
Keduanya masih di posisi awal, Hazel yang masih terkejut dan Matteo yang baru sadar dengan apa yang dia katakan. Oh tidak, dia tidak bisa bersabar dan menunggu untuk momen yang tepat. Dia tidak terpikir apabila yang dilakukannya bisa berdampak buruk, bagaimana jika Hazel jadi membencinya? lalu menjauhinya?
Matteo dengan kikuk berhendak meluruskan hal itu, tapi siapa sangka sebuah tangan menariknya untuk pergi. itu Camorra yang entah kapan bangun dan sekarang tengah menariknya paksa dengan terburu. "Aku lupa sesuatu, Matteo! ada hal penting yang harus kita lakukan!"
Hazel juga tidak sadar jika sahabatnya itu sudah bangun dari tidurnya, ia lantas berdiri dan segera mengejar Camorra yang tengah menyeret Matteo. "Hazel, kami pulang dulu ya? sial, aku baru ingat ada hal penting yang harus kami kerjakan. Untung aku bangun tepat waktu, ayo, Matteo!" seru Camorra lagi.
"Ada urusan apa?" tanya Hazel yang mencoba untuk menyamai langkah Matteo karena Camorra berjalan dengan amat cepat sehingga dia tidak sanggup untuk menyamai langkahnya. Sementara Matteo hanya menunduk, tubuhnya seakan banjir keringat dan dia bingung harus melakukan apa.
Dia jelas masih merutuki hal bodoh yang dilakukannya tadi, bagaimana bisa dia ceroboh dan bertindak segegabah itu? Rasanya Matteo mau menangis saja, bahkan mau meluruskan saja rasanya ia tidak sanggup meski sekedar menatap wajah pujaan hatinya itu.
"Emm ... a-ayah menyuruhku untuk menghadap hari ini membawa Matteo juga, aku lupa dan malah pergi kemari," kata Camorra, sampai kemudian mereka sampai di kereta keluarga Agore barulah Camorra melepaskan cengkramannya pada Matteo.
"Kami pulang dulu ya, nanti aku kabari lagi lewat surat, dahh!" Camorra pamit begitu saja, Matteo yang masih kebingungan harus melakukan apa harus mendapat isyarat untuk segera naik lebih dulu oleh sepupunya itu, maka ia menurut saja dan segera masuk disusul Camorra kemudian.
Hazel melambaikan tangannya. "Dahh, hati-hati. Kabari aku lagi," ujar Hazel dan Camorra membalas dengan lambaian tangan juga, dilihatnya Matteo hanya diam tanpa melihat ke arahnya lahi ataupun berpamitan bahkan sampai kereta mulai berjalan untuk meninggalkan kediamannya. Laki-laki itu benar-benar tak bersuara lagi.
Terdengar suara langkah kaki mendekat dan nafas yang terengah-engah, Hazel berbalik dan melihat kedua pelayannya itu tampak kelelahan. Rupanya mereka mengejar, bahkan tangan mereka masih memegang semangkuk buah-buahan yang ia pinta untuk sajikan.
"Ada apa? kami lihat kalian saling mengejar, apa ada sesuatu?" tanya Evie dengan nafas yang tersenggal-senggal, Celsa mencoba untuk kembali ke posisinya yang tegap. Melihat Hazel, Camorra dan Matteo yang saling kejar-kejaran membuatnya panik karena takutnya ada masalah. Seharusnya mereka tetap tenang bahkan bisa menyimpan mangkuk buah itu agar tidak mereka bawa sekali demi cepat tahu apa yang terjadi.
"Morra bilang mereka punya urusan penting yang baru diingat dan mereka harus segera bergegas, nanti katanya akan mengabariku lagi lewat surat," tutur Hazel.
__ADS_1
Terdengar helaan nafas lega, sepertinya kedua pelayannya itu benar-benar mengkhawatirkannya. "Ah, aku kira antara kalian ada masalah," ujar Evie.
"Tenang saja," ujar Hazel lagi, matanya menatap ke arah dua mangkuk buah itu. "Ayo ikut aku ke ruangan tadi, kita mengobrol sambil makan buah." Evie dan Celsa seketika tersenyum lantas segera mengikuti Hazel yang mulai melangkah lagi.
.
.
.
.
"Dasar gila! kamu ini kenapa tidak sabaran sekali sih?!" bentak Camorra kesal sembari memukul Matteo dengan kipas tangannya, dia mendengar percakapan Hazel dengan sepupunya ini dan apa yang Matteo katakan benar-benar di luar dugaannya. Itulah sebabnya dia segera bangun dan disertai kebohongan kecil demi menyeret Matteo untuk pulang lebih dulu.
