
Sementara Rin telah disibukan kembali dengan penelitiannya, aku duduk di atas atap sembari menggigit apel. Di bawahku para zombie mengeluarkan suara erangan seperti biasanya sembari berusaha memanjat.
Dengan penampilan seperti itu, apa mereka benar-benar bisa disembuhkan, di dunia lamaku virus zombie hanya ada di film-film tapi di dunia ini semuanya ada.
Aku membuka buku kecil yang sebelumnya aku temukan dan membaca isinya, ini adalah sejarah kenapa kota ini seperti ini. Suatu hari seseorang dengan ceroboh menunjukan zombie di depan khalayak umum dan mengatakan bahwa dia mampu menjadikan zombie tersebut sebagai tenaga baru untuk manusia.
Pria itu dengan keahliannya menunjukkan caranya, dia mengeluarkan alat sihir seperti gelang yang mampu mengendalikan zombie.
Satu perintah darinya membuat zombie itu langsung melakukan tugasnya, dia disuruh untuk mengangkat barang, membangun tembok dan bahkan membersihkan solokan tanpa mengeluh, dari apapun keuntungan mempekerjakan zombie adalah siapapun tidak perlu memberinya makan dan mereka juga akan bekerja seharian nonstop.
Hanya melihat itu, siapapun jelas akan tertarik dengan apa yang ditawarkannya, seiring waktu tren zombie mulai mewabah, semua orang paling tidak memiliki satu zombie di rumah mereka seperti seorang pelayan.
Suatu hari beberapa pelanggan komplain tentang bau busuk yang mereka hasilnya pada si pedagangnya, tentu saja sebagai pedagang licik dia sudah menduga hal itu, dia sengaja melakukannya untuk mendapatkan uang lebih banyak.
Dengan seringai di wajahnya ia menawarkan sebuah parfum yang mampu mengalahkan bau busuk, ia menjadi kaya dan kaya, zombie mulai memenuhi seluruh kota namun ketika dia hendak berkemas untuk meninggalkan kota, zombie yang dia miliki telah menggigitnya secara tidak terduga.
Pedagang itu yakin dia masih menggunakan gelangnya, seharusnya hal seperti itu tidak mungkin terjadi. Ia melihat kembali gelang yang dikenakannya dan menyadari sesuatu yang penting.
Gelang ditangannya tidak bisa terus digunakan, seperti sebuah benda ketika masa penggunaannya berakhir maka akan menjadi barang tidak berguna.
"Aku melakukan kesalahan."
Menyesalinya sudah terlambat baginya ataupun penduduk, setelahnya semua orang di kota ini berakhir seperti sekarang.
Itu terdengar ironis, hanya kesalahan satu orang maka semua orang mengalami akibatnya, dari awal mereka berfikir untuk melakukan segala hal dengan mudah namun kemudahan itu tidak mungkin didapatkan tanpa bayaran.
Aku melemparkan buku tersebut ke bawah hingga para zombie mulai merusaknya sedemikian rupa, aku sama sekali tidak yakin bahwa mereka akan sembuh bahkan sedikitpun.
Raja meminta sesuatu yang tidak masuk akal dan Rin berjuang untuk mengabulkannya, semua terdengar berlebihan.
Alasan kenapa aku menerima.pekerjaan ini bukan hanya sekedar uang, aku hanya ingin melihat seperti apa akhir yang mereka dapatkan.
Aku kembali ke tempat Rin berada, tidak seperti dirinya beberapa hari yang lalu, dia kini terlihat lebih frustasi dengan duduk di sudut ruangan.
"Gagal, aku tidak bisa melakukannya."
Ini sudah tiga minggu sejak kami menerima pekerjaan yang tidak masuk akal ini, seharusnya dia sudah menyerah atau bahkan saat dia menerima pekerjaan ini.
"Alice apa yang sebaiknya harus aku lakukan?"
"Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mereka."
"Mustahil?"
__ADS_1
"Saat mereka menjadi zombie jantung mereka sudah berhenti saat itu juga, hal seperti menyembuhkan mereka sudah tidak ada, walaupun mereka kembali mereka pasti akan mati pada akhirnya."
Bukan kali ini aku mengatakannya meski begitu tidak ada yang mau mendengarnya.
Kaca di sekeliling kami mulai pecah dan para zombie mulai masuk ke tempat kami, salah satunya bergerak ke arahku yang tanpa ampun aku penggal dengan belati.
