_1


"Salah satu dari kita harus memanjat tembok tinggi itu."


"Tidak ada jalan lagi."


Aku buru-buru memilih orang yang menyelinap keluar. Aku pikir dia akan menentangnya namun ia berfikir rasional.


"Berikan aku jaminan bahwa kau tidak akan meninggalkanku."


Aku memberikannya sebuah belati.


"Ini?"


"Ini sangatlah berharga, harganya mungkin mencapai ratusan koin emas, aku akan mengambilnya kembali setelah kau keluar juga."


"Itu bagus."


Aku bisa saja meninggalkan orang ini tanpa peduli dengan belatinya namun jika aku melakukannya aku mungkin bisa berubah jadi monster dan rasa bersalah akan menghantuiku selamanya


Maka dari itu, aku akan melakukan yang terbaik.


Malam harinya aku telah mengendap-endap mendekati gerbang kota selagi menyeret White di sebelahku.


"Maaf kawan, kita akan keluar seperti ini, larilah sekuat yang kau bisa."


Seolah mengerti apa yang aku katakan White mengangguk-anggukan kepalanya dengan patuh. Menurut pemuda itu penjaga di sini sangatlah terbatas karena itu ketika ada kebakaran mereka akan segera berkumpul untuk mencoba memadamkannya.


Aku naik ke punggung White kemudian menepuknya pelan sebelum akhirnya dia berlari dan keluar dari kota bersamaku. Kami menuju tembok bagian sisi luar dari kota ini.


Aku turun dan lalu mengaitkan talinya pada pohon sebelum mengambil ujung tali yang lain yang harus dikaitkan ke sebuah panah yang aku tarik sekarang.


Benar-benar rencana yang terlalu gegabah, bagaimana jika seseorang itu tidak ahli dalam memanah, rencananya jelas akan gagal, sementara aku duduk bersandar di pohon sosok pemuda itu telah berada di puncak, untuk turun dia menggunakan semacam parasut buatannya sendiri dan mendarat dengan baik walaupun sepertinya itu juga terlihat sedikit menyakitkan.


"Kau melakukannya dengan baik."


"Tentu saja terlebih tidak ada korban di sana...aku sudah memikirkan hal ini sejak lama, apapun yang terjadi aku harus keluar dari tempat itu."


Dia memberikan kembali belatiku yang aku gantungkan kembali ke pinggangku, saat itu aku baru menyadari bahwa aku belum mencari tahu soal sihir yang aku cari-cari.


Ketika aku bertanya pada pemuda tersebut dia menggelengkan kepalanya.


"Hal-hal seperti sihir tidak ada di dalam sana, walau tidak terlihat tapi negara ini sebenarnya cukup terisolasi dari dunia luar, dari yang aku tahu mereka membuat berbagai kerajinan dan hal lainnya dan nanti akan ada suruhan pedagang yang akan menukarnya, bisa dengan uang atau benda yang mereka butuhkan."


"Jadi selama itu orang-orang dari dalam sana tidak pernah keluar."

__ADS_1


"Benar, dan para penjaga itu jika diperhatikan tidak mengenakan sepatu... mereka adalah suruhan pedagang tersebut."


Benar-benar tempat yang harus dihindari.


Aku mengalihkan pandangan ke arah gerbang kota yang hendak aku tinggalkan, di sana banyak orang-orang luar yang masuk.


"Apa menurutmu mereka akan bisa keluar dari sana?" tanyaku pada si pemuda.


"Entahlah, yang jelas semoga di tempat manapun mereka bisa mendapatkan kebahagian."


"Ngomong-ngomong kenapa kamu bersikeras untuk kembali?"


"Itu karena ada seseorang yang menungguku di rumah... selama kamu memiliki tempat untuk pulang apapun tidak akan bisa menghentikanmu."


Itu sebuah perkataan yang bagus.


Aku hanya bisa melihat kepergian pemuda tersebut dari tempatku berdiri.


"Apa menurutmu Margaret menungguku pulang juga, jika itu orang tuaku mereka terlalu sibuk untuk mengetahui keberadaanku.. benar juga, kamu tidak tahu soal Margaret, selagi berjalan aku akan menceritakannya."


Aku menarik White untuk berjalan menyusuri jalanan setapak ini, aku harap selanjutnya aku bisa menemukan sebuah kota yang normal-normal saja.


Beberapa hari setelahnya aku telah tiba di sebuah negara baru yang asing, mereka semua tidak mengenakan sepatu malah hanya menggunakan sandal yang dilapisi kaos kaki saja.


Seorang pria tua menghentikanku.


"Apa Anda seorang traveler, jika kamu keluar dari jalan ini apa kamu melewati negara sepatu?"


"Lebih tepatnya aku memasukinya juga," kataku demikian.


"Begitu, kamu pasti orang yang beruntung bisa keluar dari sana... entah kenapa aku merasa bersalah karena sudah membuat mereka seperti itu."


Aku terdiam selagi melirik ke arah pria tua itu.


Jangan bilang orang ini?


Aku naik ke punggung White.


"Kamu tidak mampir ke negara ini dulu."


"Aku punya urusan yang lain."


Aku secepat mungkin untuk melarikan diri, orang-orang di kota itu memang kejam tapi jauh dari itu orang yang memberikan kutukannya lebih kejam.

__ADS_1


Jika saja dia mau memberikan rancangan sepatu itu, hal demikian tidak akan terjadi lagipula raja sudah menawari uang untuk melakukannya.


Nasi telah menjadi bubur, apapun penyesalan yang ada tidak akan merubah apapun yang sudah terjadi.


__ADS_2