Anak Malang Itu Adalah Anakku

Anak Malang Itu Adalah Anakku
episode 10 aku lelah ayah


__ADS_3

hari ini adalah pengumuman hasil tes kedua fisika. amara masih berbaring di tempat tidurnya, kepalanya terasa pusing. lingkaran hitam di bawah mata tampak jelas pada muka amara.semalaman amara tidak bisa tidur dengan nyenyak.


amara penasaran dengan pengumuman hasil test fisika. dia membayangkan jika dia bisa lulus. dia ingin mengetahui pengumuman itu, namun tak ada teman atau sahabat di sekolahnya, sehingga amara tak bisa menghubungi siapapun untuk mengetahui hasil tes itu.


tokk.. tokk.. tokk


terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar amara.


"masuk "


teriak amara dari dalam kamarnya


pintu kamarpun terbuka, ayah nya masuk perlahan ke dalam kamar amara.


"kenapa belum bangun? sudah siang nanti kamu telat ke sekolah"


ayahnya menunjuk jam dinding kamar amara.


"aku ga enak badan yah, kepalaku pusing, hari ini aku izin ga masuk sekolah"


jawab amara sambil berbaring di tempat tidurnya


"yasudah kamu istirahat aja hari ini, ayah akan menelepon wali kelas mu. jika sore kamu belum membaik kita periksa ke dokter"


ayahnya memperingatkan amara


amara hanya mengangguk


lama ayahnya memandang amara, tak seperti biasanya.


"kalau ada apa - apa bilang sama ayah, ayah akan berusaha mendengarkanmu nak, "


ayah amara berusaha membuka hati, agar amara bisa lebih terbuka kepadanya.


namun amara tidak menjawab, dia masih terdiam.


namun perlahan amara bangun dan menghampiri ayahnya.


"boleh aku memeluk ayah"


amara bertanya dengan lemas


" tentu sayang, kamu adalah anak ayah, dan sampai kapanpun akan selalu menjadi anak ayah"


ayah amara berkata sambil memeluk amara. anak yang selalu dia rindukan kini dalam pelukannya. ada rasa bahagia, namun miris melihat nasib amara. seharusnya seorang ayah menjaga anaknya. namun ayah amara tidak pernah ada di samping putrinya. dia merasa tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk putrinya.


"maafkan ayah, ayah tidak bisa menjagamu"


tiba tiba ayah amara berbisik


"aku baik - baik saja yah"


amara menjawabnya dengan pelan


lama mereka berpelukan. seakan enggan melepaskan pelukan yang selama bertahun - tahun tidak pernah dia dapatkan dari seorang ayah.

__ADS_1


amara berfikir semua bukan salah ayahnya semua sudah jalan dan takdir tuhan yang harus dia terima.


dan seberapa besar amara akan sanggup untuk bersabar.


perlahan amara melepaskan pelukannya.


ayahnya terlihat menangis, amara mengusap air mata yang menetes di pipi ayah nya.


"jangan menangis, aku akan lebih sedih jika ayah menangis"


amara berusaha tegar di depan ayahnya.


ayahnya hanya mengangguk, dan berkata


" ayah berangkat kerja dulu ya"


setelah itu ayah amara pergi meninggalkan amara sendirian di kamar.


jam menunjukan pukul 02.00 siang. amara masih berbaring di tempat tidurnya. tatapan nya kosong menatap langit-langit kamarnya. perlahan-lahan ia meneteskan air matanya. tiba-tiba dia merindukan ibunya di jakarta. jika ada masalah pasti amara bercerita semua pada ibu nya. semuanya akan membuat amara lega dan membagi sedikit bebannya. namun saat ini amara hanya bisa memendamnya sendiri. tanpa ada seorangpun yang tahu.


perlahan dia mengambil hp nya kemudian dia menelepon ibunya.


rasa rindu yang teramat sangat, untuk ibunya. tak bisa terbendung lagi. mengalahkan semua keegoisan nya.


