
Episode 18
"Al!, Kakak sama yang lain pengen banget martabat manis yang diPondok Esem kan deket tuh sama sekolahan mu hehe.
Tolong beliin ya ya? Nanti kakak ganti uangnya. Oke, martabak manis 1, telur 3, sama roti bakarnya 2. Udah itu aja. Makasih, muah!."
Tertulis dari pesan itu ditujukan pada Alysya yang dikirim dari Mela pagi ini.
Alysya mengiyakan permintaan itu, toh uangnya tidak akan berkurang dan pasti mendapatkan pahala.
***
Detak jantung bersahutan mendengar penjelasan dari guru jika besok akan diadakan ulangan harian.
Pandangan lemas tertera pada setiap permukaan wajah para murid kecuali si juara kelas yang menyandang predikat tertinggi pelajaran dikelas, Ami.
Terlahir dari keluarga kaya dan mampu menyewa guru les private.
"Ada yang ditanyakan?-
"Busayama- "
Tidak!. Baik, Bapak harap besok nilai kalian bisa sedikit memuaskan. Karena Saya sudah bosan menghukum kalian."
"Oh ya, besok menggunakan sistem kanan kiri. Sekian dari Saya, selamat sore."
Sepeninggalnya Pak Jo, kelas menjadi ricuh, seperti kumpulan semut yang tak sengaja terkena air.
Bubar jalan!
"Seketika otak gue nge-bug tau nggak?!"
Sentak Revan dengan memasukkan bukunya dengan kasar kedalam tas.
"Ha-ha-ha parah sih gue nanti malem mau latihan Bokap gue." Sanggahan dari Kean.
"Jalan ninja loe apa Za?" Tanya
"Ya belajar lah, kek orang gak punya otak Lo!"
"Huek! Loe aja tadi masih tanya gue!?" Aiden berpura-pura muntah, semua terkekeh kecil dengan apa yang terjadi.
"Jantung makin low low low low low."
Hahahaha
Tawa Aditya mendominasi ruangan.
"Udah udah, DUDUK SEMUA! Berdoa dengan kepercayaan masing-masing, mulai!" Paket yang tegas sudah memberikan perintahnya, Juna.
***
Al yang kini tengah duduk di kaki pohon luar taman dengan menekuk wajahnya, karena menerima pesan dari Mela.
Yang berisikan informasi tentang kantor yang ditutup sebab penyemprotan obat nyamuk, sehingga karyawan hanya masuk setengah hari.
__ADS_1
Sialnya, pesanan telah tersaji didalam kardus.
"Ya Allah, mau dikemanakan makanan ini?"
"Mubazir kalo nggak abis, hurf."
Al yang tengah melamun itu mendengar suara yang memanggilnya.
"Kakak! Kakak! Kakak!"
Al yang melihat itu sedikit curiga kenapa tatapannya ingin meminta tolong? Batinnya.
"Assalamualaikum, kamu ngapain disini?"
Tanya Al dengan menundukan tubuhnya berhadapan dengan anak laki-laki yang memanggilnya, sembari melirik pemuda yang menggandeng tangan bocah.
"Hehe, tadi aku jalan-jalan terus lari-larian ke taman. Ini mau pulang sama kakak ini." Ocehannya seraya menggoyangkan tanahnya dengan kencang itu membuat Al paham sekarang.
"Ohh, lain kali Ahmad jangan jalan-jalan sendirian ditaman ya." Al menatap mata anak laki-laki itu.
"Ekhem. Maaf karena saya terlalu asik mengobrol dengan Ahmad, dia tetangga saya. Dan terima kasih mau mengantar Ahmad pulang." Ucap Al dengan tersenyum manis.
"Ohya saya tadi membeli martabak, jika kamu berkenan mari makan bersama kami, Ahmad maukan?" Lanjut tawarannya pada pumuda itu.
"Em. Terimakasih tapi saya ada urusan lain."
"Oh! Kalau begitu bawa ini. Saya tadi membeli lebih, Saya dan Ahmad belum tentu menghabiskan semuanya." Al dengan sigap memberikan bungkusan yang berisikan 1 martabak telur dan satu roti bakar dan diterima manis oleh pumuda itu.
"Baiklah, terimakasih. Saya pamit, selamat sore." Pemuda itu melenggang pergi setelah mendengar jawaban Al.
