Alice In Another World

Alice In Another World
Chapter 10 : Bertemu Kurcaci


__ADS_3

Setelah banyak mengayunkan belati, aku akhirnya bisa menarik nafas lega sembari duduk dengan pakaian kotor.


Sekali lagi aku melihat bagaimana chimera yang aku lawan telah tumbang, tidak bernyawa lagi. Bagaimana pun aku memenggal dua kepalanya serta memotong kakinya, bahkan untukku sendiri yang melakukannya itu berlebihan saat mengalahkannya.


Carol yang duduk di atas white mendekat, dia melompat turun untuk menangkapku dalam pelukannya.


"Hueeeh, syukurlah Alice kamu berhasil Hueeeh."


Aku rasa dia seharusnya tidak perlu menangis juga, pada akhirnya aku berhasil mengalahkannya seperti apa yang aku katakan, meski babak belur aku tidak benar-benar mendapatkan luka parah.


Sebagai akibatnya aku meminta Carol untuk beristirahat seharian penuh di dalam gua,. dan ia menyetujuinya tanpa mengeluh. Setelah tubuhku benar-benar bisa digerakkan kami melanjutkan perjalanan.


Kota yang ingin dikunjungi Carol terpampang indah di depan kami, dibalut tembok yang mengelilingi ada dua penjaga wanita di depan yang dengan sigap menghentikan siapapun yang memasukinya.


Tentu saja, termasuk kami juga.


"Bisnis apa yang membuat kalian datang kemari?"


"Aku memutuskan untuk tinggal di kota ini, ada kenalanku yang sudah lebih dulu tinggal di sini."


"Jadi begitu, lalu gadis ini?"


"Aku hanya seorang traveler aku hanya mengantarnya lalu setelahnya kembali pergi."


Paling tidak aku akan tinggal di kota ini 2-3 hari, memastikan bahwa Carol memang suka dengan kotanya. Setelah memberikan penjelasan kami dibiarkan masuk.


Seperti namanya di dalam kota ini semuanya adalah wanita, tidak terkecuali penjual toko, tukang dan bahkan aku yakin semua hewan yang hidup di tempat ini juga pasti betina.


Carol mengeluarkan sebuah peta buatan tangannya.


"Aku rasa ini jalannya."


Sementara aku mengikutinya selagi menyeret White, dia telah berhenti di sebuah penginapan tertentu, di sana ada seorang wanita sedang menyapu dan kelihatanya dia merupakan pemiliknya.


"Carol, kamu datang juga kemari."


"Tentu saja, karena ada beberapa masalah maaf sedikit terlambat."


"Yang terpenting kamu datang dengan selamat."


Carol memperkenalkanku padanya.

__ADS_1


"Terima kasih Alice sudah mau mengantarnya, aku benar-benar bersyukur."


Dia tidak perlu mengatakannya seperti itu, lagipula aku dibayar karena pekerjaan ini. Ngomong-ngomong namanya Senia, dia merupakan sahabat kecil Carol ketika mereka di desa.


Mungkin hanya sebuah kebetulan saja bahwa keduanya kehilangan suami mereka, tidak seperti Carol, Senia mengatakan bahwa suaminya lari dengan selingkuhannya dan tidak pernah kembali.


Karena itulah dialah orang yang lebih dulu tinggal di sini. Jika mendengar kisah gelap tersebut maka seluruh orang di negara ini kemungkinan memiliki nasib yang serupa.


Aku tidak ingin tahu lebih jauh dari yang sekarang aku ketahui. Senia memberi satu kamar untuk kami berdua beristirahat, dari yang aku dengar Carol akan tinggal di sini sementara waktu sembari mencari rumah yang bisa ia beli.


Pada dasarnya walaupun tempat ini melarang kedatangan pria, para wanita terkadang datang untuk berlibur. Sesekali hidup tanpa pria mungkin sesuatu yang mereka cari.


Aku baru selesai mandi saat Carol merapihkan barang bawaannya, dia memberikanku uang yang dijanjikan yang aku terima dengan baik.


Aku mengintip foto yang ditaruhnya di meja.


"Apa itu suamimu?"


"Iya, dia pria kuat dan keren bukan?"


Aku hanya mengangguk mengiyakan, pria itu melambaikan tangan dengan senyuman lebar di wajahnya.