"hallo, ibu"..


amara berkata sambil terbata -bata


"iya nak, kamu sehat di sana? ibu kangen"


lama amara terdiam kemudian dia berkata lagi


"aku sehat bu, aku juga kangen ibu.."


amara berkata dengan mata berkaca kaca namun dia berusaha untuk tegar


"kapan kamu ke jakarta..?"


ibunya bertanya lagi


amara terdiam tak ada satu katapun yang ia ucapkan. tak bisa di pungkiri amara sangat rindu pada ibunya, tak pernah ia melihat wajah ibunya sejak perpisahan 2 tahun silam.


"kamu tak usah khawatir, ibu baik-baik saja.."


ibu amara kembali berkata, namun masih tetap sama tak ada jawaban dari amara. amara tak kuat berkata kata lagi, air mata nya berjatuhan. dia tak ingin ibunya mendengar jika dia menangis. amara menutup mulutnya ia ingin menyembunyikan isak tangis pada ibunya.


ingin amara bertemu dengan ibu nya, dan langsung memeluknya, untuk mengobati rasa rindu yang teramat sangat.


"anakmu sudah besar. dia cantik sepertimu."


ibunya kembali berkata.


amara tetap diam membisu, dia mengusap air matanya.


"aku tidak ingin melihatnya bu.."

__ADS_1


amara berkata sedikit marah penuh dendam.


"ibu mengerti, dan ibu tak akan memaksamu untuk menerima anak ini. pulanglah jika kamu sudah siap."


"iya "


jawaban amara sangat singkat..


hp pun mati...


dia tak ingin meluapkan emosi dan kekesalan anak yang di lahirkannya pada ibunya sendiri.


hari itu amara amat sangat merindukan ibunya.


namun keadaan yang membuatnya harus seperti ini.


dua tahun baginya adalah waktu yang sangat berat, hidup tanpa ibunya. beban masa lalu nya yang menjadi catatan hitam dalam hidupnya.


perlahan dia beranjak dari tempat tidurnya, kemudian duduk di kursi menghadap meja belajarnya. tangannya mengambil sebuah poto, lama dia memandangi poto itu. sebuah poto kenangan bersama ibunya semasa di jakarta dulu.


tiba tiba dia teringat masa masa smp saat di jakarta. saat dia masih mempunyai banyak teman, apakabar semua teman - temannya di jakarta. amara merindukan mereka. mungkinkan suatu saat amara akan bertemu lagi dengan mereka.


dia rindu dengan semuanya di jakarta, kecuali anak yang pernah dia lahirkan.


semuanya akan baik baik saja. itu lah kata - kata amara untuk menyemangati dirinya sendiri. tak ada sandaran ataupun tempat mencurahkan semua perasaannya, semua terasa hampa, kaku dan membosankan.


amara menyimpan kembali poto ibunya ke dalam box, kemudian memasukannya ke dalam lemari. amara berharap setelah melihat ini akan lebih baik dan bisa membuatnya mengobati sedikit rasa rindu pada ibunya.


"aku akan pulang bu, suatu saat nanti"


dia melihat cermin di hadapannya


"sampai aku bisa sukses dan membahagiakan ibu. "


amara berkata sambil meneteskan air matanya.


"semoga suatu saat nanti aku bisa menerima anak itu"


amara tiba - tiba teringat wajah lelaki yang memperkosanya dulu. lelaki yang sama sekali dia tidak kenal. namun wajah itu perlahan menjadi buram, karena benturan keras yang menghantam kepalanya saat itu.


"kamu, tidak akan tenang"


amara berkata dengan amarahnya


"aku, pasti bisa menemukanmu dan menyeretmu ke penjara, lelaki brengsek.."


dendam amara semakin besar jika dia mengingat laki - laki brengsek yang telah merenggut semua kehormatannya. bahkan sampai saat ini amara tidak bisa hidup dengan tenang.


tiba - tiba seluruh tubuh amara lemas. badannya terasa panas. terlalu banyak beban yang dia pikirkan.


dia bergegas keluar kamar dan mengambil obat di kotak obat. kemudian dia meminumnya. dia berharap bisa meringankan sedikit rasa sakitnya.


kemudian dia masuk lagi kedalam kamar nya dan berusaha memejamkan matanya. untuk sejenak melupakan semua beban yang membebani pikirannya.


Bersambung

__ADS_1


..


__ADS_2