Alice In Another World

Alice In Another World
Chapter 14 : Kota Zombie


__ADS_3

"White kamu mau wortel?"


Ketika aku menyodorkan benda itu, White mengambilnya ke dalam mulutnya, mengunyahnya dan menelannya.


"Apa rasanya enak?"


Walau kami terlihat bersantai sesungguhnya kami tidak benar-benar seperti itu, aku menerima sebuah pekerjaan untuk menjemput seorang alkemis yang tinggal di gubuk di dalam hutan, saat bertemu, itu mengejutkan bahwa dia ternyata seorang gadis muda seumuran denganku.


Saat ini ia sedang berganti pakaian, tak lama pintu dibuka menampilkan gadis dengan ikat rambut serta mengenakan mantel.


Ia gadis cantik dalam balutan sedikit tomboi.


"Aku sudah siap."


"Tentu, naiklah kita akan berkuda."


"Kalau begitu biar aku yang membawanya."


Aku tidak keberatan untuk itu, aku duduk di belakang sementara ia melakukannya.


"Jadi kamu yakin menerima pekerjaan seperti ini?"


"Karena raja membutuhkanku maka bukannya aku tidak punya pilihan lain."


"Kamu masih bisa memilih, lagipula permintaannya tidak masuk akal," mendapati balasanku yang cepat gadis itu tertawa.


Ngomong-ngomong namanya Rin dia sudah tinggal di hutan ini sejak lama dan terkadang beberapa orang mendatanginya jika mereka perlu semacam obat atau sebagainya.


Kami keluar dari hutan, berlari sepanjang jalan padang rumput untuk menemukan sebuah kota yang dibangun di dekat danau. Para penjaga yang sudah mengenalku segera mempersilahkan masuk untuk bertemu raja secepatnya.


Di depan singgasana Rin berlutut sedangkan aku tetap menjaga diriku berdiri apa adanya, aku tidak terikat dengan raja ataupun negara maka aku tidak perlu menunjukkan penghormatan apapun.


"Terima kasih kamu sudah mau menerima permintaanku."


"Ini bukan apa-apa untuk saya, namun saya tidak yakin bisa memenuhi harapan Anda, untuk kegagalannya sendiri mungkin masih tinggi."


"Tidak masalah, kamu mau berusaha melakukannya juga sudah bagus.. aku hanya ingin memberikan kesempatan untuk kota tersebut bisa diselamatkan, aku yakin tidak ada seorangpun alkemis yang lebih hebat dibandingkan dirimu."


"Anda terlalu memandang tinggi saya."


Raja mengalihkan pandangan ke arahku yang aku jawab apa adanya.

__ADS_1


"Aku mengerti, selama bekerja aku akan terus di dekatnya."


"Terima kasih banyak, kalian bisa beristirahat untuk hari ini dan besok tolong lakukan tugas kalian."


"Baik."


Aku sedikit tidak suka dengan formalitas seperti ini, kami menolak tawaran untuk tinggal di istana dan memilih menyewa kamar penginapan sendiri. Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur sementara Rin duduk selagi merapikan rambutnya.


Mengingat pekerjaan yang diterima oleh Rin sungguhlah menyusahkan membuatku menghela nafas panjang, dia harus mengembalikan satu kota yang terkena wabah zombie, seperti namanya mereka telah menjadi semacam monster yang sulit dikendalikan.


Akan lebih mudah membunuh semuanya tapi raja ini terlalu baik untuk melakukannya, jika dia memiliki harapan mereka bisa disembuhkan maka dia akan mencobanya.


Aku sekali lagi bertanya pada Rin.


"Apa menurutmu zombie bisa dikembalikan ke bentuk manusia mereka?"


"Zombie adalah makhluk mati jadi itu mustahil, tapi zombie yang sekarang tadinya adalah manusia yang digigit zombie hingga berubah seperti itu, kalau hanya baru dua Minggu aku rasa kita masih punya kesempatan untuk menyelamatkan mereka."


Aku rasa dia memang jenius jika berfikiran demikian. Apapun itu aku hanya mengawasinya saja.


Pagi berikutnya Rin diberikan kuda sendiri untuk dia tunggangi, aku berlari di sebelahnya dengan White hingga sampai di sebuah kota yang sudah terisolasi seutuhnya.


