
Hideko tiba – tiba terbangun di sebuah ladang bungga, dipenuhi bungga lavender. Rasanya ladang bungga ini tak asing sepertinya ia pernah mengunjunginya.
Dari arah depan ada tiga orang sedang menatap pada langit dengan cakrawala yang indah.
“ Ayo sayang, kemarilah bermainlah dengan kakak mu.”
“ Ibu, ayah, kakak, kalian.”
Hideko berlari dengan kencang memeluk ayah ibu dan kakanya dengan erat, rasa rindu tak dapat lagi terbendung, terutama air mata yang tak tahan untuk keluar.
“ Aku merindukan kalian.”
Ini adalah kedua kalinya ia dapat bertemu ayah nya, Hideko benar – benar merindukan sosok sang ayah yang sudah lama meninggalkan nya, ia harap ia dapat bersama selamanya bersama – ayahnya.
Sudah bertahun – tahun ia tak bertemu dengan ayah tercinta namun, Hideko secara tiba – tiba terbangun karem.
“ Hide, kamu kenapa hei?, ada apa apa kamu bermimpi buruk?.”
Hideko pun menghapus air mata yang ada di pipinya, saat ia melihat ke kaca ia melihat matanya yang sembab, ia rasa mimpinya hanya sebentar namun, begitu terasa bahkan sampai matanya sembab.
Hideko pun segera pergi kekamar mandi dan membersihkan tubuh nya. Sembari berendam di air hangat ia menatap langit – langit kamar mandi.
“ Mimpi yang begitu nyata.” Gumamnya sembari mulai mengelam ‘kan wajah ke dalam bak mandi.
Hideko pun beranjak dari bak mandi dan mengeringkan tubuhnya, ia pun keluar kamar mandi disana ada Sora yang tertidur dalam posisi duduk.
“ Huh, bagaimana ini jika begini aku harus menganti baju di kamar mandi menyebalkan!.”
Hideko secara pelan – pelan mengambil baju agar tak membangunkan Sora, Hideko pun pergi kembali menuju kamar mandi.
Hideko pun mengeringkan rambutnya lalu mengenakan baju yang ia ambil, Hideko pun tak tega untuk mengangu Sora yang tertidur pulas, Hideko pun menyelimuti Sora agar tidak kedinginan.
Hideko melihat sebuah bingkisan keci apa ini untuknya, Hideko pun menutup pintu kamar dengan pelan – pelan agar Sora tak terbangun, nampaknya Sora terlambat tidur saat malam hari. Hideko melihat jam sudah pukul Sembilan pagi, sepagi ini Sora sudah datang sepagi itu.
<><><><>><><>><>>>><><><><>>><><><><><><><<><<
Sora pun terbangun dan melihat Hideko belum mengambil bingkisan tersebut, Sora pun beranjak dari sofa untuk keluar, tak lupa ia mengambil bingkisan yang ingin ia berikan pada Hideko.
__ADS_1
Sora melihat sekitar ruangan namun, ia tak kunjung menemukan Hideko.
“ BOOO, cari siapa.”
“ Aku mencari Hideko.” Ucapnya tanpa menoleh kebelakang.
Hideko tertawa kecil karena yang bertanya tadi adalah ia sendiri, saat Sora menoleh kebelakang ternyata ia baru sadar yang tadi bertanya adalah Hideko sendiri.
“ Ada apa?.”
Sora hanya tersenyum dan memberikan bingkisan tersebut, dan isinya adalah sebuah gelang yang terbuat dari material tak biasa, Sepertinya ini adalah material dari dunia game.
Hideko pun berterima kasih pada Sora.
“ Koleksi gelang ku sekarang ada lima dan ini paling tak biasa keren!, terima kasih Sora.”
Hideko pun pergi dan kali ini ia mencari Sato karena sendari tadi ia tak melihat Sato.
Hideko coba mencari kembali di ruangan mereka mungkin ada Sato yang tertutup oleh selimut atau tertidur di dalam lemari pakaian.
Hideko pun tak mempedulikanya mungkin mereka bangun lebih pagi darinya atau sedang pergi pada kamar mereka untuk menanyakan hal tersebut dan Hideko pun turun ke bawah, dan akhirnya sampai di lantai bawah.
Catatan Kai dan Sato satu kamar namun, tidur di kasur berbeda dan dibatasi oleh tirai.
Hideko pun keluar sebentar untuk membeli makanan karena di kulkas kosong, Hideko pun keluar dan menghirup udara pagi.
