
>> Matteo Zagreus Agore <<
Malam hari, Matteo justru malah berjalan-jalan tanpa ada yang menemaninya. Sebenarnya dia bisa saja mengajak Hazel, tapi kejadian tadi siang pasti masih membuatnya pusing. Sepupunya itu juga masih merasakan perih hingga saat ini meski sudah diobati.
Andai ia bisa membatalkan perjodohan Hazel dengan Arzhel, gadis itu pasti tidak akan merasakan sakit sebegininya. Dia akui, Hazel adalah orang yang ia sukai. Sejak lama bahkan dari sebelum Hazel dijodohkan dengan Arzhel. Namun, keluarganya benar-benar lebih memilih keluarga Mageo untuk menjaga putri semata wayang mereka.
Hazel juga sepertinya sangat menganggap dia sebagai sahabat, oke tidak apa-apa ... selagi ia masih bisa berada di sisi Hazel. Dia juga tidak ingin merusak persahabatan mereka hanya karena dia menyukai sahabatnya sendiri, berakhir canggung dan ia akan kehilangan Hazel.
Belum lagi perilaku Hazel dari semenjak jatuh dari tangga berubah hampir 100%. Biasanya hari harinya dilewati hanya dengan mencari Arzhel, berusaha mengikutinya kemana-mana dan juga mencari cara bagaimana agar Alexa bukanlah gadis yang Arzhel pilih lagi.
Matteo berusaha menjaganya sekuat yang ia mampu, begitupun saat orang-orang mulai memandang jahat Hazel setelah Arzhel mempermalukannya, ingin sekali ia memukul Arzhel tapi hatinya justru lebih teriris karena yang Hazel lakukan hanya diam dan pergi. Tidak marah atau mengucapkan apapun sama sekali.
Dia menghela nafas sembari menunduk menatap jalanan, tanpa ia sadari seseorang berlari dari arah berlawanan hingga menabraknya cukup keras. Matteo mundur satu langkah dan tangannya mencoba memegangi seseorang itu agar tak jatuh ke tanah. Barulah saat ia lihat siapa orang itu, Matteo langsung melepaskan tangannya.
"E-eh, maaf ..., Matteo," ujarnya gugup seraya menunduk, sikap memuakkan yang selalu ia lihat. Matteo berdecak, tanpa bicara berniat untuk pergi tapi Alexa justru berbicara lagi. "Matteo, maaf. Tadi ada yang mengejarku jadi aku tidak lihat jika ada kamu."
Matteo terdiam sebentar, ia lalu mengangguk. "Ya," jawabnya tanpa kalimat lain. Ia kembali melangkah tapi tangannya tiba-tiba dicengkram, Matteo menoleh dan melihat Alex yang tengah menatapnya.
"Matteo, maaf. Boleh aku minta tolong?" tanya Alexa dengan tatapan penuh harap, tatapan polos yang bisa menghipnotis siapa saja.
Namun tidak dengan Matteo. Ia justru melepaskan cengkraman gadis itu dan seraya berjalan pergi, tak peduli hal lainnya. Sementara Alexa terus menatap penuh harap padanya tapi tak berani untuk mengejar, Alexa berdecak, respon Matteo benar-benar tidak bisa ia harapkan.
Matteo benar-benar tak peduli dan terus melangkah menjauh, terdengar suara langkah kaki yang banyak membuatnya menoleh dan melihat beberapa orang pergi ke arah yang mungkin sama dengan yang Alex tempuh.
"Hm, aku tahu kamu tidak sebodoh itu," gumam Matteo. Ia berjalan lagi menyusuri jalan di antara hutan dan gang-gang kota. Sepi dan sunyi yang paling ia sukai seperti biasanya, hal ini sering ia lakukan untuk membuatnya tenang.
Namun saat ia akan mencapai sebuah danau, matanya memicing melihat sosok di tepi danau yang tengah berjongkok sembari bermain air pelan, mungkin juga sekalian menatap cahaya bulan malam ini yang begitu indah dari pantulan air. Rambut pirang dan postur yang tentu saja sangat ia kenal.
Matteo lantas mendekat dengan pelan agar tak mengganggu, bahkan saat jaraknya hanya tinggal beberapa jengkal gadis itu tetap tak terusik. "Hazel?"
Di luar dugaan gadis yang tak lain adalah Hazel itu terkejut bukan main, tak sempat menoleh karena justru kakinya merosot oleh licin dan masuk ke air diikuti tubuhnya. Matteo juga terkejut dan panik, dengan segera meraih tangan Hazel tapi sialnya karena ia tidak menahan dengan benar, ia justru ikut jatuh ke air.
__ADS_1
Beruntungnya danau tak terlalu dalam karena mereka masih di tepi, danau yang bersih dan aman yang selalu ia kunjungi. Hazel bangun dan mengusap wajahnya, ia terdiam dengan nafas terengah menatap Matteo. "Matteo!" jeritnya, ia lalu memukul tangannya ke arah ke arah Matteo hingga membuatnya harus menutupi wajahnya dengan tangan. "Kamu mengagetkanku!"
Hazel terlihat lucu saat ini, membuatnya tanpa sadar tertawa kecil. "Maaf, aku kira kamu tidak akan terkejut."
Gadis itu cemberut lalu memukul air lagi ke arah Matteo, tanpa ia duga Matteo justru malah membalasnya. Tak percaya dengan hal itu, Hazel kembali membalas. Berakhir keduanya bermain dengan riang di air diiringi tawa yang membuatnya siapapun yang mendengarnya ikut bahagia.
