
Hari ini adalah hari libur sekolah. amara masih bermalas - malasan.
Amara duduk di kursi di depan meja belajarnya. matanya menatap lembaran buku fisika yang sobek menjadi beberapa bagian.
perlahan dia mulai menyatukan lembaran - lembaran sobekan kertas yang ada di hadapannya, dan mulai merapatkannya dengan lem.
amara akan mengikiti tahap seleksi fisika selanjutnya, jika dia lolos dia akan mewakili seluruh kelas 10.
Amara berharap bisa lolos seleksi fisika nanti. walaupun akan banyak yang orang yang tidak menyukainya, terutama seril dan teman - temannya.
Amara tetap ingin lolos seleksi, semangat nya tinggi. namun saat dia mengingat lagi perlakuan seril kepadanya. membuatnya patah semangat, namun dia cepat - cepat menepisnya untuk mempertahankan keinginannya.
satu buku telah tersambung kembali. setelah beberapa jam amara menyusunnya hingga terbaca kembali, namun catatannya tidak sebagus dulu. namun amara masih bisa membaca catatan - catatannya.
dia mulai membaca tulisan yang ada di buku itu. kejadian kemarin adalah cambuk yang membuatnya harus tetap maju dan berjuang.
Amara ingin belajar lebih serius dan fokus. dia berusaha membuka lembar demi lembar catatannya, tapi hari ini dia benar - benar tidak bisa fokus. di tutup nya buku yang ada di hadapannya.
amara mulai melamun, tiba-tiba dia teringat kejadian tiga tahun silam yang merenggut semua kebahagiannya. laki - laki yang tidak di kenalnya datang dalam keadaan mabuk dan langsung membawa amara ke sebuah rumah tua, dan memperkosanya. amara tersadar setelah dirinya berada di rumah sakit. seketika air mata nya jatuh, amara tidak dapat menahan tangisannya. tangannya mengepal, bibir nya bergetar menahan marah.
tiba - tiba dia ingat ibu dan anak yang pernah di lahirkanya.
"bagaimana kabar mereka sekarang"?
pertanyaan itu terus bersarang di benaknya.
amara belum siap untuk bertemu anaknya. dia belum bisa menerima jika dia pernah melahirkan anak.
amara melihat wajah nya di cermin
"aku masih kecil, aku tidak mau punya anak"
amara berkata pada dirinya sendiri.
sampai saat ini amara belum bisa mengakui anak itu sebagai anaknya.
amara menganggap anak itu adalah aib yang menghancurkan seluruh hidup dan masa depannya.
air matanya terus berjatuhan. terlihat raut mukanya memerah, tangannya mengepal, dia ingin marah, tapi entah bagaimana dia bisa meluapkan semua kemarahannya.
perlahan - lahan amara mengambil kotak hitam kecil yang ada di dalam lemari.
dia mulai membuka kotak hitam kecil itu.
pandangannya menatap isi kotak itu dengan penuh dendam.
perlahan dia mengeluarkan isi kotak itu.
kotak itu berisi gelang hitam berbahan tali dengan gantungan berbentuk dadu dan bertuliskan huruf "R".
gelang itu adalah bukti pemerkosaan tiga tahun silam. gelang itu tersangkut di baju amara.
"dengan bukti ini, aku akan menemukanmu, dan menyeretmu ke penjara"
tatapannya penuh dendam. dia mulai menggenggam gelang itu dengan kuat.
__ADS_1
tok... tokk
terdengar suara ketukan pintu kamar dari arah luar. amara terkejut, seketika dia tersadar dari semua lamunannya.
cepat-cepat dia memasukan gelang yang di genggamnya ke dalam kotak kecil tadi dan menyimpannya di lemari tempat semula dia mengambilnya.
"amara.."
ayah nya memanggil dari luar pintu
"masuk yah, pintunya gak di kunci"
jawab amara dari dalam kamar
seketika pintu terbuka
"apa ayah mengganggumu nak?"
ayah nya bertanya pada amara
"tidak yah.."
amara menjawab
dia masih duduk di kursi di depan meja belajarnya.