Hideko membeli beberapa makanan ringan untuk pagi ini, setelah Hideko sarapan ia memutuskan untuk kembali Pada tempat itu .Sesampai nya disana ada Haruto yang sedang tertidur di sofa depan, Yukiko yang sedang menyapu lantai.
Hideko bertanya pada mereka dimana Sato dan Kai sejak pagi mereka tak menampakan diri mereka.
Yukiko tak tahu menahu tentang keberadaan Sato dan Kai, bahkan mereka sudah bangun dari pagi namun, merek tak melihat Kai dan Sato keluar rumah, sepatu mereka juga masih berada di rak sepatu dan sepertinya mereka tak keluar rumah, Hideko pun menaiki tangga dan masuk pada kamarnya dan ingin mengambil permen yang ia simpan.
Hideko pun duduk dan memakan permen lollipop tersebut sembari melihat ruangan kamarnya, Hideko pun selesai memakan permen lolipopnya. Ia pun berbaring dan menatap langit – langit kamar nya, ia merasa bosan tidak tahu apa yang ingin ia lakukan.
Tiba – tiba hujan turun di siang hari, matahari tertutup oleh awan mendung, ia pun membuka tirai jendelanya dan menatap langit nya yang gelap, udara nya begitu dinggin dari atap terdengar rintikan hujan yang mengenai genting.
Hideko turun ke lantai bawah dan mengambil susu yang berada di kulkas dan juga kue coklat kesukaan nya.
__ADS_1
Ia memakannya sendiri kali ini karena tidak ada Kai yang akan meminta kuenya.
Terdengar suara Kai dan Sato dari bawah, Hideko segera menyimpan gelas berisi susu dan kuenya.
Ia pun turun menghampiri mereka, Kai dan Sato datang dalam ke adaan basah kuyup. Kai dan Sato pun mengeringkan diri mereka dan menganti baju lalu menghangatkan diri dengan secangkir coklat panas.
Mereka pun berbincang sembari meminum coklat hangat di tengah hujan itu kecuali, Sora dan Haruto yang tertidur dengan nyenyak. Kai tiba – tiba memberikan sebuah teka – teki yang bertema dengan hujan.
“ Hei aku ada teka – teki dengar dengan benar ya, jadi ada empat orang dan sedang mendung dan hanya ada satu payung jadi mereka harus bagaimana.”
“ Mudah, hujan nya juga tidak turun lalu untuk apa takut basah, hahah teka teki anak kecil.” Jawab Sato.
Kai pun bertepuk tangan dan ia masih belum mau kalah, kali ini ia bertanya Negara apa yang selalu sedia payung. Kali ini Sato mencoba menjawab Jepang dan jawabanya salah, Hideko mencoba menjawab Swedia payung dan jawabanya tepat.
Mereka pun tertawa dengan jawabanya yang aneh – aneh tersebut, mereka bercanda dan bergurau saat hujan tersebut.
Hingga akhirnya hujan kembali reda, sinar mentari kembali menyinari bumi ini, Sora pun bangun dan memasakan makan malam.
Malam pun tiba Hideko pun menaiki tangga untuk ke lantai paling atas untuk menyaksikan bulan yang indah, Hideko kali ini ditemani Kai, Tiba – tiba.
“ Kirana nan menyinari rembulan, kau disampingku seraya tersenyum padaku dan kala ku ku pandang ke atas rembulan sedang mengintip. Ada yang tak dapat kita capai meskipun ku ulurkan tangan ku namun, kita masih bisa menyinari buana ini.”
Hideko pun melihat ke sisi kiri seakan ada yang berbicara namun, tak ada siapa – siapa disana selain pohon. Ia tak mempedulikan kata – kata tersebut dan kembali menyaksikan bulan terang tersebut bersama Kai.
Namun, benar – benar kata yang indah, kata tersebut selalu terbayang dalam benak nya seakan ada yang pernah mengatakan hal tersebut padanya. Hideko mengingat kata tersebut dan menulis nya pada buku hariannya.
“ Sebenarnya apa itu halusinasiku atau memang ada seseorang di balik pohon yang rindang itu, huft mungkin aku kurang tidur.”
Hideko pun membaringkan tubuhnya dan menyelimuti dirinya dengan selimut dan mematikan lampu, ia pun tertidur lelap dan disinari oleh rembulan.
*
*
*
To be continue.
__ADS_1