Alice In Another World

Alice In Another World
Chapter 06 : Sebuah Hujan


__ADS_3

Langit yang sebelumnya kelabu kini mulai terbelah dua menampilkan sinar menyilaukan bagaimana bak pertunjukan. Dihiasi dengan warna kemilau dari pelangi serta suara tetesan air yang menimpanya, aku terus memandangnya lalu berdiri dengan secercah harapan agar bisa segera meninggalkan tempat ini.


Sebelumnya aku berfikir bahwa aku sama sekali tidak akan bisa keluar dari sini tapi kurasa kekhawatiran itu tidak diperlukan lagi.


Aku menarik White bersama untuk melintasi puluhan mayat di bawah kakiku, negara ini jelas sekali sudah mati begitu juga negara tetangganya.


***


Beberapa waktu sebelumnya.


"Hey nona, sihir seperti itu aku tidak memilikinya? Bahkan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya juga sudah jarang, yang ini antar dimensi, sungguh tidak masuk akal."


Begitulah perkataan dari penyihir yang memiliki toko ini. Dia seorang wanita paruh baya dengan jubah serta topi runcing untuk menutupi rambutnya yang hitam panjang.


Sebelumnya aku datang kemari karena mengikuti seekor kelinci, sayangnya jika seseorang pernah mengikutinya sekali mereka tidak akan pernah menemukannya dua kali, jalan satu-satunya adalah dengan mencari sihir yang bisa membawaku kembali.


Aku memang mencarinya walau demikian aku tidak terburu-buru juga, pada dasarnya yang aku inginkan hanyalah sebuah petualangan seperti ini.


"Jika demikian aku hanya membeli buku kosong dan penanya untuk menulis."


"Baiklah."


Aku menerima dua barang yang aku minta dengan uang sebagai gantinya, aku sebelumnya berfikir bahwa ketika aku berada di dunia lain aku akan bisa dengan cepat menggunakan sihir namun anggapanku jelas salah.


Seseorang harus belajar.


Seseorang bisa menggunakan sihir tergantung mana yang dimilikinya, tidak semua orang memilikinya hanya orang-orang yang lahir dengan keberuntungan saja yang bisa menggunakan sihir.


Aku sudah memastikan aku adalah salah satu orang yang beruntung tersebut. Yang harus kulakukan sekarang hanyalah mencari seorang guru.


"Mari lupakan soal bukunya dulu, lalu apa Anda bisa mengajariku tentang sihir?"


Penyihir tersebut tersenyum masam.


"Jika kamu mau belajar sihir maka datanglah ke akademi sihir di kota ini, mereka memberikan pelatihan terbaik mereka pada siapapun asalkan mereka punya uang."


"Sayang sekali uangku sudah habis."


Aku terlalu boros menggunakan uang dan sekarang aku kehabisan karenanya.


Penyihir tersebut menghela nafas panjang


"Aku bisa memberikan pelajaran ringan jika kamu mau bekerja di sini sementara waktu, tentu saja aku akan membayar upahnya."


"Dengan senang hati aku menerimanya."


Ngomong-ngomong penyihir ini bernama Carmen, tokonya hanya satu-satunya yang menawarkan alat-alat sihir karena itulah aku datang kemari.


Biasanya aku akan langsung pergi entah satu hari atau satu Minggu, tapi dikasus-kasus tertentu mungkin tidak masalah jika aku tinggal di satu tempat dengan waktu yang lama.


"Kamu bisa datang lagi besok pagi dan mulai bekerja."


"Dimengerti."


Aku keesokannya datang seperti apa yang dikatakannya, tepat saat aku hendak membuka pintu orang-orang berseragam militer lebih dulu membukanya.


"Gadis kecil."

__ADS_1


Aku mengabaikan pernyataan itu dan melihat ke arah Carmen.


"Alice kamu datang, masuklah."


"Baik."


Aku membiarkan mereka lebih dulu keluar sebelum akhirnya gantian aku, mereka terlihat arogan dan jelas datang tidak dengan niat damai.


"Apa yang mereka lakukan di toko ini?"


Carmen seolah ragu dengan apa yang aku tanyakan meski begitu ia akhirnya membuka mulutnya.


"Mereka datang kemari untuk memintaku membuat sebuah senjata yang bisa menghancurkan satu kerajaan."


"Kamu menerimanya?"


"Jelas aku tidak ingin, karena inilah aku meninggalkan militer untuk membuka toko seperti ini, seharusnya mereka sudah berhenti memintaku melakukannya."


"Lalu apa yang kamu katakan pada mereka?"


"Aku meminta waktu tiga hari untuk memikirkannya lagipula jika aku menolak mereka akan membunuhku dengan tuduhan sebagai pengkhianat."


Aku kehabisan kata-kata lagi, saat aku masuk ke dalam kota ini aku memang sudah mendengar bahwa negara ini sedang berperang dengan negara sebelah, jika harus dikatakan alasannya karena kedua negara ini sama-sama menginginkan keuntungan sendiri.


"Apa yang sebaiknya aku lakukan?"


"Aku tidak tahu, entah seperti apa keputusanmu aku memilih untuk tidak terlibat di dalamnya, lagipula aku akan melanjutkan perjalanan lagi."


