
"Maaf aku sudah salam paham," ucap Alexa setelah mendengar semua penjelasan yang kekasihnya berikan. Barulah Arzhel menghembuskan nafas lega mendengarnya karena tangisan gadisnya itu juga sudah mulai mereda.
"Salah aku juga yang tidak memberitahumu terlebih dahulu, maaf ya," balas Arzhel seraya memeluk gadis itu. Sebenarnya dia cukup bingung, kasih sayang yang ia berikan pada Alexa seperti kasih sayang seorang kakak kepada adik. Perasaan itu sering muncul tapi terus ia tepis, ia yakin benar-benar mencintai Alexa.
Banyak rumor mengenai sifat asli Alexa sampai ke telinganya, tapi dia tidak percaya. Namun banyak juga yang bilang jika rumor itu tidak benar, Alexa adalah gadis baik yang senang menolong orang lain serta rendah hati.
Bukankah memang seperti itu biasanya seorang protagonis?
Arzhel memilih mempercayai apa yang ia lihat secara langsung, bagaimana Alexa sebenarnya dan ia yakin itu. Alexa adalah gadis yang tepat untuk ia nikahi, meski memang entah kenapa saat tadi berada dekat dengan Hazel jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.
Mungkin hanya perasaan dia saja.
"Aku takut kamu meninggalkan aku, Arzhel." Alexa cemberut, kepalanya menunduk dengan tangan yang meremat kursi yang sedang mereka duduki. Ketakutan itu jelas terpancar seperti apa yang dia bilang, Alexa memang ketakutan.
"Kenapa? Tidak ada alasan aku meninggalkan gadis sebaik kamu, Alexa," ujar Arzhel. Tangannya menggenggam tangan gadisnya erat erat, menyalurkan rasa hangat untuk menciptakan rasa tenang kembali.
Alexa mendongak dan menatap Arzhel. "Banyak, banyak sekali alasan untuk kamu meninggalkan aku Arzhel. Orang-orang benar dan bukan sebuah kemustahilan suatu hari kamu akan lebih mendengar mereka."
"Orang baik pasti akan mendapatkan apa yang seharusnya, kamu tenang saja."
Alexa terdiam beberapa saat lalu mengangguk dan Arzhel kembali memeluknya. Tatapannya jatuh ke arah Gazebo di mana kejadian tadi yang membuat ia menangis, ia menggigit bibir seiring dengan tatapannya yang berubah tajam.
Protagonis tetaplah protagonis, semua harus dia dapatkan karena sebagai protagonis ia pantas. Seluruhnya berputar padanya tanpa ada yang bisa membencinya. Tidak ada yang bisa merebut apa yang harus ia miliki, begitupun dengan Hazel.
Mungkin dia pikir Arzhel bisa di dapatkannya. Namun, antagonis tetaplah antagonis yang di mana akhir ceritanya hanya akhir yang selalu buruk. Dia bilang untuk tau diri di mana levelnya, tapi nyatanya yang tau diri harusnya Hazel yang hanya seorang antagonis yang selalu dibenci pembaca.
Maka, jangan harap dia bisa merebut Arzhel darinya.
__ADS_1
.
.
.
"AAA!!"
"Hazel!" Mereka berseru secara bersamaan, dengan segera berlari setelah mendengar suara teriakan Hazel. Gadis itu terjatuh karena terantuk batu hingga lututnya harus menggesek tanah secara kasar.
Vozie mengajak mereka kemari, ke sebuah tempat dekat jembatan. Tanah lapang yang cukup luas dan sisi-sisinya yang berhiaskan bunga. Mereka memutuskan untuk bermain kejar-kejaran, sampai akhirnya Hazel yang terlalu bersemangat sampai tidak berhati-hati terjatuh.
Celsa berjongkok untuk melihat lutut Hazel yang masih ditutupi tangannya, ia meraih tangan itu secara pelan dan terkejut melihat luka yang cukup besar hingga mengeluarkan darah. Vozie yang sama terkejutnya melihat ke arah tempat Hazel jatuh tadi dan ternyata banyak kerikil kecil di sana juga sebuah batu.
"Aku lihat ke kereta dulu apakah ada yang bisa membantu," ujar Vozie dengan cepat segera pergi. Celsa membantu Hazel untuk berdiri dan segera membawanya mendekati mata air kecil yang jernih di sana untuk membersihkan lukanya agar tidak infeksi.
