
Mereka sempat berkonfirmasi kepada walikota siapa yang tau tempat tersebut namun, walikota hanya bisa berkata tidak tahu, walikota hanya bisa mengatakan hanya ada seseorang yang mengetahuinya dan walikota tidak mengetahui siapa orang tersebut.
Mereka memutuskan untuk kembali ke kota Angin, mereka juga dilengkapi oleh beberapa peralatan untuk bepergian serta makanan untuk beberapa minggu ini.
Baru saja mereka akan pergi Lydia secara tiba - tiba muncul dihadapan mereka sembari terapung meyalang ke atas, sontak seluruh prajurit terkejut kenapa ada kaun Demon disini.
" Tenang semua ini teman kami."
" Hai apa kabar, kalian pasti sedang mencari obat untuk mennyembuhkan kutukan Ny. Yoslin, aku tahu tempatnya mungkin aku bisa bantu."
Seketika walikota yang mendengar hal itu tidak percaya, bagaimana mungkin seorang Demon mengetahui tempat suci tersebut.
Walikota awalnya meragukan Lydia, karena saat dahulu kala saat nenek moyang kota air masih hidup, kaum demon pernah menyerang kota air habis -habisan sampai banyak korban jiwa berjatuhan.
Dari hal itu Walikota sangat membenci kaum Demon namun, jika demi kesembuhan anaknya walikota akhirnya percaya pada Lydia.
" Baiklah, ayo kita berangkat."
Namun, hanya ada dua orang saja yang ikut yaitu Sato dan Hideko, Kai, Sora, Haruto, dan Yukiko tidak ikut karena untuk berjaga - jaga takut hal yang tak diinginkan akan terjadi, jadi mereka akan tingal di sini untuk sementara waktu.
Hideko dan Sato pun akhirnya siap dan mereka pun memulai perjalanan mereka.
Lydia mengarahkan Hideko dan Sato, pada sebuah guha yang di percaya adalah gerbang menuju Negri Peri.
Lydia pun menyalakan api di tangannya untuk penerangan. Mereka menemukan dua pilihan jalan yaitu kiri dan kanan.
" Cap Cip Cup.. Kanan saja."
Mereka pun mengikuti saran dari Lydia mereka pun melewati jalan kanan. Dan untungnya jalan kanan adalah jalan yang tepat, mereka pun berjalan dan menemukan sebuah aliran sungai dalam guha tersebut.
Lydia berkata untuk mengikuti aluran sunggai ini, maka mereka akan sampai ke sebuah gubuk kecil. Dalam gubuk kecil tersebut ada sebuah kristal kehidupan yang digunakan untuk membuka kunci gerbang Negri Peri.
Setelah sampai, mereka memeriksa gubuk kecil tersebut. Setelah beberapa menit berlalu mereka akhirnya menemukan kristal tersebut di bawah sebuah patung monyet ukiran yang terbuat dari kayu.
__ADS_1
Lydia pun menemukan sebuah lubang yang bentuknya sama persis dengan kristal tersebut. Mereka pun memasukan kristal tersebut agar portalnya tersebuka.
Angin bertiup kencang saat portal itu terbuka, buku - buku berterbangan kesana - kemari. Setelah angin itu selesai, mereka memasuki portal tersebut. Setelah mereka masuk portal tersebut menutup secara otomatis, Hideko dan Sato kebinggungan bagaimana cara mereka keluar.
Lydia dengan santai mengatakan " Santai saja,
Semua nya aku yang atur."
Mereka pun menelusuri tempat indah tersebut, di tengah hutan yang rindang mereka juga dapat menemukan banyak sekali jenis bungga baru, bahkan lebih indah dari bungga yang pernah mereka temui, ini adalah pertama kalinya mereka mengunjungin Negri Peri.
Sungguh indah pemandangan di sini, dengan pohon yang berwarna warni dan juga langit yang indah sekali, air di dunia peri ini bukan air seperti biasanya, melainkan banyak jenis air disini, termasuk air susu, air coklat dipenuhi dengan marsmelow raksasa.
Rasanya jika sudah sampai disini tidak ingin pulang lagi. Setelah mereka sampai mereka disambut oleh Ratu dan Raja dari Negri Peri ini.