"Benar-benar tidak bertanggung jawab, ayolah katakan satu saja."


"Benar juga, jika negara ini berdamai maka aku tidak perlu membuat senjatanya."


Aku mengangguk kecil, entah apa yang akan dia lakukan aku tidak tahu. Yang jelas setiap harinya aku hanya bekerja dengan merapikan toko ini serta belajar sedikit tentang sihir dari Carmen, untuk Carmen sendiri ia jadi jarang ada di toko ia berperan ke sana kemari untuk membahas soal perdamaian.


Ketika tiga hari berlalu para militer datang kembali dan di sana Carmen menyetujui pembuatan senjatanya namun dia juga meminta waktu sebulan.


Para militer menyepakatinya tanpa masalah.


Aku selalu diam-diam memperhatikan Carmen yang terlihat frustasi, dia terkadang memegangi kepalanya dengan bingung, mana pun pilihannya dia akan dianggap sebagai pembunuh dan dia juga tidak berniat untuk mati.


Seorang yang disalahkan adalah orang yang memaksanya melakukannya.


Aku membuatkan teh untuknya.


"Kamu sebaiknya beristirahat nona Carmen, Anda sudah tidak tidur dari kemarin dan lupa untuk makan."


"Maaf membuatmu khawatir, bahkan Alice harus tidur di sini."


"Tidak masalah, jadi bagaimana soal perdamaiannya?"


"Gagal, kenapa manusia begitu serakah, bahkan aku berniat untuk meminta dukungan agar peperangan dihentikan namun siapapun tidak peduli."


"Kamu yakin bahwa mereka tidak peduli?"


"Benar Alice, orang-orang yang menolak mereka hanya akan diasingkan dan pada akhirnya mereka sendiri yang memutuskan pergi, mereka kebanyakan orang-orang yang menyayangi anak mereka."


"Begitu."

__ADS_1


Ini sudah tiga minggu lebih semenjak Carmen menyanggupinya. Aku bahkan sudah bisa menggunakan sihir angin berkat bantuannya.


"Jangan terlalu memaksakan diri, kalau begitu aku akan tidur duluan."


"Terima kasih Alice, jika tidak ada kamu aku mungkin sudah gila."


"Kau terlalu berlebihan."


Hari berikutnya Carmen telah menciptakan senjata buatannya, baginya dia sama sekali tidak ingin menggunakannya, setiap kali ia melihatnya ada sebuah tekanan yang bisa dirasakan olehnya. Terkadang aku melihatnya menangis sendirian.


Lalu satu hari sebelum senjata itu diberikan pada militer aku menyadari bahwa pintu kamarku telah terkunci.


Aku mengebrak pintu selagi memanggil nama Carmen.


"Carmen, kamu di sana?"


"Maaf Alice, tiga hari dari sekarang kamu tidak boleh keluar, aku sudah menyiapkan makanan di sana kamu tidak perlu khawatir."


Aku melirik ke sekeliling dan menemukan apa yang dia maksud.


"Kudamu juga akan baik-baik saja."


"Carmen apa yang akan kamu lakukan?" tanyaku khawatir.


"Dari dulu aku benci perang tapi mereka selalu memaksakannya padaku, aku berfikir jika mereka semua mati maka tidak akan ada lagi peperangan dan aku akan bebas."


"Carmen kau?"


"...."


"Kau tidak mencoba untuk membunuh dirimu kan."


"Tentu saja tidak, aku harus bisa menemukan putriku.. militer memaksaku untuk ikut kemari dan mereka mengatakan bahwa aku sudah mati pada putriku hingga dia pun meninggalkan negara ini."


"Jangan bilang?"


"Ketika aku berusaha menghentikan peperangan aku mengetahui kebenaran ini, padahal aku menjalankan toko ini untuk mengumpulkan uang agar bisa bertemu lagi dengan putriku di desa, tapi mereka malah... jika mereka suka membunuh akan aku tunjukkan pada mereka semuanya."


"Carmen, Carmen, Carmen, tunggu sebentar Carmen, mari berunding lagi dengan mereka?"


Aku hanya mendengar suara langkahnya yang menuruni tangga, semenjak itu aku tidak pernah mendengarnya lagi, selagi menatap langit dari jendela aku menghitung hari, aku tidak berani melihat jendela secara langsung, bahkan saat orang-orang berteriak dengan kengerian, aku memutuskan untuk menutup telingaku.


Ketika sudah tiga hari, aku mendobrak pintu tersebut. Hanya keheningan yang menyambutku. Tidak ada suara sedikitpun dan hanya ada sepucuk surat di meja.


"Maaf untuk semuanya Alice, suatu hari aku harap kita bisa bertemu lagi, di suatu tempat, di waktu berbeda."


Aku keluar rumah dan melihat bahwa hujan telah turun, yang mengejutkan bahwa mayat-mayat begitu saja tergeletak di jalanan. Mereka mati karena sebuah asap yang mematikan yang diledakkan seperti bom.


Kamarku sendiri terlindungi karena Carmen memasang sebuah sihir penangkal.


Ketika hujan reda dari kejauhan White datang.


Dia menjulurkan kepalanya padaku dan aku mengelusnya.


"Mari pergi."


White membalas dengan anggukan.

__ADS_1


__ADS_2