
Semenjak kepergianku dari kota sebelumnya, aku mulai menuliskan banyak petualanganku di buku, selagi meminum teh aku mulai mengisinya dari awal sampai akhir.
Sebenarnya aku ingin menikmati kopi sayangnya di negara ini kopi dilarang peredarannya, entah apa alasannya tapi begitulah tempat yang aku datangi saat ini.
Aku menutup bukuku lalu menggantinya dengan koran yang bisa dibaca gratis di kafe ini, dua halaman tidak begitu menarik tapi yang ketiga sanggup membuatku terheran-heran.
Itu adalah sebuah pemberitaan seorang yang dikenal sebagai raja bandit baik hati, konon dikatakan ia selalu muncul di tengah-tengah malam tersembunyi, menyelinap dari rumah ke rumah tanpa diketahui lalu mencuri setiap barang berharga yang dapat ia temukan.
Anehnya semua targetnya adalah para bangsawan yang memiliki banyak kasus gelap di belakangnya, untuk uangnya sendiri ia bagikan ke orang-orang yang membutuhkan.
Bagi masyarakat ia disebut sebagai pahlawan sementara bagi bangsawan ia adalah penjahat yang harus dibasmi.
Aku ingin pura-pura tidak mengenalnya sayangnya sebelumnya aku memang pernah bertemu dengannya, dia bernama Catrine seorang yang bercita-cita menjadi seorang raja bandit.
Pelayan muncul untuk menaruh pesananku berikutnya.
"Ah, raja bandit... apa nona ingin ikut sayembaranya?"
"Sayembara?"
Aku memiringkan kepalaku.
"Siapapun yang bisa menangkapnya akan diberikan 20 koin emas serta diberikan buku sihir."
Aku sedikit tertarik dengan kata buku sihir, mari bertanya lebih jauh.
"Sihir seperti apa lebih tepatnya?"
"Tidak ada yang diberi tahu namun aku rasa itu sebuah sihir yang cukup bagus mengingat bahwa buku sihir itu sangat langka."
Di sisi lain aku tertarik namun di sisi lain aku tidak ingin memasukan orang yang aku kenal ke dalam penjara, lebih buruk dia mungkin akan dihukum mati.
"Lalu apa nona?"
Aku segera membalas.
"Tidak, tentu saja tidak, dikatakan dia sangat pandai bertarung, dan aku hanya seorang Traveler biasa."
"Begitu."
Aku memperhatikan orang-orang kuat yang berlalu-lalang dan bertanya.
"Mereka semua?"
"Katanya target berikutnya adalah raja dari negara ini, seingatku raja kami bukan orang yang buruk tapi entah kenapa dijadikan target."
Aku merasakan firasat tidak enak, setelah menghabiskan pesananku dan membayar, aku segera mengambil White yang menungguku di luar kafe.
Sebelum terjadi sesuatu mari pergi dari sini, tepat saat aku melangkah seseorang lebih dulu memanggilku.
"Hoho, ini yang namanya takdir... akhirnya kita bertemu lagi Alice."
"Maaf Anda salah orang."
__ADS_1
Tepat saat aku pergi seorang yang mengenakan mantel bertudung itu menahan kerahku.
"Tunggu sebentar, apa-apaan itu? Padahal kita saling kenal, semenjak kita berjauhan aku selalu teringat kamu Alice, aku mungkin jatuh cinta padamu."
Dia membuatku takut, walaupun pernyataan itu dilontarkan pria sekalipun aku tidak berada di posisi untuk memiliki hubungan romantis. Aku tidak tertarik.
Aku mendesah pelan lalu melanjutkan setelah berbalik untuk melihat wajah seperti apa yang ditunjukannya.
"Lama tidak bertemu Catrine, lihat jam berapa ini... aku harus segera melanjutkan perjalananku."
"Hentikan, kamu baru datang bukan... aku sudah menunggumu semenjak kamu tiba, ayo mengobrol."
Karena tidak enak dengan orang yang melihat, pada akhirnya aku menyetujuinya, kami tidak mengobrol di kafe melainkan di sebuah bangku taman selagi menikmati es krim.
Aku memulai pembicaraan.
"Selamat sudah menjadi raja bandit sekarang."
"Alice sudah tahu, aku jadi sedikit malu."
Bukannya kau orang yang tidak tahu malu yang berani menjual cabai orang. Aku sedikit terkejut dia merasa malu karena ucapan selamat.
Yah mari kesampingkan hal itu.