Kekurangannya ia terlalu mudah untuk salah tingkah apalagi jika berhadapan dengan orang yang disukainya, Hazel. Camorra tahu jika sepupunya itu menyukai Hazel sejak lama dan ia mendukung hal itu daripada Hazel dengan Arzhel. Namun karena Matteo yang terlalu takut untuk memulai, ia kalah cepat. Kabar mengenai perjodohan Hazel dengan Arzhel mendatanginya lebih dulu, membuatnya sempat putus asa hingga sebulan.
Apalagi melihat Hazel yang tampaknya begitu mencintai Arzhel, itu membuatnya makin berpikir jika tidak ada harapan lagi selain merelakan gadisnya dengan orang lain. Namun, semenjak Hazel jatuh dari tangga terjadi perubahan yang cukup besar. Dari mulai Hazel mengabaikan Arzhel bahkan sampai menamparnya kemarin membuatnya berpikir jika masih ada kesempatan baginya untuk mengejar Hazel lagi.
Bahkan jika ia harus dihadapkan dengan kedua orang tua Hazel di situasi yang berbeda kali ini, ia sanggup, sanggup untuk pingsan.
"Maki saja aku terus, Camorra. Aku memang bodoh! Ya ampun ... kenapa aku harus mengatakan hal itu sih? bagaimana aku bisa bertemu dengan Hazel lagi nanti?" Matteo benar-benar merutuki apa yang sudah terjadi, bahkan wajahnya memerah seperti menahan tangis.
__ADS_1
Justru Camorra malah mendelik melihatnya. "Mau bagaimana lagi? sudah terlanjur, kamu hadapi saja nanti."
"Tapi-"
"Lalu? kamu mau menghindari Hazel? sampai kapan? sampai tahu-tahu menikah dengan Arzhel?"serang Camorra bertubi-tubi tanpa memikirkan Matteo yang sekarang rasanya tak sanggup bahkan untuk berjalan. Gadis itu menghela nafas, lalu beralih mengipasi sepupunya. "Nanti, kamu bertemu dan luruskan semuanya apalagi mengenai kamu yang mengajak Hazel menikah secara gamblang. Tetap akui perasaan kamu dan jalani seperti biasa, semua juga tergantung respon Hazel."
Matteo terdiam, ia lalu meringis. "Bagaimana jika Hazel malah membenciku?" Nadanya benar-benar terdengar khawatir membuat Camorra juga menjadi tidak tega, apa yang ia lakukan seakan akan kesalahan besar yang akan selalu disesali selama hidupnya.
"Kamu dan aku tahu Hazel bagaimana, jangan berpikir terlalu jauh," ujar Camorra mencoba menenangkan. "Beruntung kamu tidak berbicara seperti itu saat ada Paman dan Bibi."
Matteo tiba-tiba meringis lagi, mendengar apa yang Camorra katakan membuat itu terbayang dan semakin membuatnya ingin menghilang. "Ya ampun, Camorra ...."
"Sekarang kamu tenangkan diri lagi dulu, aku akan mengirim surat pada Hazel agar dia tidak khawatir, hah ... beruntung aku langsung menyeret kamu pergi meski berbohong atau mungkin kamu sudah pingsan." Camorra turun kemudian saat kereta sudah sampai di kediamannya, banyak pelayanan yang sudah siap untuk menyambutnya.
"Terima kasih, Camorra. Aku pulang dulu," kata Matteo lesu dan sepupunya itu hanya membalas dengan anggukan. Barulah kereta kembali lagi berjalan untuk menuju ke kediaman keluarga Agore.
"Hazel, aku sudah sampai, ternyata urusannya tidak seserius itu, maaf jika membuat kamu khawatir." Camorra menoleh ke salah satu pelayannya. "Tulis itu dan kirim pada Hazel segera."
Gadis itu kemudian melenggang pergi dengan salah satu pelayan yang memayunginya dari belakang untuk menuju ke pintu utama. Biasanya jika surat yang isinya tidak terlalu rahasia, Camorra memang akan menyuruh pelayannya untuk menuliskannya, kecuali jika rahasia akan ia tulis sendiri.
Camorra tersenyum miring mengingat semua yang telah terjadi, ah ... ia begitu menyukai semua ini. Salah satu tujuannya adalah untuk menjatuhkan Alexa, sebagaimana alurnya. Dia sangat menyukai peran seperti ini, hidupnya memang serasa didedikasikan untuk meletakkan semuanya sesuai tempat, termasuk Alexa yang mestinya sadar diri.
__ADS_1
Bersyukur dia belum melakukan hal keji, dia masih menahan diri untuk waktu yang tepat.