Alice In Another World

Alice In Another World
Chapter 11 : Ratu Dari Pemukiman Elf


__ADS_3

Dari kejauhan aku bisa melihat para kurcaci yang diseret untuk menyerahkan hasil kejahatan mereka, ada sekitar 15 bandit yang semuanya pria kasar.


Ketika mereka tidak bisa menyetor uang mereka akan dihujani pukulan dan tendangan namun sayangnya ini jelas bukan hari baik untuk para bandit, satu panah menembus kepala salah satu bandit yang hendak menginjak kurcaci.


Dia mati dengan cepat, hal itu juga berlaku pada semua rekannya, beberapa berhasil bersembunyi namun itu hanya membuat mereka mati dengan lebih tragis, ujung pedang memotong mereka tanpa ampun membiarkannya berserakan di tanah.


Tentu saja semua itu bukan ulahku melainkan perbuatan dari kesatria yang aku bawa ke desa kurcaci ini, jauh sebelum aku bertemu kurcaci aku lebih dulu bertemu mereka dalam perjalanan.


Mereka mengatakan sedang mencari para bandit yang berhasil melarikan diri, kata mereka bandit tersebut telah menghancurkan beberapa desa karena itulah mereka harus segera dihabisi.


Setelah para bandit dinyatakan punah aku mendekat dengan White di sebelahku, tujuh kurcaci yang aku temui sebelumnya terlihat heran meski begitu mereka tidak lupa untuk mengekpresikan kebahagiaan mereka dengan air mata.


"Kamu benar-benar menempati janji."


"Tentu saja aku akan menempati janji, sekarang kalian bisa hidup seperti sebelumnya."


"Terima kasih banyak."


Seorang kesatria muncul untuk memberikan uang milikku kembali.


"Silahkan nona."


"Sedikit lebih berat dari yang aku pikirkan."


"Aku memasukan upah karena membantu kami juga."


Seperti yang aku duga beratnya berasal dari empat koin emas, hanya menunjukan lokasi para bandit bisa mendapatkan uang sebanyak ini. Aku benar-benar beruntung.


Aku naik ke atas punggung White lalu dengan ringan meninggalkan desa kurcaci ini.


"Negara penyihir, seharusnya ada di sini?" tepat aku memikirkannya beberapa orang telah muncul menghadangku. Mereka mengenakan jubah serta topi runcing yang siapapun tahu siapa mereka sebenarnya.


"Maafkan kami tapi saat ini negara penyihir tidak membiarkan siapapun untuk masuk."


"Dilarang masuk? Berapa lama itu?"


"Entahlah, beberapa hari lalu ada seseorang yang telah mencuri sihir terlarang, sejak lama itu kami melarang siapapun untuk masuk ataupun keluar."


Jadi begitu, mereka memenjarakan pelakunya di dalam kota, sebelum dia dapat ditangkap selama itu aku harus menunggu. Mau bagaimana lagi, aku sebaiknya harus pergi ke tempat lain.


"Kalau dari sini kemanakah aku bisa pergi untuk tinggal sementara waktu?"

__ADS_1


"Ke sana, jika lurus ada sebuah desa kecil hanya saja desa itu mungkin akan sulit dimasuki manusia."


"Maka itu tujuanku berikutnya."


Meninggalkan gerbang masuk aku mengikuti arah yang ditunjukkan, aku tidak terlalu bertanya kenapa akan sulit untuk manusia memasukinya yang jelas sesuatu pasti sudah menungguku di sana.


Dengan rasa penasaran aku sampai namun desa itu tertutup benteng bambu yang memaksa siapapun untuk tidak bisa melewatinya, lebih sulit untuk dipercaya bahwa semua orang yang menjaganya memiliki telinga runcing.


"Manusia dilarang datang kemari, pergilah."


"Ayolah, apa tidak bisa membuat pengecualian... aku sudah diusir negara penyihir apa desa ini juga tidak membiarkanku untuk masuk."


"Kau diusir negara penyihir?"


"Katanya ada seseorang yang mencuri sihir terlarang mereka, hingga siapapun tidak diperbolehkan masuk atau keluar, aku perlu tempat tidur apa kalian tidak mau memberikan tempat untuk gadis lemah sepertiku."


Saat aku mengatakannya mereka semua seolah meringis.


"Mana mungkin kau lemah, tidak ada seorang gadis yang berkeliaran begitu saja seorang diri dengan santainya sepertimu."