"Jadi kamu benar-benar akan merampok raja negara ini?"
"Benar, aku sendiri yang membuat pengumuman itu.. saat mencuri jika terlalu mudah tidak asyik."
Dia makin parah.
"Pencuri tidak terdengar keren, jika bandit bukannya itu terdengar mengagumkan... lagipula sesekali aku juga membegal orang, khususnya orang-orang jahat. Lalu Alice sendiri seperti apa petualangan yang kamu alami?"
"Tidak ada yang istimewa tapi akan aku pinjaman buku harianku."
Aku menunjukan bukuku yang membuat mata Catrine bersinar terang.
"Boleh aku membacanya?"
"Aku akan mengizinkannya dengan satu koin emas."
"Mungkinkah kamu kehabisan uang."
Aku tidak ingin mengatakannya tapi aku memang dalam keadaan tersebut.
"Aku akan membayarnya, kalau mau 20 koin emas untuk kesucian Alice."
"Maka aku aku menikammu dengan belatiku saat ini juga."
"Aku cuma bercanda, tolong tarik senjatamu. Aku mohon dan jangan menunjukkan tatapan dingin seperti itu."
Orang ini sudah berubah sejauh apa.
Aku mendapatkan uang yang aku minta dan sebagai gantinya aku memberikan bukunya, membaca buku harian seseorang sesuatu yang terlarang satu koin emas terbilang sangat murah.
__ADS_1
"Alice sudah melalui banyak petualangan."
"Begitulah," aku menjawabnya selagi menjilat es krimku.
"Bukannya ini mengerikan, membunuh dua negara tanpa membiarkan siapapun hidup, ini terlalu kejam."
"Dia hanya tidak punya pilihan, ia juga ingin hidup demi mencari putrinya. Aku berharap dia sudah menemukannya."
Setelah puas membaca bukuku Catrine memberikannya kembali padaku.
"Kebetulan karena bertemu Alice di sini, bagaimana kalau kamu bekerja sama denganku?"
"Maksudmu menjadi pencuri."
"Benar, bayarannya cukup besar kita bisa membaginya menjadi dua dan Alice tidak perlu khawatir soal biaya perjalanannya, aku yakin kudamu juga ingin makan sesuatu yang enak selain rumput."
"Kuda tidak makan selain itu."
"Tapi kudaku makan roti sesekali."
Entah hewan peliharaan atau pemiliknya sama-sama unik kurasa.
"Aku ingin memastikan satu hal, bukannya raja negeri ini adalah orang baik, paling tidak begitulah yang dikatakan penduduknya."
Catrine diam sejenak sebelum membalas perkataanku.
"Sebenarnya ini bukan pencurian yang sering aku lakukan, ini adalah sebuah permintaan dari negara sebelah."
"Negara sebelah?"
"Iya, sebelumnya negara sebelah mengirimkan sebuah kado sebagai peringatan perdamaian antar keduanya yaitu sebuah pedang, namun raja dari negara sebelah keliru dan malah memberikan sebuah pedang pusaka keluarganya, karena itulah aku diminta untuk mencurinya dan memberikannya kembali, jika aku yang mencurinya negara sebelah tidak akan disalahkan dan juga mereka akan menggantinya dengan pedang baru sebagai simbol perdamaian."
"Aku bisa mengerti hal itu, tapi jika kau mencuri dari orang yang dianggap baik bukannya reputasimu malah jadi buruk."
"Soal itu jangan khawatir, semua orang memiliki sisi buruk bukan, yang harus kulakukan hanyalah mencari apa sisi gelapnya lalu mengumbarnya ke masyarakat umum sebelum pencurian, bukannya aku jenius."
Dia hanya memperburuk keadaan, pertama dia membuat semua sulit dengan banyak penjaga dimana-mana dan kedua untuk mencari keburukan orang lain yang memiliki status tinggi sangatlah sulit.
Seolah membaca pikiranku, Catrine tersenyum licik.
"Aku sudah menyiapkan hal bagus, lihat ini."
Aku ditunjukkan sebuah brosur tentang pekerjaan menjadi seorang pelayan di istana.
"Selain bisa mencari tahu keberadaan pedang tersebut kita juga bisa sekaligus mendapatkan apa yang kita mau."
"Ternyata kau bisa menggunakan kepalamu."
"Kejamnya, Alice kejam."
"Kalau sudah seperti itu maka aku juga sepertinya akan ikut."
"Yeey."
__ADS_1
Kurasa sesekali seperti ini juga menarik.