Seorang Ratu Peri dengan sayap yang berkelap - kelip dengan rambut panjang yang berwarna abu terang dan baju gaun yang berwarna emas dan abu.
Dan seorang raja yang terlihat berwibawa dan kuat, dengan jas berwarna hitam putih membuat nya semakin berwibawa dan gagah mempesona.
Sang Ratu bertanya apakah perlu mereka, mungkin bangsa Peri dapat membantu. Sato menjelaskan pada Ratu elf yang mereka butuhkan adalah Flower of Soul.
Hideko dan Sato dikawal oleh tiga orang penjaga di kerajaan agar menjamin keamanan mereka. Sementara Lydia ia sedang membicarakan sesuatu dengan Ratu dan Raja Peri.
Sementara di kota air, Kai dan Sora masih menungu kehadiran mereka. Wajah Walikota Albert benar - benar pucat nampakya Walikota sangat khawatir dengan keadaan putrinya tersebut dan juga putra nya yang masih setengah siuman.
Sora sekali - kali melihat Yoslin untuk melihat kedaan nya, walaupun pasti ia tidak akan sadar. Sora pun memutuskan untuk keluar sembentar dan mencari makanan. Ia pun mencari toko yang menjual makanan cepat saji, toko capat saji Sora pun akhirnya menemukan toko tersebut namun, ada seseorang yang tak asing baginya.
" Tori."
Seketika Barang belanjaan yang ia pegang terjatuh ke lantai. Entah kenapa ia merasa itu adalah Tori.
" Ada yang bisa saya bantu tuan."
Entah kenapa Sora tidak bisa menahan dirinya untuk memeluk Tori.
__ADS_1
" Tuan halo, apakah kita pernah bertemu? wajahmu sudah tak asing."
Sora pun tersenyum rasanya ia benar - benar tak kuasa untuk menahan kerinduannya. Tori membalas senyumannya, ternyata seluruh orang yang sudah mati akan spaun kembali pada dunia game.
Tori bekerja di super market ini kurasa Tori akan ikut dalam petualangan mereka. Sora pun membayarnya, dan kembali ke kerajaan.
Sembari berjalan Sora tersenyum sendiri bahkan saat sampai, ia masih tersenyum sendiri membuat Kai merasa aneh dengan temannya itu.
Sementara Hideko dan Sato, mereka ternyata sudah menemukan bungga tersebut. Setelah berhasil menemukan mereka pun pamit kepada Ratu dan Raja Peri.
Mereka pun kembali dengan membawa Flower of Soul. Mereka pun kembali dengan hati yang gembira, setelah kembali mereka disambut dengan hangat oleh para penjaga di kota angin. Saat sampai mereka langsung memberikan bungga tersebut pada dokter agar dapat segera diolah oleh alat - alat sang dokter.
Bungga tersebut dicampur lagi dengan beberapa obat - obatan lagi agar lebih sempurna. Setelah berhasil mencapur obat - obatan, mereka pun menyuntikan obat tersebut pada Yoslin.
Beberapa saat kemudian Yoslin tersadar, dihadapan Yoslin sudah ada walikota kakanya, Hideko, Sora, Haruto, Yukiko, Kai, dan Sato.
Walikota nampak senang kegirangan, melihat Putri nya sadar kembali. Walikota berterima kasih pada mereka, untung saja mereka cepat menanganinya, karena dokter berkata jika obat tidak datang hari itu juga mungkin nyawa Putri Yoslin akan terancam.
Selesai dari berbincang dengan Walikota, karena hari mulai gelap mereka di perbolehkan untuk beristirahat. Saat yang lain sudah tidur terlelap, Sora dan Hideko masih bangun dan saling bercerita.
" Hideko, hari ini aku benar - benar senang."
" Wah benarkah, ceritakan aku ingin mendengar nya."
Sora pun menceritakan kejadian saat di toko tersebut, ia betemu dengan Tori. Walaupun Hideko tak mengenal Tori namun, ia tetap senang untuk Sora.
Setelah satu jam mereka saling berbagi cerita akhirnya mereka kembali pada kamar masing - masing dan tertidur pulas.
*
*
*
__ADS_1
To be Continue