"Sudah aku bilang tadi, hati-hati." Celsa mengingatkan dan Hazel malah cemberut. "Ayo kita pulang saja agar luka kamu tidak dibiarkan seperti itu terus."
"Tapi aku masih mau di sini," cicit Hazel yang sengaja memelas. Namun Celsa tetap menggeleng, maka dengan terpaksa ia berdiri dengan bantuan pelayannya itu. Mereka segera kembali ke kereta.
"Kita jemput Arzhel terlebih dahulu," ujar Vozie. Hazel tampak mengernyit karena tidak setuju dan Vozie paham itu, maka ia menambahkan, "Tidak sopan Arzhel yang membawa kamu pergi, tapi kamu pulang tanpa dia kembali memang ada keadaan mendesak."
"Ohh, ya sudah. Tapi Celsa tetap duduk denganku, kamu dengan Arzhel," jawab Hazel yang diangguki laki-laki itu. "Bagaimana kalau dia masih bersama dengan Alexa?"
"Tetap kita seret, kalau tetap tidak mau ya sudah. Berarti dia tidak peduli harga dirinya," ujar Vozie jujur dan membuat Hazel tersenyum kecil.
"Terima kasih ya sudah mengajak dan bermain denganku ke sini, aku sebenarnya ingin bermain dengan Matteo dan Morra, tapi Morra pasti masih menyembuhkan luka di pipinya, masa aku bermain dengan Matteo saja?"
__ADS_1
"Maaf Arzhel tidak mengejar kamu, aku juga tidak mengira jika dia akan lebih memilih menjelaskan dulu pada Alexa," kata Vozie terdengar merasa bersalah padahal bukan kesalahannya sama sekali.
"Tidak, memang ya aku kesal tadi. Tapi kamu juga tidak usah minta maaf karena kamu tidak salah," ujar Hazel menenangkan, Vozie tersenyum senang mendengarnha, tepat saat itu mereka sampai di tempat tadi pagi dan ternyata Arzhel serta Alexa baru keluar dari sana sembari bergandengan tangan.
"Vozie! Kenapa kamu meninggalkan kami?" Terdengar jelas dari nada bicara itu Arzhel tidak senang, Vozie malah berdecak dengan santai menanggapinya.
"Biasanya kalian tidak bisa diganggu, maka aku, Hazel dan Celsa pergi untuk bermain," jawab Vozie. "Ayo segera naik dan antar Hazel pulang lebih dulu ke rumahnya."
Alexa yang mendengarnya tampak terdiam, ia lalu menarik lengan baju Arzhel hingga laki-laki itu menoleh. "Boleh aku ikut? Aku tidak ingin ditinggalkan."
Vozie yang mendengarnya mendengus sebal. "Maaf, Nona Alexa. Tapi kereta hanya bisa muat sampai 4 orang saja, takutnya kudanya juga tidak kuat."
"Bisa saja, Alexa biar aku pangku," ujar Arzhel yang membuat Alexa senang, Hazel yang tidak mau ambil pusing memilih untuk diam saja. Sampai Arzhel masuk dan Alexa ia pangku, Vozie duduk dengan terpaksa terlihat dari wajahnya yang masam.
Kereta sudah berjalan cukup jauh pun tak ada yang membuka suara, sampai kaki Alexa yang tak sengaja menyentuh luka Hazel membuatnya meringis kecil.
Hazel menggigit jarinya untuk mengalihkan rasa perih, Celsa juga berusaha menenangkannya. Arzhel mengernyit karena merasa aneh lalu bertanya, "kamu kenapa?"
"Jatuh tadi, lututnya terluka." Vozie sengaja menjawab.
"Hazel maaf aku tidak tahu, aku tidak sengaja," kata Alexa panik.
Hazel hanya menggeleng. "Iya tidak apa, tidak usah minta maaf. Kamu tidak sengaja."
Setelahnya hening lagi, Hazel juga malas berbicara dan hanya melihat keluar selama perjalanan hingga sekarang tiba di rumahnya. Vozie pun membuka pintu pertama membantu Celsa terlebih dahulu, Alexa juga pindah agar Arzhel bisa keluar. Hazel kemudian yang terakhir turun.
Alexa memandangi dari dalam kereta bagaimana Arzhel yang menggenggam tangan Hazel sebagai formalitas. Ia berdecak, ia harus menyiapkan rencana lain.
__ADS_1