Mereka terlalu keras kepala sampai akhirnya seorang wanita muncul, dia mengenakan mahkota di kepalanya serta memiliki rambut pirang sepinggul. Ada pun pakaiannya itu berwarna putih sama seperti mata yang dimilikinya.


"Biarkan gadis itu masuk."


"Jika Anda bilang begitu, buka gerbangnya."


"Baik."


Aku memang dibiarkan masuk namun ratu dari tempat ini tetap menginterogasiku dengan membawaku ke kamarnya, di sana ada kursi yang bisa kami gunakan berdua dan kami saling mengobrol.


Aku mulai dengan memperkenalkan diri sebagai Traveler yang sedang mencari buku tertentu yang bisa membawaku ke tempat mana saja yang aku inginkan. Ratu tersebut diam memikirkannya.


Aku tidak suka ini.


Aku memang senang saat bertemu dengan elf untuk pertama kalinya di dunia ini, hanya saja aku merasa datang tidak dalam waktu dekat.


"Aku memiliki benda yang kamu inginkan? Biar aku memeriksanya."


Aku menunggu beberapa saat melihat ratu ke sana kemari memeriksa apapun di kamarnya, itu bokong yang bagus, jika aku pria aku pasti akan melompat padanya saat ini, dia seharusnya lebih berhati-hati soal membawa seseorang ke kamarnya.


Ia mengambil sesuatu di bawah tempat tidurnya yang dengan cepat menaruhnya di dekatku.

__ADS_1


"Ini adalah gulungan teleportasi, asal kamu membayangkan tempat yang akan kamu tuju maka kamu akan dipindahkan ke sana, bahkan bisa menembus antar dimensi."


Aku tidak bisa menahan atas rasa senangku, tidak aku sangka bahwa aku akan dengan cepat mendapatkannya.


"Barang ini sangat langka bahkan hanya bisa digunakan satu kali, jika menyangkut harganya itu mungkin sampai jutaan koin emas."


Tanpa aku sadari aku mengerenyitkan alis, jika aku memiliki dua dari mereka atau lebih, itu artinya aku bisa bolak-balik antara duniaku dan dunia ini meski tanpa bantuan kelinci aku pasti bisa melakukannya.


Tentu saja itu hanya untuk rencana kedepannya, saat aku memutuskan untuk tinggal di suatu tempat di dunia ini.


Paling tidak aku memiliki tujuan baru untuk berpergian mencari gulungan teleportasi ini.


Menangkap maksud dari wajah yang aku tunjukkan, ratu elf tersenyum kecil.


"Aku bisa memberikan benda ini padamu? Tentu saja dengan satu syarat yang harus Alice penuhi."


Aku sudah menduga akan jadi seperti ini.


"Kamu sebelumnya sudah pergi ke negara penyihir bukan, jadi kamu setengahnya sudah tahu apa yang terjadi, karena itu tolong selamatkan orang yang dikatakan telah mencuri sihir dari sana."


"Kamu meminta hal seperti itu pada seorang gadis sepertiku?"


"Kamu bisa berpetualang sendirian, maka apa menurutmu itu bisa dilakukan oleh gadis lemah... terlebih bukannya seluruh tubuhmu dipenuhi senjata."


Ya ampun, ratu ini menakutkan. Dia bisa melihat apapun yang aku sembunyikan bahkan di dalam pakaian yang aku kenakan.


"Sebelum aku menerimanya, apa benar bahwa sihir terlarang yang kalian ambil?"


Ratu menggelengkan kepalanya dia mulai menjelaskan dari awal bahwa beberapa sihir ternama sebenarnya dibuat oleh para elf yang diambil oleh manusia.


Jika manusia mengambil ilmunya itu tidak masalah, namun yang kini manusia ambil adalah sebuah benda yang dibuat oleh elf itu sendiri, sebuah kristal yang bisa menumbuhkan pepohonan.


"Dengan kata lain kalian hanya mengambil benda yang sebelumnya kalian miliki."


"Benar, manusia itu makhluk serakah mereka suka berperang tanpa memikirkan dampak yang terjadi, meski perselisihan itu selesai akan selalu mendapatkan kerugian setelahnya, ngomong-ngomong negara sihir sebenarnya dibangun oleh nenek moyang kami di masa lalu."


Itu sungguh mengejutkan.


"Apa gulungan ini juga dibuat oleh nenek moyang kalian?"


"Benar sekali, namun dari yang aku ketahui tidak ada siapapun yang bisa membuat yang serupa sampai sekarang."

__ADS_1


__ADS_2