Pagi berikutnya aku bersama Carol telah berjalan-jalan di sekitar kota sembari membeli banyak makanan berbeda, mereka sesuatu yang disukai wanita dan tidak akan mungkin di dapatkan di tempat lainnya.


Aku menggigit kue berbentuk ikan yang di dalamnya diisi dengan kacang merah yang manis, jika tidak salah di Asia juga ada makanan yang serupa, dan tidak disangka di sini juga ada semacam durian yang tubuh di negara tropis walaupun ukurannya sedikit lebih kecil dari yang aku ingat serta durinya tidak ada.


Carol tersenyum lembut ke arahku.


"Alice benar-benar menyukainya yah."


"Semuanya terasa enak."


"Syukurlah... aku mengira kamu tidak akan terlihat seperti anak di usiamu, ternyata aku salah."


Aku hanya membalas dengan senyuman masam. Setelah berkeliling aku bisa mengatakan bahwa kota ini benar-benar menarik. Semua fasilitas dibuat untuk para wanita jadi tidak aneh jika seluruh warna didominasi oleh warna merah muda dan juga kuning. Para kucing dibiarkan hidup bebas di setiap jalan, itu membuat siapapun dengan mudah bermain dengan mereka.


Benar-benar kota yang menyenangkan.


Aku menuliskan semua pengalaman tersebut ke dalam buku harianku sembari melirik ke arah Carol yang sudah tertidur sejak lama.


"Hentikan Alice, aku sudah tidak kuat... jangan mendorongnya nanti aku akan muntah... aku tidak sanggup lagi makan zzzzz."

__ADS_1


Dia mengigau.


Ini adalah malamku yang terakhir maka aku akan merindukannya, kurasa. Pagi berikutnya aku berpamitan pada Carol dan Senia dengan menaiki White.


"Mampirlah sesekali jika kamu berada di sekitar sini."


"Iya, selamat tinggal."


"Jaga dirimu Alice."


Begitulah bagaimana aku meninggalkan negara ini, White berlari di sepanjang jalan setapak dengan sinar mentari pagi membasuh kami. Aku penasaran seperti apa petualangan kami selanjutnya.


Di dalam hutan rimbun aku hanya bisa menghela nafas saat tujuh orang kurcaci telah menghadangku dengan pedang di tangan mereka.


Mereka memiliki pakaian dengan warna berbeda-beda serta topi kerucut di atas kepala mereka, salah satunya berkata.


"Jika ingin selamat, tinggalkan barang-barangmu."


Aku menegur mereka.


"Jika seseorang mengarahkan senjata pastikan agar tangan kalian tidak gemetaran."


"Berisik, cepat lakukan permintaanku."


Aku mendesah pelan sebelum turun dari kudaku. Dengan satu tendangan kaki aku melemparkan salah pisau mereka ke udara lalu menangkapnya dengan tangan kosong sebelum melemparkannya ke sebuah apel yang berada di pohon, tentu saja pisau itu menembusnya membawanya terbang menancap di dahan yang lain.


"Aku cukup ahli menggunakan pisau jika kalian mau melihatnya."


Mereka semua berlutut dengan putus asa, itu seolah mereka akan pasrah jika aku membunuh mereka.


Aku tidak melakukannya dan lebih ingin tahu kenapa orang yang tidak terbiasa merampok malah melakukan hal seperti ini, mereka mulai menceritakan apa yang terjadi.


Adapun rangkumannya seperti ini, para kurcaci ini tinggal di sebuah desa tidak jauh dari sini, mereka hidup damai dengan mengolah hasil hutan namun suatu hari sosok jahat bernama bandit muncul lalu mengambil alih desa mereka, bandit-bandit itu mulai memerintah para kurcaci untuk berbuat jahat.


Jika siapapun yang tidak menurut akan dihabisi, termasuk orang-orang yang dikurung di penjara.


"Jadi begitu, kurasa itu bukan sesuatu yang sulit diatasi."


Aku menyerahkan sekantong uang pada mereka.


"Ini?"

__ADS_1


"Berikan ini pada mereka dan tunggu aku di desa kalian, aku akan melakukan sesuatu nanti."


Mereka semua sedikit bingung namun memilih untuk mempercayaiku.


__ADS_2