"ibumu menghubungi ayah, dia sangat rindu padamu amara, sebaiknya kamu menghubunginya"
ayah nya berkata sambil duduk di tempat tidur amara.
"apa sekarang kamu betah di sekolah yang baru?"
ayah nya berkata sambil menatap amara
amara hanya mengangguk kemudian dia menunduk
"syukurlah..."
ayahnya terlihat lega.
"ayah ingin kamu akan jauh lebih baik di sini, tolong jangan kecewakan ayah sama ibu"
ayahnya berkata penuh harap
"kapan - kapan ajaklah temanmu kemari, kamu tidak akan kesepian jika kamu punya banyak teman"
ayahnya meyakinkan
amara hanya mengangguk
sudah hampir satu tahun amara bersekolah, namun dia belum pernah membawa satu teman pun kerumahnya
ayahnya masih merasa khawatir dengan keadaan amara. dia masih sering murung, lebih sering menyendiri, tidak pernah bercerita apapun pada ayahnya.
ayahnya tetap berharap, amara akan pulih lagi seperti sebelumnya dan menemukan kebahagiaannya.
__ADS_1
ayahnya lebih sering membebaskan amara dan memberinya sedikit ruang untuk nya bisa berfikir. amara akan pulih secara perlahan. ayahnya tidak mau memaksakan kehendaknya kepada amara. namun dia tetap memantau dan memperhatikannya. bebannya sangat berat untuk anak seusianya.
"kalau ada apa-apa kamu bisa ngomong sama ayah..ayah menyayangimu nak"
ayahnya mulai mendekati amara dia berdiri di samping amara.
amara hanya mengangguk, perlahan dia memalingkan mukanya, dia tidak mau terlihat menangis oleh ayahnya.
ayahnya langsung memeluk amara, dia tahu amara menyembunyikan isak tangisannya.
"menangislah jika kamu mau menangis, bahu ayah masih kuat untuk menopangnya"
amara memeluk ayahnya dengan erat, baru kali ini dia merasakan sosok ayah yang telah lama tidak dia rasakan.
"aku baik-baik aja yah"
amara berkata sambil meneteskan air mata, amara merasa tenang saat dia memeluk ayahnya.
"jangan menyembunyikan semuanya sendiri, walau bagaimanapun kamu adalah anak ayah.."
ayahnya meneteskan air mata.
siang itu menjadi siang yang mengharukan bagi amara dan ayahnya.
dari dulu ibu amara sering bercerita tentang ayah amara. ibunya tetap mengenalkan sosok ayah pada amara, walaupun tidak tampak nyata.
"ayah adalah orang yang baik amara"
itulah kata - kata ibunya yang menjadi gambaran ayahnya, agar amara tetap mengingatnya.
"kalau ayah baik, kenapa ayah meninggalkan kita bu?. kenapa kita hanya tinggal berdua tanpa ayah?"
itulah pertanyaan yang selalu amara tanyakan pada ibunya. namun tidak pernah ada jawaban.
saat itu amara tidak mempercayai ayahnya, bahkan dia sangat membencinya.
amara selalu beranggapan ayahnya pergi meninggalkan dia dan ibunya.
terlebih lagi ayahnya sudah menikah lagi dan mempunyai anak dari pernikahan barunya.
membuat amara semakin marah dan tidak percaya pada ayahnya.
namun saat ini amara mulai mengerti. dia mulai mengetahui alasan orang tuanya betcerai.
dan memang benar ayahnya adalah sosok laki - laki yang baik dan bertanggung jawab. bahkan dia mendapatkan istri baru yang baik pula.
semy adik tiri amarapun orang yang sangat baik. mungkin semi terlahir dari orang tua yang baik dan mendapat didikan yang baik juga dari kedua orang tuanya.
semy selalu mengalah pada amara, dia lebih dewasa dari seusianya. dia sangat menyayangi amara. namun amara lebih banyak diam, sehingga sulit untuk semy bisa lebih dekat dengan amara.
amara bersyukur mempunyai dua keluarga yang selalu mendukungnya saat dia terpuruk, mereka siap menopangnya untuk bangkit kembali.
bersambung....
__ADS_1