Cukup lama sampai kemudian Matteo memilih untuk menyerah. "Hazel, cukup. Ayo naik, segera pulang dan ganti baju agar kamu tidak sakit."
Hazel berhenti, ia berkacak pinggan karena lelah lalu mengangguk setuju. Matteo naik terlebih dahulu untuk membantunya naik kemudian, tapi saat ia naik karena tak berhati-hati, Hazel hampir saja jatuh lagi jika saja Matteo tak buru-buru menariknya.
Tangan Matteo bahkan berada di pinggangnya tapi Hazel tak menyadari itu karena masih terkejut, tangannya menempel di dada Matteo.
Sementara Matteo hanya diam, menatap Hazel sedekat ini adalah impiannya sejak dulu. Bahkan dalam keadaan basah kuyup begini Hazel tetap manusia tercantik di matanya, sempurna. Andai saja Hazel menyadari perasannya dan memilihmya, dia pasti sudah menciumnya sejak tadi.
"Matteo, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Hazel yang langsung membuatnya tersadar, ia lalu melepaskan tangannya.
"Ah, tidak. Kamu tidak apa-apa?" Matteo balik bertanya.
Hazel mengangguk. "Aku baik-baik saja, terima kasih."
"Aku hanya ingin bermain, tadi aku melihat angsa tapi sudah hilang saat aku berjalan ke danau. Aku ke sini bersama Evie dan Celsa tapi aku suruh mereka untuk menunggu di kereta," jelas Hazel, Matteo mengangguk dan malah fokus ke kakinya yang telanjang.
"Kamu mau pangku?" tanya Matteo. "Agar kaki kamu tidak sakit."
"Tidak usah, aku baik-baik saja. Kenapa kamu ada di sini juga?"
"Aku selalu menelusuri jalan ini hampir setiap malam," jawab Matteo. Ia melihat lurus ke depan tapi pikirannya mengawang entah kemana, ia lalu kembali menatap Hazel. "Apa kamu mencintai Arzhel?"
Pertanyaan itu membuat Hazel terdiam, tampak berpikir sembari melihat ke arah bulan. "Tidak tahu, aku hanya mencoba mencintai Arzhel karena nanti kami akan menikah bukan?"
"Hazel, perjodohan itu bisa saja dibatalkan jika kamu mau," ujar Matteo.
__ADS_1
"Iya, tapi aku tidak mau mengecewakan Ayah dan Ibu. Kamu tenang saja, aku masih bisa. Aku yakin suatu hari Arzhel akan balik menyukaiku," jawab Hazel menenangkan.
Matteo justru diam, tak mereka sadari sudah hampir sampai di ujung jalan di mana kereta Hazel menunggu. Celsa dan Evie bahkan langsung mendekat dengan membawa baju tebal. "Ya ampun, Hazel. Kenapa basah kuyup begini?"
Hazel tertawa. "Aku dan Matteo jatuh ke danau, tolong berikan satu lagi untuk Matteo agar dia tidak kedinginan."
Evie mengangguk lalu memberikan mantel tebal yang ia bawa pada Matteo dengan sopan. "Kamu ke sini dengan kereta?" tanya Hazel tapi Matteo justru menggeleng. "Lalu bagaimana?"
"Tidak apa, aku jalan kaki saja. Tidak jauh," katanya.
"Ikut dulu naik ke keretaku, tidak boleh menolak ya agar kamu cepat sampai," ujar Hazel seraya naik ke kereta. Akhirnya Matteo menurut saja, lagipula badannya mulai terasa dingin sekali dan jika terlalu lama takutnya ia justru pingsan bahkan sebelum sampai di depan gerbang mansionnya sendiri.
Ia naik dan duduk di sebelah Hazel, seperti biasa gadis itu tak peduli dengan jarak dan terlihat nyaman saja. Kereta mulai berjalan untuk mengantar Matteo terlebih dahulu.
.
.
.
>> Alexa Hazetta <<
Nafasnya masih terengah meski dua orang tua paruh baya itu sudah meninggalkannya. Sial, mereka bahkan tak membiarkannya untuk melakukan rencananya dengan tenang. Mereka selalu saja menuntut hasil yang cepat.
"Aku harus segera memisahkan Arzhel dengan Hazel dan membuat perjodohan mereka batal, secepatnya aku dan Arzhel harus menikah agar aku bisa menghukum mereka berdua," katanya dengan nada menggebu-gebu.
Ia melepaskan alas kakinya dan segera masuk ke rumah sederhana itu. Hari ini benar-benar lelah, setelah dikejar penagih hutang, kedua orangtua paruh baya itu juga terus mendatanginya. Ya, mereka memang memungutnya, tapi untuk dijadikan pembantu dan diperlakukan layaknya orang luar.
Alexa memang anak yatim piatu sejak kecil, kemudian Ayah dan Ibunya yang sekarang memungutnya, ia kira mendapatkan secercah harapan untuk terus hidup tapi nyatanya memang tak semudah itu. Beruntung kemudian ia bertemu dengan Arzhel, maka harapan itu kembali lagi. Ia harus masuk dan naik menjadi bagian dari para kalangan atas. Lagipula Arzhel seperti benar-benar memujanya sampai mempermalukan Hazel di depan semua orang demi dia.
Ah, pemandangan terbaik yang pernah ia lihat.
__ADS_1
Dia berencana untuk mengambil segalanya dari Hazel termasuk sahabatnya. Namun, Matteo bahkan tak peduli sama sekali. Dia harus terus mencari cara, bagaimana mendapatkan segalanya tanpa sampai membuatnya menghilang dari gadis peran utama.
Si protagonis yang akan selalu menjadi kesayangan para pembaca.