Beberapa penjaga di tempatkan di depannya untuk mencegah siapapun masuk.


Aku dan Rin mengangguk mengiyakan, di sini di sediakan pos pemeriksaan yang ditangani banyak gadis, saat kami keluar mereka akan memeriksa tubuh kami.


"Rasanya memalukan jika kita harus diperiksa setiap kembali."


Sejujurnya aku juga begitu bahkan untuk sesama gadis memamerkan tubuh telanjang kami itu sedikit.


Pada akhirnya kami memutuskan untuk tidak banyak keluar. Aku dan Rin mulai memasuki kota.


Suara gerbang tertutup adalah satu-satunya yang kami dengar di belakang, para zombie sedikit demi sedikit mulai bermunculan. Aku sudah menyiapkan belati di tanganku jika diharuskan aku pasti akan membunuh mereka.


Mereka zombie tentu aku tidak ragu sama sekali.


"Tolong jangan melakukan hal aneh."


"Jika kita tidak melawan kita akan jadi zombie, pada akhirnya jika kita gagal kota ini akan hancur, karena itulah ini pilihan bagus."


"Kita bisa menghindari zombie dengan naik ke atap."

__ADS_1


Dia berhasil membaca pikiranku, aku sudah tahu akan hal itu tapi cara ini lebih cepat menyelesaikan masalah. Aku maupun Rin akhirnya masuk ke dalam bangunan lalu menaiki tangga untuk sampai ke atap.


Aku bisa melihat bagaimana para zombie mengepung kami selagi berkata. "Augggh.... uagggh. Aaaagh" sebelum memilih berjalan kembali ke tempat lainnya.


Di sisi lain Rin mulai mengamati semua tindakan mereka, menulis mereka di catatan sebelum mencoba memulai penelitiannya.


Kami akan menggunakan bangunan ini sebagai markas kami, seluruhnya ada tiga lantai, lantai satu kami telah menutupnya seutuhnya hingga tidak ada zombie yang masuk. Jendela juga aku sudah halangi dengan kayu seharunya kami akan aman untuk beberapa waktu ke depan.


Kami sudah membawa makanan tapi aku rasa itu hanya akan bertahan tiga hari, sebelum habis kami dipaksa untuk keluar.


"Kalau begitu Alice, aku mohon bantuannya."


"Mau bagaimana lagi."


Aku telah pergi sendirian untuk mengambil sempel darah yang diinginkan oleh Rin. Jadi zombie yang mana yang akan aku korbankan.


Aku berniat membunuh satu jika dia tidak mau bekerja sama, aku menarik belati untuk mengincar satu di depanku. Tentu saja aku tidak menggunakannya melainkan menggunakan suntikan di tangan lain. Ketika zombie berteriak aku telah melompat untuk melarikan diri ke atas.


Zombie-zombie ini mengerikan, terlebih mereka juga cukup pintar dengan mulai menerobos masuk ke dalam bangunan hanya untuk mengejarku, aku sedikit khawatir pada Rin dan kembali secepat yang aku bisa.


Itu melegakan bahwa dia masih baik-baik saja dengan beberapa botol-botol yang dia susun dengan baik seolah berada di laboratorium tertentu. Alkemis sendiri lebih ke arah pembuatan obat, ramuan dan hal lainnya.


Di banding penyihir mereka sedikit lebih hebat karena dituntut untuk bisa semuanya.


"Alice kamu sudah kembali?"


"Darah yang kamu inginkan."


"Kamu tidak membunuh siapapun bukan?"


"Tentu saja tidak."


"Baguslah."


Sementara dia bekerja aku membaringkan diri di atas sofa.


"Menurutmu kenapa raja begitu peduli dengan kota ini?"


"Dari yang pernah aku dengar beliau Sebenarnya tinggal di sini, ia merupakan penduduk biasa sampai ia menikahi putri dan jadi raja seperti sekarang."


"Jadi begitu, dia pasti orang beruntung yang bisa menikahi putri, dari yang aku tahu satu juta pria terkadang memimpikan untuk melakukan itu."

__ADS_1


"Itu jelas informasi yang belum tentu benar."


Aku hanya menaikan bahuku sebagai balasan.


__ADS_2