***
Menandakan betapa seriusnya Ia, satu persatu pertanyaan muncul dipikirkannya.
"Enzo laper kak."
Al memasang wajah datar seketika, dia sudah menanti jawaban tetapi yang muncul sebuah pernyataan kata lapar.
Al memberikan minuman jely yang masih tersegel pada anak laki-laki yang menyebut dirinya Enzo.
"Makannya diapart Kakak aja ya? Ini udah mau Maghrib."
Dan diangguki olehnya.
Al mulai melajukan motornya kearah timur kemudian kearah Utara belok ketimur dan ke Utara kembali. Tidak! Itu arah pulang dari masjid sampai kerumah author.
"Ini masih jauh nggak kak?" Tanya anak laki-laki itu seraya memegang botol jely yang sudah tandas Ia telan.
"Ini udah diparkiran Btw." Al merasa jengah, kenapa masih bertanya padahal Ia saja sudah turun dari motor.
"Hehe"
Anak itu membalas dengan cengiran nya.
"Ya udah yuk masuk, kita lewat pintu belakang kalo lewat pintu depan kelamaan." Al menarik lembut tangan Enzo.
__ADS_1
Al mulai membuka pintu, hawa dingin menyeruak masuk ke sela-sela pori-pori kulit membuat bulu-bulu halus meremang.
"Apartemen kakak dingin banget? Aku nggak mau masuk ah! Nanti aku jadi es beku." Ucap Enzo seraya memundurkan langkahnya dengan cepat sehingga dirinya diambang pintu depan.
Al melihat Peter yang tengah duduk disofa yang menghadap langsung ke arahnya dengan sorot mata yang dingin.
"Beri kakak waktu Peter." Peter yang melihat mulut Al berbicara tanpa suara itu paham dan seketika Peter menghilang dari ruangan.
Suhu Apartemen itu mulai menghangat, karena memang dari awal Al selalu mematikan pendingin ruangan saat ingin pergi keluar.
"Udah kakak kecilin AC nya, jadi nggak terlalu dingin kaya tadi. Sekarang kamu mandi dulu." Ucap Al sambil menarik tangan Enzo dan mengajaknya ke depan pintu kamar mandi.
***
"Enzo, Bisa ceritain ke kakak?" Tanya Al seraya mengelap mulut Enzo dengan tisu secara telaten.
Mata Enzo berkaca-kaca menatap Al, air mata itu mulai menetes dengan cepat Al menarik Enzo ke pelukannya.
"Shutt... Nggak papa keluarin aja, nangis yang kenceng biar hati Enzo lega dan nggak sesak." Ucap Al halus.
"Kakak nggak tau masalah Enzo apa, yang kakak tau dari tatapan Enzo kakak yakin kalo Enzo mau keluar dari masalah ini. Enzo bisa cerita sama kakak, kakak siap untuk dengerin semua keluhan Enzo."
Tangisan Enzo semakin kuat, ia memeluk Al dengan erat dan dibalas usapan lembut pada rambutnya.
Cukup sekian lamanya Enzo menangis dan berakhir beberapa tisu untuk membersihkan air mata serta hidung yang mancung itu.
"Hiks hiks makasih kak hiks."
Adzan Magrib berkumandang jelas terdengar dari ponsel Al, dan Enzo masih terisak.
"Udah adzan Magrib, kamu beragama Islam?" Tanya Al hati-hati.
"Em m. Aku juga udah sunat 3 bulan lalu." Ucap Enzo, dengan polos menunjukan tiga jarinya.
"Umur kamu berapa kok udah sunat?" Tanya Al dengan ceria, itu salah satu cara untuknya berbicara dengan anak-anak.
"Aku udah tujuh tahun udah gede aku tuu. Em umur kakak berapa ? " Enzo menanggapinya dengan nada yang semangat dan mata yang cerah.
"Kakak masih muda loh 17 tahun. Dan kamu baby." Ejek Al.
Enzo yang diejek mengeluarkan ekspresi yang cukup cute, dengan bibir merucut serta tatapan yang kesal.
Al terkekeh kecil melihatnya, Rentina mata beralih pada ponsel yang masih menyala dan menampilkan waktu sholat Maghrib.
Al memutuskan sholat Maghrib berjamaah di masjid bawah, itu adalah salah satu fasilitas yang disediakan oleh pemilik apartemen.
****
.
.
..
.
__ADS_1
Note:
Salam toleransi:)