Alice In Another World

Alice In Another World
Chapter 03 : Raja Bandit


__ADS_3

Maka dari itu aku putuskan untuk membantu mereka, lagipula aku juga perlu mencoba menguji senjata yang baru aku beli.


Aku berkata ke seorang yang menjadi perwakilan desa ini.


"Ngomong-ngomong berapa banyak yang akan kalian bayar?"


"Sepuluh koin perak."


"Itu sudah cukup."


Seperti yang aku katakan aku tidak tertarik dengan uang, hanya saja imbalan seperti ini untuk membuat mereka tidak berhutang sesuatu padaku.


Terkadang lebih mudah jika satu sama lain sepakat, aku menitipkan White di desa ini untuk mereka urus sementara waktu. Sebagai penuntun jalan, dua diantara mereka mengantarku pergi ke lokasi bandit itu berada.


"Nona Alice, bukannya ini terlalu berbahaya, mereka berjumlah puluhan orang, Anda cuma sendirian... ini sangat beresiko."


"Tidak perlu khawatir, aku bisa mengatasinya."


"Meski Anda bilang begitu."


Seorang rekannya menempatkan tangannya di bahu agar dia segera menyerah.


"Maaf jika ia sedikit gelisah, ia memiliki putri seusiamu di desa, dia sangat menantikan perayaan desa kami tentu bersama yang lainnya juga, akan menyenangkan jika itu tetap digelar."


"Itu pasti terjadi," kataku singkat hingga kami sampai di sebuah gua yang dijadikan sebagai sarang bandit.


Ada beberapa penjaga di sana yang terus berdiri memeluk tombak, wajah mereka sangar serta seolah bisa membunuhmu hanya dengan tatapan saja, tidak ada rencana dalam hal ini aku hanya berjalan seorang diri dengan tangan memegang belati.


Menyadari kedatanganku keduanya telah mengarahkan ujung tombak padaku sembari menunjukan wajah penuh kewaspadaan.


"Siapa kau? Kenapa ada di sini?"


"Aku diminta oleh desa untuk mengambil kembali cabai yang kalian telah ambil, jika kalian mau melakukannya maka aku pastikan tidak akan yang terluka."


Keduanya malah tertawa sementara aku tersenyum masam. Mereka melihat dari bawah ke atas seolah menilai bagaimana penampilanku.


Aku hanya gadis yang kurus, bisa apa? Saat menghadapi pria kuat berotot.


"Aku pikir dia bisa dijual dengan harga tinggi."


"Kurasa kau benar."


Keduanya menyerangku dengan cepat dan di saat sama mereka tertegun karena efek dari gravitasi yang menjatuhkan mereka berdua dengan keras. Aku hendak menggunakan belatiku namun jika lawannya amatiran seperti ini aku ragu untuk melakukannya.


Ketika mereka kebingungan aku sudah menginjak wajah mereka.


"Brengsek, apa kau pikir aku tidak bisa mengalahkan dua orang bajingan seperti kalian."


"Heh, kenapa dengan gadis ini, apa seperti ini sifat aslinya?"


Aku berdeham sekali untuk kembali ke sifatku sebelumnya.


"Yang barusan anggap saja kalian tidak mendengarnya, jadi katakan padaku berapa banyak orang dari kalian yang berada di dalam gua."


"Kami memilih untuk diam."


"Aku juga."

__ADS_1


"Kalau begitu kalian lebih suka disiksa."


Dua orang yang bersembunyi menunjukan senyuman aneh.


"Entah kenapa aku sekarang tidak tahu siapa yang penjahat."


"Aku jadi merasa kasian."


Terserah mereka mau mengatakan apa, yang jelas aku sudah dapat informasi yang aku butuhkan, jumlah mereka ada 20 orang yang dipimpin oleh wanita bandit yang menjadi buronan di negara ini.


Tidak ada sandera di dalam gua ini yang membuatku bisa melakukan apapun yang aku inginkan.


Dua orang penjahat yang aku lumpuhkan berteriak terkejut saat aku dengan sengaja menumpuk banyak kayu kering serta daun hijau di mulut gua.


"Dasar iblis, kau sebenarnya bukan manusia kan... kau akan membunuh mereka."


"Kalian juga mengambil harta dari desa jadi inilah yang akan kalian terima."


Aku akan mengasapi mereka hingga tewas.


"Hentikan!" teriak keduanya saat aku mencoba membenturkan dua buah batu untuk menyalakannya.