Kepala itu jatuh di bawah kakiku.
"Kurasa kamu benar, sudah tidak ada hal yang bisa aku lakukan saat ini, daging mereka telah membusuk."
Aku tersenyum tipis lalu menggendong Rin untuk keluar dari kerumunan zombie, aku menggunakan sihir angin untuk menambahkan kecepatanku hingga bisa keluar dari gerbang.
Para penjaga segera mencegah kami untuk pergi sebelum pemeriksaan, lagi-lagi kami berdua harus melepaskan pakaian kami.
Syukurlah aku minta para pemeriksa juga melakukannya jadi bukan hanya kami berdua yang malu di sini.
Sekembalinya ke istana raja hanya pasrah menerima kabar yang terjadi.
"Jadi begitu, terima kasih karena sudah bekerja keras selama ini, jika demikian kita hanya bisa menerima bahwa kota itu tidak bisa diselamatkan."
"Lalu apa yang Anda akan lakukan terhadap kota tersebut?"
"Kami akan menghancurkan semuanya, itu merupakan pilihan yang bisa kami ambil.. kami tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi ke depannya."
Aku mengantar Rin kembali ke rumahnya di dalam hutan sekaligus berpamitan.
"Kamu akan langsung pergi lagi Alice?"
"Iya, tujuanku adalah berkeliling untuk melihat dunia ini."
"Tidak banyak gadis muda yang menginginkan hal seperti itu, tapi aku akan mendukungmu."
Aku naik ke atas White, aku memberikan sesuatu untuk Rin sebelum keberangkatanku.
"Apa ini?"
"Itu adalah resep dari parfum yang bisa menghilangkan bau busuk dan juga membuat gelang yang bisa mengendalikan zombie, aku menemukannya dari zombie yang aku bunuh."
"Ini?"
"Tergantung dirimu, apa yang akan kamu lakukan?"
Rin menyobek kertas untuk membuat gelang pengendali zombie sementara sisanya ia simpan.
__ADS_1
"Kurasa jika itu parfum tidak akan melukai siapapun."
"Kalau begitu selamat tinggal," kataku memecut White agar lari secepat mungkin, sedangkan Rin melambaikan tangan mengantar kepergianku.
Beberapa waktu dikelilingi mayat hidup membuatku benar-benar tidak nyaman, aku harap kota selanjutnya kota yang lebih menyenangkan dengan berbagai orang-orang yang bisa aku ajak bicara.
Mendengar suara zombie benar-benar tidak menarik sama sekali. Dari kejauhan aku bisa melihat sebuah kota dan bertanya-tanya seperti apa negara selanjutnya yang aku masuki.
Aku sedikit memikirkannya sekarang, aku belum sempat menanyakan soal gulungan teleportasinya. Jika kembali menghadap raja kurasa tempatnya sudah jauh sekarang.
Aku sampai di kota yang dimaksud dan terlihat bahwa mereka sedang disibukkan dengan berbagai acara tertentu.
"Empat koin perak untuk biaya masuk ke negara ini?" kata salah satu penjaga.
"Bukannya biasanya hanya sekitar satu koin perak," protesku.
"Aku tidak tahu Anda sudah pergi kemana tapi harga untuk setiap kerajaan terkadang berbeda."
Pada akhirnya aku memberikan uang sebanyak yang dia inginkan, setidaknya harga yang sama juga diterapkan pada orang-orang sebelumku juga.
Selagi membawa White aku menyusuri jalanan utama dengan rasa kagum, setia bangunan di sini terlihat sangat maju serta lengkap dengan segala barang yang kamu butuhkan.
Orang-orang sekarang lebih sibuk dalam mendekorasi dibandingkan fokus berjualan. Ada seorang ibu yang masih membuka toko rotinya jadi aku menghampirinya.
"Tolong satu roti."
"Tiga tembaga untuk satu roti."
Aku menerima roti tersebut dan tentu rasanya cukup enak.
"Kelihatannya kalian mempersiapkan festival? Apa kalian melakukannya setiap tahun."
"Ini bukan festival, sebenarnya ini pesta pernikahan putri kerajaan ini."
"Eh, benarkah? Siapa pria yang beruntung itu."
Penjual itu kelihatan bingung saat aku bertanya demikian, sebagai gantinya dia berbisik.
"Itu seorang gadis lain."
Aku memucat.
Mari pergi dari sini setelah makan sesuatu.
__ADS_1