Aku membeli ini juga di kota untuk jaga-jaga jika harus bermalam di dalam hutan atau sebagainya, tepat saat aku tersenyum jahat seseorang baru saja melompat dari atas gua. Seorang wanita dengan celana pendek serta bra saja.


Dia menggunakan sepatu boot tinggi serta topi koboi untuk menutupi rambut hitam panjangnya.


"Kau cukup berani juga untuk seorang gadis kecil."


"Siapa nenek ini?"


"Siapa yang kamu panggil nenek, aku masih 25 an."


"Kau benar-benar harus dibunuh."


Dia melesat padaku setelah menarik dua pedang pendek dari pinggangnya, aku menerima serangan tersebut dengan belati serta pisau tambahan milikku.


"Hoh, kamu menggunakan dua senjata juga."


Kami melompat bersamaan untuk menjaga jarak.


"Bos, kau ada di sini juga?"


"Kalian berdua benar-benar tidak berguna, bahkan mengalahkan satu gadis kecil ini sudah kesulitan."


"Orang ini sangat kuat dan sadis."


Aku menendang wajahnya hingga pingsan.


"Berisik.... Ugh, sepertinya aku menendangnya cukup kuat."


"Ampun, ternyata kau gadis kasar... jika begini kau tidak akan mendapatkan pasangan sampai kapanpun."


"Aku belum memikirkan hal sejauh itu Bibi, jika dilihat dari kepribadianmu pasti kau juga jomblo."


Dia tersenyum masam selagi memasang kuda-kuda.


"Aku benar-benar kesal saat seseorang bertanya kapan nikah? Dan juga orang yang memasang wajah kasihan sepertimu."

__ADS_1


Kenapa dia malah marah padaku?


"Aku hanya bercanda kau tahu."


"Namaku Catrine, seorang yang akan menjadi raja bandit di masa depan nanti, kau?"


"Seorang traveler, Alice."


Dia menerjang maju dan begitu juga aku, kami saling membenturkan senjata kami yang masing-masing menciptakan percikan logam ke udara.


Catrine bersalto untuk menangkis tebasan melintangku, dia menaikkan kakinya di atasku dan dari sepatu yang dikenakannya mencuat sebuah pisau kecil yang bisa melukai seseorang dengan mudah, beruntung untukku yang berhasil menghindarinya kemudian membalas dengan tebasan kembali.


Catrine berhasil mengelak meskipun tali branya terpotong hingga dia secara spontan menutupinya dengan tangannya.


"Apa-apaan barusan?"


"Yang barusan tidak sengaja."


Salahnya sendiri berpakaian seperti itu.


"Mana mungkin aku percaya!" teriaknya selagi menangkis serangan cepatku dengan hanya satu tangan.


"Curang, curang, dasar curang."


"Dalam pertempuran tidak ada namanya curang, apapun itu diperbolehkan. Lagipula kita sesama wanita lepaskan saja tanganmu."


"Kau pikir aku ini apa?"


Senjata milik Catrine terpotong dua bagian hingga dia tampak memucat.


"Kau ini sebenarnya siapa? Gaya bertarung yang tidak pernah kulihat dan juga senjata apa yang kau miliki itu."


"Kami akan membantumu bos."


Keduanya yang telah pulih hendak menyerangku dari belakang, aku segera menusukkan jarum di kedua paha mereka hingga lumpuh sementara.


Lain kali menyeranglah tanpa berteriak.


Ketika Catrine hendak mencari celah dari pandanganku yang teralihkan aku sudah menempatkan belatiku di lehernya.


"Kau tahu, aku tidak ragu untuk membunuh seseorang."


"Terlihat jelas, jika kau menginginkan cabai yang kami ambil semuanya telah kami jual.. itu sudah tidak mudah untuk didapatkan lagi."


"Tidak masalah setelah mengubur kalian, aku tinggal membelinya kembali aku yakin kalian punya banyak uang untukku gunakan."


Catrine melepaskan senjatanya lalu menangis.


"Tolong jangan bunuh kami, aku menyerah."


Penduduk yang dari tadi menonton mendekat.


"Aku rasa kita sebaiknya mengampuni mereka."


"Aku juga setuju."


"Karena kalian sudah bilang begitu, apa boleh buat, berikan semua uang kalian dan tinggallah di desa, lalu berhentilah menjadi bandit. Maka aku lepaskan kalian."

__ADS_1


"Tidak mungkin aku bisa berhenti jadi bandit, ini sudah jalan hidupku."


Jalan hidupnya benar-benar menyimpang.


__ADS_2